Sutiaji saat melihat  pembuatan batik tulis di  RW 03 Kelurahan Sukun. (Hendra Saputra)
Sutiaji saat melihat pembuatan batik tulis di RW 03 Kelurahan Sukun. (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - RW 03 Kelurahan Sukun menuai apresiasi Wali Kota Malang Sutiaji.  Pasalnya, RW 03 Sukun mampu menjadi kampung percontohan pelestarian lingkungan dan warganya menekuni batik tulis sehingga diharapkan bisa menularkan kepada masyarakat lain di 'Bhumi Arema'.

Pada perayaan World Cleanup Day (WCD) 2020, Sutiaji memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada RW 03 Kelurahan Sukun yang tetap istikamah menjaga kualitas lingkungannya. "Jadi, RW 3 ini satu yang saya apresiasi, Pak RW dan masyarakat RW sini, ada Pak RT ada seluruh masyarakat, ternyata mampu melestarikan. Mulai tahun 2012 sampai saat ini tetap bahwa ini kampung pertama yang bisa menjadi contoh bagi masyarakat Kota Malang," ungkap Sutiaji.

Baca Juga : Film Pendek yang Ditulis Wartawan MalangTIMES Melanglang di Festival Film Internasional

Menurut Sutiaji, sesuatu yang sudah dilakukan oleh RW 03 Kelurahan Sukun merupakan sebuah kebiasaan. Sehingga masyarakat akan sangat mudah untuk melakukan kegiatan yang bersifat positif untuk melanjutkan apa yang sudah ada saat ini. "Saya apresiasi karena ini sudah menjadi perilaku masyarakat yang tidak dibuat-buat. Susah kalau kita bisa berjalan sampai sekian tahun itu tanpa adanya kebiasaan," kata dia.

Di sisi lain, Sutiaji juga mengapresiasi ibu-ibu RW 03 Kelurahan Sukun yang tekun membuat batik tulis. Ketekunan tersebut bisa dilihat dari hasil karya seni mereka yang ditonjolkan pada perayaan Hari Batik Nasional yang dirayakan di TPU Sukun atau Kuburan Londo yang dikelola UPT Pengelolaan Pemakaman Umum (PPU) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang.

Sama halnya dengan lingkungan, Sutiaji juga berharap agar ibu-ibu yang menekuni dunia batik ini bisa lebih giat lagi. Sebab, bagaimanapun, peningkatan ekonomi bisa didorong dengan kreativitas. Salah satu contohnya pembuatan batik tulis yang nantinya bisa dipasarkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

"Saya mengapresiasi hal ini. Tinggal bagaimana ini terus dikembangkan tidak hanya sekadar menjadi batik, namun bisa menjadi batik ciri khas Malang, sehingga nantinya bisa menjadi nilai tambah warga Sukun. Ini saya lihat hasilnya luar biasa," pungkasnya.