Ilustrasi (Istimewa).
Ilustrasi (Istimewa).

MALANGTIMES - Isu bencana alam kembali berembus. Wilayah Jawa Timur disebut-sebut menjadi salah satu kawasan yang berpotensi mengalami gempa yang memicu tsunami seringgi 20 meter.

Itulah hasil riset yang dilakukan ITB (Institut Teknologi Bandung). Namun, riset tersebut diharapkan tidak membuat masyarakat panik. Sebaliknya riset itu menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi bencana gempa bumi maupun tsunami.

Baca Juga : Cek Kebiasaan Warga, DLH Kota Malang Manfaatkan Momen Kampung Bersinar

Di Kota Malang sendiri, upaya mitigasi telah dilakukan. Salah satunya dengan membentuk kelurahan tangguh bencana. Dari total 57 kelurahan, sekitar 45 kelurahan sudah ditetapkan sebagai kelurahan tangguh bencana.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Ali Moelyanto menyampaikan, sejak 2016 hingga saat ini, sudah 79 persen kelurahan di kota Malang yang menjadi kelurahan tangguh bencana. Dengan berbagai upaya, seluruh kelurahan ditargetkan menjadi kelurahan tangguh bencana pada 2022 mendatang. "Saat ini ada sekitar 45 kelurahan yang ditetapkan sebagai kelurahan tangguh bencana," ujarnya.

Pembentukan kelurahan tangguh bencana itu elah sesuai dengan Perpres Nomor 87 Tahun 2020 tentang rencana induk penanggulangan bencana tahun 2020-2024. Sedangkan visi penanggulangan bencana adalah mewujudkan Indonesia tangguh bencana untuk pembangunan berkelanjutan.

Selain itu, Alie menjelaskan bahwa makna tangguh bencana yaitu mampu menahan, menyerap, beradaptasi dan memulihkan diri dari akibat bencana serta perubahan iklim secara tepat waktu, efektif dan efisien. "Dan kelurahan tangguh bencana dalam hal ini dibentuk dan harus berperan dalam menghadapi kemungkinan bencana," terangnya.

Sementara itu, dari catatan terakhir BPBD, selama Agustus 2020 tercatat ada 15  bencana, baik alam maupun non-alam. Rinciannya, 42 persen adalah kejadian kebakaran, 23 persen kejadian pohon tumbang, 18 persen kejadian tanah ambles, dan 17 persen kejadian angin puting beliung.

Kejadian kebakaran masih mendominasi bencana alam yang terjadi di Kota Malang. Setidaknya ada tujuh kejadian kebakaran dengan rincian empat kebakaran bangunan, dua kebakaran lahan, dan satu sisanya kebakaran kendaraan. Kebakaran bangunan terjadi karena korsleting listrik dan beberapa di antaranya faktor kelalaian manusia.

Sementara untuk bencana hidrometeorologi seperti angin kencang dan genangan air juga ikut menjadi salah satu bencana pada kemarau kali ini. Hal ini terjadi karena adanya fenomena gelombang ekuator rossby di Laut Jawa yang berperan terhadap pembentukan awan hujan.

Baca Juga : Iuran BPJS Ketenagakerjaan Diskon 99% hingga Januari 2021

Keadaan tersebut diperparah dengan adanya gelombang madden julian oscillation, yaitu sebuah gelombang atmosfer yang membawa massa udara basah dari barat ke timur.

Kemudian pohon tumbang selama Agustus tercatat sebanyak tiga kejadian. Pohon tumbang terkonsentrasi di wilayah Kecamatan Klojen. Penyebab utamanya adalah akar dan batang yang sudah lapuk dengan ditambah cuaca yang cukup berangin.

Sedangkan tanah ambles terjadi di Kelurahan Gadang, Kecamatan Sukun. Kejadian diawali dengan lubang kecil pada  Juli 2020 lalu.