Zoom meeting rilis inflasi BPS Kota Malang September 2020 (tangkapan layar)
Zoom meeting rilis inflasi BPS Kota Malang September 2020 (tangkapan layar)

MALANGTIMES - Kota Malang mengalami deflasi keempat kalinya yakni pada Maret, April, Agustus dan September 2020. Hal tersebut disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang pada konferensi pers Kamis (1/10/2020) secara virtual. "Deflasi pada September ini merupakan yang keempat kalinya. Sebelumnya deflasi juga terjadi pada bulan Maret, April, Agustus 2020," kata Kepala BPS Kota Malang, Sunaryo.

Pada September 2020 ini, BPS Kota Malang menyatakan bahwa Kota Malang tercatat mengalami deflasi sebesar 0,05 persen yang didorong adanya penurunan pada kelompok pengeluaran transportasi, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau, masing-masing sebesar 0,30 persen, dan 0,22 persen. "Dua kelompok itu yang memberikan andil besar terhadap deflasi Kota Malang," sebutnya.

Baca Juga : Aglonema hingga Janda Bolong Akan Ramaikan Pameran Virtual Bunga Terbesar di Malang

Pada kelompok pengeluaran lain yang menyumbang deflasi Kota Malang, Sunaryo menjelaskan penurunan pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, yang tercatat sebesar 0,01 persen. Namun juga ada kelompok pengeluaran yang menjadi penghambat deflasi di antaranya adalah kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik atau mengalami inflasi sebesar 0,33 persen.

Selain itu, juga ada kelompok perawatan pribadi, dan jasa lainnya naik sebesar 0,16 persen, kesehatan naik 0,13 persen, pakaian, dan alas kaki naik 0,03 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen, dan penyedia makanan, dan minuman restoran naik 0,01 persen.

"Ada (juga) dua kelompok pengeluaran yang (masih) tetap, atau tidak mengalami kenaikan maupun penurunan seperti kelompok pengeluaran air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, serta kelompok pengeluaran pendidikan," ungkap Sunaryo.

Sunaryo menambahkan, jika dilihat dari komoditasnya, penyumbang deflasi Kota Malang adalah penurunan harga tiket pesawat yang mencapai 3,71 persen, daging ayam ras 2,0 persen, telur ayam ras, 4,29 persen, cabai rawit 12,89 persen, dan emas perhiasan turun 0,69 persen.

Untuk komoditas penghambat deflasi, Sunaryo menjelaskan ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga seperti bawang putih sebesar 8,43 persen, sepeda motor naik 0,85 persen, bawang merah 3,37 persen, dan minyak goreng naik sebesar 0,66 persen.

Baca Juga : Penjualan Turun 75 Persen, Pedagang Pasar Besar Kota Malang Gelar Doa Bersama

Lanjut Sunaryo, dalam sepuluh tahun terakhir Kota Malang mengalami inflasi terendah pada tahun 2020 ini. "Tercatat, inflasi tahun kalender Kota Malang pada periode Januari hingga September 2020 sebesar 0,83 persen, sementara untuk inflasi Years on Years (YoY) sebesar 1,22 persen," paparnya.

Sementara itu utara wilayah lain di Jawa Timur, sebagian besar mengalami deflasi, seperti Kota Probolinggo sebesar 0,35 persen, Kota Surabaya 0,18 persen, Banyuwangi 0,17 persen, Sumenep 0,12 persen, Kota Madiun 0,02 persen, dan Jember 0,01 persen. Dan hanya Kota Kediri yang mengalami inflasi yakni sebesar 0,15 persen.