Masker Bekas Jangan Dibuang Sembarangan, Ini Anjuran dari Kadinkes

Oct 07, 2020 15:15
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo saat ditemui awak media di lingkungan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Rabu (7/10/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Arbani Mukti Wibowo saat ditemui awak media di lingkungan Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Rabu (7/10/2020). (Foto: Tubagus Achmad/MalangTimes)

MALANGTIMES - Masih banyak masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Malang, yang kerap kali membuang masker bekas pakai. Baik masker kain maupun medis. 

Sayangnya, tata cara membuang masker bekas pakai, kerap juga tak sesuai petunjuk kesehatan.

Baca Juga : Kasus Covid-19 di Kota Malang Menurun Signifikan

Padahal, terdapat beberapa cara petunjuk kesehatan yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh masyarakat jika akan membuang sampah masker bekas agar tidak menyebarkan virus ke orang lain.

Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo, menjelaskan, bahwa masker yang meskipun bukan tergolong limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun), akan tetapi terdapat tahapan yang harus dilakukan masyarakat ketika akan membuang sampah masker bekas pakai.

"Sebelum dibuang harus di cacah dulu. Supaya tidak disalahgunakan, agar tidak diperjualbelikan kembali. Makanya, saya miris kalau melihat ada masker yang dibuang begitu saja di jalan," jelasnya ketika ditemui awak media di Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Rabu (7/10/2020).

Cara tersebut selain untuk menghindarkan diperjual belikan kembali, juga dapat membantu para petugas kebersihan ketika melakukan pengelolaan sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Arbani mengatakan, bahwa setelah dilakukan pencacahan terhadap masker bekas pakai, masyarakat agar melakukan sterilisasi terlebih dahulu sebelum dibuang.

"Dilakukan desinfeksi dulu, di cacah, di rendam dalam larutan klorin atau pemutih, kemudian dibuang. Seperti bagaimana memperlakukan botol bekas infus. Jadi, masker ini bukan limbah B3, sama seperti infus," terang pria yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini.

Sementara terkait sampah medis yang tergolong B3 untuk kesehatan, Arbani memberikan contoh seperti selang infus, jarum, kapas, kasa bekas perawatan dan potongan jaringan-jaringan bekas operasi.

Pria yang memiliki tempat praktek dokter gigi di sekitar Kota Malang ini memberikan langkah-langkah antisipasi untuk masyarakat dalam membeli masker medis maupun masker kain.

Langkah-langkah antisipasi tersebut dilakukan agar masyarakat selalu waspada dan terhindar dari peredaran persebaran jual beli masker medis maupun masker kain bekas.

Baca Juga : Kampanye Disiplin Protokol Kesehatan, PWI Malang Raya Bagi Ribuan Masker

 

"Kalau takut yang kita beli itu masker bekas, harus di cuci dulu sebelum dipakai. Imbauan saya, kalau ditengarai ada masker bekas yang dijual ulang, sebaiknya beli masker yang tiga lapis, kemudian cuci," ungkapnya.

Hal itu dilakukan, karena sebagai pembeli masyarakat tidak mengetahui apakah yang membuat masker kain tersebut terhindar dari virus, utamanya Covid-19. Maka dari itu Arbani mengimbau agar mencuci terlebih dahulu masker kain tersebut.

"Sebaiknya memang kalau beli atau diberi, wajib di cuci," tegasnya.

Karena jika masker bekas pakai dijual oleh oknum-oknum pedagang yang tidak bertanggungjawab, akan memiliki potensi penyebaran virus yang lebih cepat terhadap masyarakat luas.

"Kalau masker bekas dijual kembali tanpa dilakukan desinfeksi, kemudian yang bersangkutan mantan pemilik masker memiliki penyakit dan ada virus di masker itu, pengguna baru akan terjangkit," jelasnya.

Sebagai informasi, bahwa disampaikan oleh Arbani virus yang bertahan dan terdapat pada masker kain akan lebih lama menetap, yakni 12 jam. 

"Kalau di kain kan hitungannya kemarin bisa bertahan sampai 12 jam," pungkasnya.

Topik
berita Kabupaten Malang hari iniDinkes Kabupaten MalangMASKER

Berita Lainnya

Berita

Terbaru