Prof Abdul Al Haris Al Muhasibiy
Prof Abdul Al Haris Al Muhasibiy

Ayahku seorang prajurit tentara Indonesia.

Berangkat ke Surabaya karena seruan kiyai/ulama.

Menjadi pejuang bebaskan Indonesia dari penjajah Belanda.

Ibuku seorang yang taat beragama dan suka sekali berderma.

Bahkan bersedekah mengalahkan kepentingan keluarga.

Aku sangat-sangat bangga dengan mereka berdua.

Meski hanya orang kecil dan tamat pendidikan dasar belaka.

Mereka mendidiku dengan sangat kuat menjadi orang beretika.

Sikap berani dan jujur apa adanya tanpa rekayasa.

Meski belum bisa menyontoh seperti ibu dan ayah sepenuhnya.

Namun tarbiyah mereka berdua sangatlah mengunjam ke dalam jiwa.

 

Aku sangat menghormati kedua orang tua.

Andai boleh pastilah mereka aku sembah.

Bahkan kugendong di punggungku sepanjang masa.

Sayang belum bisa membalas apa-apa mereka sudah meninggal dunia.

Walau pun sudah tidak ada di dunia, mereka tetap menjaga saya dan keluarga.

Apalagi jika menghadapi sesuatu yang sulit atau musykilah.

Mereka datang menghibur dan menjaga saya sekeluarga.

Bahkan selalu ingatkan agar saya dan keluarga berusaha bertakwa.

 

Beda keluarga mertua hampir semua kiyai.

Ada kiyai Zayadi dan nyai Raden Masmirah.

Bahkan masih keturunan Jaka Tingkir dari kiyai Jabbar katanya.

Kiyai Husen seorang yang menjadi hakim agama.

Kiyai M. Ya'kub kepala KUA dan Nyai Syamsiyatun Ni'mah.

Mertua yang sangat bangga kepada menantunya.

Bahkan membelikan beberapa rumah dan membangunya juga.

Mereka bangga punya menantu menjadi dosen meski belum apa-apa.

 

Jika saja ada sedikit prestasi yang aku capai.

Bukan karena kepinteran dan   bukan aku lihai.

Bukan pula karena kerja keras yang selalu kujalani.

Aku yakin tidak lain tidak bukan karena mereka orang tua yang sudah mati.

Mereka masih saja hadir dalam hidup dan dalam mimpi-mimpi.

Mereka terus mendampingi tanpa sebentar pun berhenti.

Sayang aku tidak pernah sedekah untuk menyelamati.

Bahkan kurang juga memberi hadiah dan seperti mentahlili.

Bahkan sering lupa menyebut mereka dalam do'a saya sehari-hari.

 

Itulah aku yang sebenarnya.

Bukan orang hebat seperti yang dikira.

Sedikit saja ayahku mengirim ke pesantren waktu muda.

Ke pondok pesantren At Taufik dan Tebuireng dan sekolah di MTsN dan SMA.

Mengambil jurusan IPA biar menjadi saintis anganya.

Baca Juga : Sakit Menahun, Dapat Melihat dan Mendengar Salam Malaikat

 

Namun justru mengambil PBA ketika kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN SA Malang Raya.

Bukan menjadi dokter atau ahli fisika dan ahli kimia.

Bukan juga menjadi ahli nuklir seperti harapan waktu siswa.

Untung bertemu dengan kiyai Ahmad Mudlor, Mudlor Ahmad dan kiyai Masduki serta lainya.

Jadinya seperti sekarang ini untung ikut gerakan mahasiswa.

Menjadi aktivis sampai-sampai tidak ada waktu yang terlupa.

Hampir semua kesempatan untuk kegiatan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

 

Kalau pun menjadi profesor dan rektor UIN Maliki.

Tidak pernah kebayang apalagi mengatur-ngatur strategi.

Hanya saja terpanggil karena tetap diakui sebagai seorang alumni.

Bahkan dimintak orang untuk kembali dan berkontribusi memperbaiki.

Sekuat tenaga aku lakukan terutama membantu para pegawai.

Kuatkan SDM yang perlu untuk menjadi UIN Maliki yang bereputasi tinggi.

Hanya harapan saya kepada mereka para dosen yang muda dan mudi.

Semoga siap melanjutkan kepemimpinan di UIN Maliki.

Dengan bertindak lebih smart dan kuatkan rasa untuk memiliki.

Biar menjadi UIN Maliki yang tidak ada yang menandingi.

 

Itu saja tentang siapa saya sebenarnya.

Anak seorang prajurit tentara dari sisi kehidupan yang sangat sederhana.

Namun amat menghormati orang tua dan guru-gurunya sepanjang masa.

Bahkan siap menjadi budak untuk mereka sampai kapan pun jua.

Seperti yang diajarkan oleh Sayidina Ali karramallahu wajhah.

--------------------------------------------

'Abd Al Haris Al Muhasibiy