Ilustrasi (Foto:  dailysatu.com)
Ilustrasi (Foto: dailysatu.com)

MALANGTIMES - Publik kini digegerkan dengan kasus meninggalnya mahasiswa resident kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Meninggalnya dokter muda bernama Albertus Berfan Christian bisa dibilang sangatlah tragis.  

Baca Juga : Kasus Penipuan Online di Kota Batu Marak

Albertus merupakan mahasiswa yang menempuh Program pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Bedah Plastik dan menjalani praktik di RSUD dr Soetomo.  

Salah satu kerabat korban memberikan informasi jika Albertus meninggal karena bunuh diri dengan cara meminum cairan pembersih kamar mandi.  

"Kami kaget atas kejadian dr. Albertus meninggal dunia, sementara infonya karena bunuh diri dengan minum Vixal, dugaan awal penyebabnya di-bullying seniornya," ujar kerabat yang tak ingin disebutkan namanya.  

Terkait kasus ini, pihak kampus pun sedang mendalaminya. Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Moh Nasih membenarkan jika ada seorang mahasiswanya yang meninggal dunia.  

Selain itu, Nasih menceritakan jika Albertus baru saja menjalani stase bedah di RSUDI dr Soetomo selama tiga hari.  

"Iya yang bersangkutan baru tiga hari state di RS," ujar Nasih.

Soal pemicu yang membuat Albertus bunuh diri, Nasih mengaku jika pihaknya masih belum bisa mengungkapkan kejadian secara detail. Ia mengatakan jika pihak RSUD dr Soetomo lah yang tahu persis peristiwa itu.

"Belum ada laporan resmi ke kami dan masih ditangani kawan RSUD dr Soetomo, sebagaimana tempat proses belajar mengajar," cetusnya.  

Lebih lanjut, Nasih mengungkapkan jika Fakultas Kedokteran Unair telah menerjunkan tim untuk mendalami kasus tersebut.  

Baca Juga : Dokter Edwin Marpaung Meninggal, Fahri Hamzah ke Jokowi: Cobalah Berbuat Sesuatu

Kasus meninggalnya Albertus ini rupanya juga langsung mengambil perhatian dari pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kendati demikian Kemendikbud mengaku jika belum bisa meproses lebih lanjut kasus tersebut.  

Disampaikan oleh Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendikbud Aris Junaidi pihaknya kini masih menunggu laporan resmi untuk menindak kasus tersebut.  

"Tentu saja belum bisa bergerak, karena belum ada laporan yang ditujukan ke Kementerian," ujar Aris.  

Sebelumnya, kasus dugaan bunuh diri Albertus ini telah beredar di media sosial. Ia diduga menjadi korban bullying atau perundungan.  

Aris lantas melanjutkan jika Kemendikbud saat ini masih menggodok aturan terkait perundungan yang akan dikeluarkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.  

Dijelaskan jika nantinya akan ada empat perkara pendidikan yang digodok dalam bentuk permendikbud. Dua diantaranya yakni kekerasan seksual dan perundungan.  

"Termasuk bullying, sedang disiapkan regulasinya. Sehingga nanti bisa digunakan sebagai pedoman semua perguruan tinggi," jelasnya.