Meeting online (Foto:  Nyaatech)
Meeting online (Foto: Nyaatech)

MALANGTIMES - Pada masa pandemi covid-19, beberapa kegiatan telah dibatasi.   Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk mencegah penularan covid-19.  

Salah satu kegiatan yang saat ini dibatasi ialah perkantoran. Kondisi itu membuat para karyawan tidak bisa untuk saling bertatap muka secara langsung.  

Baca Juga : Dua Minggu Jelang Ulang Tahun, Pria di Malang Ini Malah Akhiri Hidup

Sehingga mereka memutuskan untuk melakukan meeting online ketika ada yang perlu dibahas. Meeting online bisa dilakukan melalui beberapa aplikasi lewat ponsel ataupun laptop.  Mereka pun bisa saling melihat wajah satu sama lain di saat meeting online berlangsung.  

Namun siapa sangka, dilansir melalui laman Glamour, meeting online yang dilakukan secara berlebihan dinilai justru bisa memicu gangguan kesehatan mental dan citra tubuh seseorang.  Hal ini lantas dijelaskan oleh Der Martina Paglia, psikolog di The Internasional Psychology Clinic.  

"Ini bukan masalah baru. Akses ke platform sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya telah membuat orang dari segala usia terpikat ke media sosial," jelasnya.  

"Pada era ini, komunikasi melalui platform sosial lebih sering terjadi daripada bertemu langsung, yang saat ini sudah langka. Itu memang datang dengan kelebihannya, tetapi itu juga telah menyebabkan paradoks kesepian, kecemasan, depresi, kebencian dan narsisme yang terkait langsung dengan penggunaan media sosial yang berlebihan," lanjut Martina.  

Sehingga dalam kondisi saat ini, konferensi video bagi banyak orang menjadi fitur konstan dalam kehidupan kerja malah bisa menambah masalah.

Mungkin ini terdengar sepele. Namun energi yang dibutuhkan untuk menjaga momentum tetap berjalan di ruang virtual itulah, seperti gangguan teknologi atau kelambatan, bisa membuat kita merasa terkuras.  

Baca Juga : Ini Upaya Rumah Sakit Amankan Calon Kepala Daerah dari Covid- 19 Saat Tes Kesehatan

"Sungguh melelahkan untuk merasa seperti kita harus berusaha lebih keras untuk hadir secara mental dalam pertemuan di mana kita tidak secara fisik tidak melakukannya. Rapat yang diadakan secara online meningkatkan beban kognitif karena menuntut banyak kapasitas dan upaya sadar," ucapnya.

Sebuah studi eksperimental di University of Pennsylvania menunjukkan hubungan antara penggunaan media sosial dan perasaan depresi dan kesepian. Hal ini membuktikan jika penggunaan platform sosial yang lebih sedikit dapat sangat meningkatkan harga diri dan kesejahteraan seseorang.