Massa aksi unjuk rasa tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja mengepung kawasan depan Gedung DPRD Kota Malang, Selasa sore (20/10). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Massa aksi unjuk rasa tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja mengepung kawasan depan Gedung DPRD Kota Malang, Selasa sore (20/10). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Hingga pukul 15.30 WIB, aksi unjuk rasa (unras) yang dilakukan ribuan massa masih berlanjut di kawasan Alun-Alun Tugu Kota Malang. Demonstrasi menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law itu digelar Solidaritas Perjuangan Buruh Indonesia Komite Pusat Kota Malang dan mahasiswa, Selasa (20/10/2020).

Sebelumnya, massa menyuarakan aksi penolakan Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja itu sempat mengepung kawasan Rajabali, Kota Malang dari pukul 13.05 WIB. Kejadian tersebut, molor dari yang dijadwalkan pukul 07.00 WIB.

Baca Juga : Polisi Sudah Pasang Kawat Berduri di Gedung DPRD hingga Balai Kota

Molornya aksi yang dilakukan pendemo ini mendapat toleransi dari pihak aparat penegak hukum Polresta Malang Kota. Dalam hal ini, para demonstran yang ingin menyuarakan aspirasinya di kawasan Gedung DPRD-Balai Kota Malang dibatasi hingga pukul 17.00 WIB sore ini.

"Kami mengingatkan, ada batas waktu untuk menyampaikan aspirasi. Namun, tetap kami layani. Dan prinsipnya, kami tidak menutup akses untuk menyalurkan pendapat, tetap ditunggu," ujar Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata.

Personel gabungan TNI/Polri yang telah disiapkan sebanyak 3.000 orang juga terus bersiaga di sejumlah titik. Mulai dari Stadion Gajayana tempat titik kumpulnya demonstran, di kawasan Simpang Empat Rajabali, hingga di kawasan sekitar Alun-Alun Tugu Kota Malang.

"Pasukan pengamanan kami sejumlah 3.000 orang, terdiri dari TNI dan Polres jajaran, dari Lumajang, Mojokerto, Pasuruan hingga Bondowoso. Kami juga melakukan penyekatan di batas kota Adi Putro dan Stasiun Malang," imbuhnya.

Baca Juga : Titik Kumpul Pendemo di Kota Malang Masih Sepi

Pantauan dari MalangTIMES, massa aksi yang diperkirakan sejumlah 3.000 orang dari buruh dan mahasiswa ini hingga kini cukup tenang dan menyampaikan aspirasi penolakan UU Cipta Kerja tanpa membuat gaduh seperti aksi demonstrasi yang terjadi pada 8 Oktober 2020 lalu.

Leo mengimbau, untuk tetap menjaga kondusifitas jalannya aksi dengan damai dan tertib. "Pemberitahuan kepada kami hanya satu hari saja di Malang (aksi unras tolak Omnibus Law). Saya tegaskan, saling jaga tapi jangan beradu," tandasnya.