Anggota DPRD Kota Malang Fraksi PKS Ahmad Fuad Rahman (istimewa).
Anggota DPRD Kota Malang Fraksi PKS Ahmad Fuad Rahman (istimewa).

MALANGTIMES - 28 Oktober 1928 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Karena hari itu menjadi salah satu kekuatan bagi anak-anak muda untuk merebut kemerdekaan rakyat Indonesia. 

Hari yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda itupun kemudian terus diperingati, untuk mengingatkan betapa pentingnya merenungkan dan mengambil nilai-nilai sejarah.

Baca Juga : Deretan Figur Publik Akan Ramaikan Kampanye Paslon LaDub

Di era seperti sekarang, peran serta anak muda dalam mempertahankan kemerdekaan tentu amat sangat penting. Perjuangan anak-anak muda salah satunya adalah turut terjun dalam dunia perpolitikan. Mereka kemudian dikenal sebagai kalangan milenial yang duduk di kursi legislatif.

Di Kota Malang sendiri, tak sedikit golongan milenial atau anak muda yang terpilih sebagai wakil rakyat. Salah satunya adalah Ahmad Fuad Rahman, politisi muda PKS yang kini duduk di Komisi C DPRD Kota Malang.

Sebagai salah satu tokoh pemuda, menurutnya setiap pemuda di Indonesia memiliki tanggungjawab yang sama untuk menjaga keutuhan bangsa ini. Karena melihat kenyataan dalam sejarah, anak-anak mudalah yang telah berperan penting dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Bukan hanya Sumpah Pemuda, tapi juga berbagai pergerakan untuk merebut kemerdekaan bangsa ini.

"Sejarah mencatat bahwasanya pemuda memiliki peran penting dalam kemerdekaan bangsa Indonesia," katanya, Rabu (38/10/2020).

Sebagai bangsa yang besar, lanjutnya, peran pemuda sangat dibutuhkan untuk selalu menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Sebab maju dan mundurnya sebuah bangsa dan negara berada di tangan pemuda. Rusak tidaknya sebuah agama juga berada di tangan pemudanya.

"Maka dari itu, semangat membara yang dimiliki para generasi pemuda, tentu menjadi modal kemajuan bagi sebuah bangsa," tegasnya.

Memperingati hari sumpah pemuda menurutnya bukan hanya sekadar acara ataupun pesta. Namun ada makna besar yang tersirat di dalamnya, yaitu bagaimana menghadirkan semangat para pendahulu yakni para pemuda yang berjuang merebut kemerdekaan dari para penjajah.

Jika para pemuda dahulu berjuang dengan tetesan darah merebut kemerdekaan, maka sepantasnya generasi muda saat ini wajib menjaga dan merawat kemerdekaan tersebut. Beda budaya, beda suku, beda bahasa bukan sebuah halangan bersatu padu untuk Indonesia yang lebih maju.

"Berbeda tidak menghalangi saling bekerja sama  demi kemajuan bangsa Indonesia," terangnya.

Baca Juga : Wasekjen PA 212 Klaim Habib Rizieq akan Pulang ke Indonesia saat Maulid Nabi

Hal paling prinsip yang harus dimiliki oleh pemuda saat di era kemajuan teknologi seperti sekarang menurutnya adalah ilmu pengetahuan. Karena tanpa ilmu, tidak mungkin sebuah perubahan ataupun cita-cita  terwujud.

Menurutnya, ilmu adalah jendela dunia, dan ilmu adalah modal utama untuk membuat perubahan itu bisa terwujud. Dalam pandangan Islam pun memberikan kedudukan yang tinggi bagi para pemuda sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda jika seseorang tidak akan dapat mencicipi hidup sempurna di masa tua, melainkan dengan mempergunakan dan memanfaatkan masa mudanya.

"Dalam pepatah arab dikenal dengan slogan himmatul rizal tasqutu jibal (semangat seorang pemuda bisa menaklukkan sebuah pegunungan)," terangnya.

Karena menurutnya, masa muda adalah masa yang diidentikkan dengan jiwa yang semangat dan membara, optimis yang tinggi, percaya diri, memiliki impian dan cita-cita yang besar. Maka tak heran bila sebuah bangsa sangat mengharapkan dedikasi dari para generasi sebagai estafet penerus para pendahulu karena pemuda adalah ujung tombak perubahan.

Lebih jauh Ketua Gema Keadilan Jawa Timur itu juga menyebut jika ada banyak contoh para pemuda Islam yang hebat yang bisa menjadi tauladan. Dengan semangat mereka di usia muda bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi para generasi muda saat ini untuk menghadirkan semangat membara mereka.

Diantaranya seperti Umar bin Abdul Aziz usia 22 tahun menjadi gubernur madinah, Muhammad Al-Fatih usia 22 tahun sudah menjadi sultan dan mampu merebut konstantinopel pada usia 24 tahun. Adapun di masa kontemporer, dikenal sosok pemuda seperti Hasan Al-Banna seorang pemuda yang memelopori  “al ikhwan al musmilin” sebagai wadah pergerakan kepemudaan yang berpengaruh di dunia.

"Kita berbeda, tapi tetap Bhineka Tunggal Ika. Selamat Hari Sumpah Pemuda untuk kita semua," pungkasnya.