Ilustrasi puisi (pixabay)
Ilustrasi puisi (pixabay)

*dd nana

Tangisan meledak saat isak tak lagi setegar batu karang. Di pojok kamar dengan aroma arang yang kehilangan nyala, aksara kisut.

Pipinya serupa daun sekarat, gosong oleh peristiwa dan menanti maut. Sebelum jemari waktu mengelusnya dan berbisik.

"Tidurlah, kembalilah ke awalmu yang rebah itu."

Tapi, air mata itu kekal

sebagai penghardik atau pun catatan-catatan penyair.

Lihatlah, ucap aksara di sela sengalnya

air mata ini telah mengusik lelaki yang mencintai ruang tamu di tubuhnya sendiri.

Ia sedikit meradang, karena kedua kakinya mulai digigit dingin.

"Kau selalu menjadi sialan bagi kenyamanan ku," sungutnya.

Diambilnya lap pel dan pembersih lantai, sebelum lelaki itu merapikan kedua telapak kakinya yang keriput dikecup air mata.

Tapi, air mata yang meledak di pojok kamar dengan aroma arang yang kehabisan kisahnya, lebih tabah dibanding doa para peziarah.

Baca Juga : Membaca Dua Nyai

 

Selutut, seleher, air mata menyedot lelaki di ruang tamu dalam tubuhnya sendiri itu.

"Keluarlah dari tubuhmu sendiri, mengungsi. Atau tenggelamlah bersamaku, di sini."

 

Membaca Sepi di Tubuh Aksara Pasi

Ada yang memompa jantungku untuk terus mengada. Agar kau, lelaki, bisa menegakkan kepalamu menatap matahari.

Walau nyeri telah lama kau suntikkan pada tubuhku yang mulai tergelincir. Aku tak menyerah mencintaimu. Membisikimu dengan hangat yang direnggut sepi.

Karena puisi bertubuh pada akar luka

dan tubuhmu muara duka itu.

Ketakutan ku, kelak, bila nafas ini berhenti

dan yang memompa jantungku, telah begitu lelah mendampingi. Kau, lelaki yang berumah di tubuh sendiri, tak lagi berani menatap cahaya.

"Wasiatku, bacalah tubuhku walau pasi. Hidu aroma sepi yang menguatkan matamu. Matahari besok lebih nyalang, kekasih."

*Penikmat kopi lokal