(dari kiri) Doktor baru di UIN Malang Ubaidillah Canu dan Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg foto bersama usai ujian promosi. (Foto: istimewa)
(dari kiri) Doktor baru di UIN Malang Ubaidillah Canu dan Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg foto bersama usai ujian promosi. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) kembali lahirkan doktor baru dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Selasa (20/10/2020). Kali ini, penelitian yang diangkat cukup menarik, yakni berkaitan dengan konflik sosial di Poso oleh Ubdaidillah Canu.

Judul disertasi Canu yakni Konstruksi Moderasi Islam dalam Menangkal Ekstrimisme Keagamaan (Studi Kasus di Lembaga Perguruan Alkhairaat Palu).

Baca Juga : Banyak Ikan Minggir, Nelayan Pantai Sine Tulungagung Panik dan Berhamburan Mengungsi

Penelitian Canu ini berangkat dari problem sosial di Poso. Dia mempertanyakan, mengapa konflik sosial ini seolah-olah tak ada ujungnya, padahal sudah berlangsung selama 22 tahun. "Konflik sosial yang terjadi di Sulawesi Tengah, letak geografisnya yaitu di Poso itu sudah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama 22 tahun. Kemudian muncul sebuah pertanyaan kenapa konflik ini seolah-olah seperti tidak ada ujungnya. Padahal sudah banyak sekali pendekatan yang digunakan pada waktu itu," ucapnya kepada MalangTIMES.

Ia menjelaskan, konflik ini juga harus dilihat secara terpisah. Riset-riset yang ada selama ini, kata dia, selalu melihat bahwa konflik Poso yang sekarang terjadi dengan munculnya Mujahidin Indonesia Timur (MIT) ini adalah kelanjutan dari konflik iman di masa lalu. Padahal, kata dia, ini adalah sebuah argumentasi yang harus dibelah.

"Jadi memang harus dijelaskan dengan fragmen yang terpisah. Jadi yang ada sekarang ini adalah sebuah konstruksi konflik yang baru yang terpisah dari konflik yang ada sebelumnya," terang pria yang lahir pada 27 November 1992 tersebut.

Untuk diketahui MIT adalah sebuah kelompok militan Islam yang beroperasi di wilayah pegunungan Kabupaten Poso dan bagian Selatan Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah di Indonesia. Setelah Santoso meninggal, pemimpin kelompok ini adalah Ali Kalora. Kelompok ini telah menyatakan sumpah setia kepada negara Islam Irak dan Syam. MIT secara umum melakukan operasi mereka di daerah Sulawesi Tengah tetapi mereka juga mengancam untuk menyerang target mereka di seluruh Indonesia.

Canu menyatakan, moderasi merupakan instrumen mitigasi terorisme atau instrumen mitigasi ekstrimisme yang bisa menjadi sebuah tawaran konseptual dan tawaran operasional untuk tujuan penyelesaian konflik di sana. "Jadi pendekatan militerisme yang sampai hari ini dilakukan ini saya pikir gagal karena ini sudah berlangsung 22 tahun," ungkap Alumni IAIN Palu ini.

Maka dari itu, lanjutnya, seharusnya ada pendekatan lain yang bisa dilakukan tanpa menggunakan instrumen militer. Misalnya, dengan menggunakan pendekatan kebudayaan, pendekatan keagamaan, atau pendekatan pendidikan. "Karena memang ekstrimisme ini konsep pemikiran tentang sebuah motivasi Islam politik yang melembaga dalam sebuah bentuk gerakan sosial, namanya MIT," jelasnya.

Baca Juga : Wagub Jatim Ajak Ormas Sukseskan KEK Jatim di Singosari Malang

Maka dari itu, kata dia, moderasi diharapkan menjadi sebuah tawaran baru bagi upaya pengendalian sekaligus penyelesaian konflik di Poso, Sulawesi Tengah.

Lantas bagaimana penerapannya? Pria yang lahir di Palu itu menjelaskan, terdapat dua cara, yakni cara yang bersifat preventif dan cara yang bersifat rehabilitatif. "Yang bersifat preventif itu adalah kelompok-kelompok yang belum sampai masuk pada level sebagai kombatan sebagai teroris di situ," terangnya.

Pendekatan preventif itu bisa melalui pendekatan pendidikan hingga pendekatan dakwah. Itu artinya, kata dia, perlu adanya kerja sama lintas instansi. "Untuk yang rehabilitatif ini adalah eks-eks kombatan yang sudah ditangani oleh Alkhairaat di situ," tandasnya.