Menteri Kesehatan Terawan Agus (Foto: Kompas.com)
Menteri Kesehatan Terawan Agus (Foto: Kompas.com)

MALANGTIMES - Keberadaan Menteri Kesehatan Terawan Agus hingga kini masih membuat penasaran publik. Pasalnya, selama pandemi Covid-19 Terawan tak pernah muncul di hadapan publik.  

Terakhir, saat diundang di program Mata Najwa, Terawan juga tak hadir. Sehingga Najwa Shihab sebagai pembawa acara pun melakukan aksi monolog berbicara dengan kursi kosong.  

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Kemenpan RB Arahkan Pelayanan Publik Berbasis Teknologi Informasi

Lantas benarkah saat ini Terawan tengah sibuk membuat rumah sakit khusus obat tradisional? Kabar itu awalnya disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy.  

Muhadjir mengaku jika ia mendukung kebijakan Terawan untuk menjadikan sejumlah rumah sakit yang pengobatannya khusus obat-obatan tradisional.  

"Saya dukung kebijakan Pak Menkes yang akan menjadikan beberapa rumah sakit khusus hanya gunakan obat tradisional untuk pelayanan kepada pasien," kata Muhadjir dalam sambutan acara Pertemuan Nasional Manajemen Fasilitas Kesehatan 2020 yang disiarkan melalui YouTube, Rabu (14/10/2020).  

Kendati demikian Muhadjir menyadari kebijakan itu nantinya akan menimbulkan pro kontra dari beberapa pihak.  

Namun, kata Muhadjir, agar kebijakan ini bisa terlaksana tentu diperlukan keberanian untuk menjalankannya.  

"Ini harus ada keberanian dan namanya keberanian itu biasanya akan, langkah yang besar itu biasanya akan mendapat reaksi (pro dan kontra) dan orang yang sakinah yang punya keteguhan hati karena yakin bahwa apa yang dia lakukan benar itu pasti tidak akan goyah dengan berbagai reaksi itu," lanjutnya.  

Selain itu, ia juga menyinggung terkait kunjungannya ke kawasan Karanganyar dan Sukohardjo, Jawa Tengah.  

Baca Juga : Kemenpan RB Minta Inovasi Pemkab Malang Bisa Diterapkan di Daerah Lain

Lantaran saat kunjungan tersebut, ia sempat meninjau industri tanaman obat tradisional yang dikelola oleh petani lokas.  

Ia pun mengapresiasi kinerja petani meski diakuinya industru itu belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Lanjut Muhadjir, jika sektor obat tradisional itu bisa digerakan tentu bisa mencapai pendapatan maksimal bahkan masuk dalam industri impor Indonesia.