Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Masyarakat tanah air tengah memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober. Di momen ini, para pemuda ditantang harus lebih kuat dalam memberikan kontribusi pembangunan bagi negara.

Terlebih di era serba digital, para pemuda dituntut lebih kreatif dalam menghasilkan apa saja untuk menguatkan industri ekonomi kreatif.

Baca Juga : Tak Ingin Wisatawan Pulang Bawa Oleh-Oleh Covid-19, Wali Kota Malang Lakukan Ini

 

Wali Kota Malang Sutiaji menilai, para pemuda di Kota Malang memiliki jiwa kreatif yang luar biasa. Di samping juga tak takut untuk mengkritisi apa yang dinilai keliru dengan tatanan pemerintahan.

Sebagai contoh, saat aksi protes penolakan Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang dalam kurun waktu hampir satu bulan terakhir ini masih terus digaungkan.

"Pemuda Kota Malang ini kreatifnya luar biasa. Saya mempunyai kepercayaan Malang ini keunikannya luar biasa. Dia (pemuda) akan nyinyir dengan kebijakan ketika kebijakan itu tidak pro pada rakyat. Tapi di saat pemerintahan berjalan dengan baik, mereka juga mendukung," ujarnya.

Selain itu, Sutiaji menilai pemuda di Kota Malang memiliki potensi yang luar biasa terkait pemanfaatan digitalisasi. Hal itu dilihat dari banyaknya bermunculan start up-start up maupun pelaku usaha dengan usia muda yang berkecimpung diranah industri kreatif.

"Ini tantangan, dengan lonjakan usia-usia produktif yang luar biasa di Indonesia. Ini menjadi kekuatan di saat kita terampil, kita akan menjadi primadona berkaitan dengan masalah kreatif," imbuhnya.

Di sisi lain, saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bersama legislatif tengah menggodok pembahasan Ranperda Kepemudaan. Yang mana, di dalamnya akan terdapat sarana prasarana dan fasilitasi para pemuda untuk bisa lebih memberikan ruang kreasi lebih baik lagi.

Baca Juga : Wajib Suguhkan Data Informasi, 80 Persen Kegiatan Kota Malang Sudah Dimasukkan di SIPD

 

"Bagaimana di sini daerah bisa menjadi tempat pemuda. Di sana akan ada kegiatan, sarana prasarana bagi pemuda di Kota Malang. Penting hal ini ketika bisa dimanfaatkan secara baik," terangnya.

Meski begitu, para pemuda juga diharapkan mampu memfilter akan masuknya budaya-budaya ke Indonesia. Terlebih berkaitan dengan informasi berbasis digitalisasi. Sehingga tidak mudah percaya akan adanya hoax. 

"Tantangan lainnya, pemuda harus bisa memfilter budaya karena saat ini luar biasa. Banyak yang antara hoax dan kebenaran gampang percaya hoax. Ini semacam degradasi penurunan nilai-nilai patriotisme. Pemuda harus bisa menyaring dan menjadi yang terdepan dalam hal ini," tandasnya.