Rayakan Muharram, Warga Dusun Junggo Gelar Ritual Jenang Suro dengan Protokol Kesehatan

Aug 24, 2020 13:56
Camat Bumiaji Aditya Prasaja (tengah) saat mengaduk jenang suro di Dusun Junggo Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Senin (24/8/2020). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Camat Bumiaji Aditya Prasaja (tengah) saat mengaduk jenang suro di Dusun Junggo Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Senin (24/8/2020). (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Meski di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan warga untuk tetap melestarikan kebudayaan. Salah satunya untuk merayakan atau memperingati bulan Muharram atau Suro. 

Ritual adat tetap digelar, tentunya dibarengi dengan protokol kesehatan. Kali ini dalam rangka memperingati 1 Suro di Dusun Junggo Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, menggelar ritual Njenang Suro atau membuat jenang yang dilakukan dengan protokol kesehatan.

Baca Juga : Jasa Cuci Pusaka di Jombang ini Raup Omzet Rp 2,5 Juta Sehari di Bulan Suro

Njenang Suro bertajuk, ‘Djenang Gede Uri-Uri Budoyo Jowo‘ itu terlebih dahulu dibuka dengan acara selamatan. Setelah selamatan selesai, baru warga mulai mengaduk Jenang Suro secara bersamaan, Senin (24/8/2020).

Namun kali ini agar bisa menerapkan protokol kesehatan, kegiatan njenang dipisah menjadi dua tempat. Selain itu, warga yang terlihat tetap menggunakan masker. 

“Kalau biasanya satu lokasi, sekarang dipisah jadi dua lokasi karena menerapkan protokol kesehatan,” ungkap Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono.

Pemisahan dua tempat ini supaya tidak menimbulkan keramaian. Di masing-masing tempat, ada dua hingga tiga tungku pembuatan jenang. Sehingga dalam ritual Njenang Suro tahun ini, ada lima wadah untuk mengaduk jenang.

Dalam satu wadah penggorengan dengan ukuran diameter 1,5 meter. Jenang dimasak dalam tungku terbuat dari tanah liat, debok pisang, dan bata merah, dengan bahan bakar kayu dengan melibatkan kurang lebih 300 warga.

“Tungku ini dibuat dengan kuat. Untuk membuat tungku warga mencari bahan-bahan agar saat memasak jenang dengan jumlah banyak aman dan bisa menyangga,” imbuhnya kepada MalangTIMES.

Njenang ini prosesinya dilakukan secara masal sebab jenang harus diaduk terus-menerus dengan pengaduk dari kayu. “Jenang ini harus diaduk terus, kalau ditinggal nanti gosong sehingga warga bergantian mengaduknya,” kata Suliyono. 

Baca Juga : Mau ke Tempat Hiburan di Kabupaten Malang? Sabar Ya, SOP masih Disusun

Kali ini untuk seluruh penggorengan ini membuat kurang lebih sebanyak 2 kuintal jenang. “Bahannya itu tepung ketan, santan, gula merah dan bahan lainnya,” ujar pria yang dikaruniai dua orang anak ini.

Menurutnya cara ini terbukti efektif membuat warga Dusun Junggo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji terus guyup rukun. Warga menjadi lebih kompak membangun desa, khususnya di bidang wisata dan pertanian.

Apalagi, tradisi ini sudah ada sejak sebelum kemerdekaan yang mulai hilang karena ditinggalkan. “Adat seperti ini perlu dilestarikan meski di tengah pandemi. Namun tetap menjaga protokol kesehatan,” katanya.

Setelah proses memasak selesai, jenang ini langsung dinikmati bersama-sama oleh warga. Selain itu, sebagian dibagikan kepada warga yang tidak bisa menyicipinya di lokasi pembuatan jenang.

Topik
Berita Hari IniJenang Suromematuhi protokol kesehatanMembangun DesaKecamatan Bumiaji

Berita Lainnya

Berita

Terbaru