Ora Srawung, Mati Suwung (A Closed Mouth Catches No Flies). (Foto: istimewa)
Ora Srawung, Mati Suwung (A Closed Mouth Catches No Flies). (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Film pendek karya arek Malang berjudul "Ora Srawung, Mati Suwung" atau "A Closed Mouth Catches No Flies" masuk ke dalam official selection dua festival film internasional sekaligus. Dua festival film tersebut adalah Bali International Film Festival (aka Balinale) 2021 dan SeaShorts Film Festival 2020.

Film pendek ini merupakan karya Hisstory Films yang disutradarai Destian Rendra Pratama. Naskahnya ditulis wartawan MalangTIMES (Jatim Times Network) Imarotul Izzah.

Baca Juga : Keren! Bareng Joe Taslim, Aksi Pevita Pearce Bintangi Iklan GoPay Trending Twitter

"Ya, film 'Ora Srawung, Mati Suwung' ini diangkat dari cerpen lama saya berjudul 'Jamu Gendong' yang sempat dimuat dalam salah satu media cetak pada tahun 2015 silam," ucap Ima, sapaan akrab Imarotul Izzah.

Dalam film ini, Ima mengaku ingin memperlihatkan bahwa terkadang budaya rasan-rasan, meski di sisi lain dapat mempererat dan mengakrabkan hubungan dengan suatu kelompok atau kita anggap sebagai hal yang sepele, bisa berakibat menghancurkan kehidupan seseorang.

"Namun, tentu saja pemaknaan akan film bisa berbeda-beda, bebas ditentukan oleh penonton sesuai dengan pengalaman dan interpretasi mereka sendiri," timpalnya.

Si Sutradara, Rendra, menangkapnya lain. Ia ingin memperlihatkan sekaligus menyindir tentang suatu budaya/kebiasaan dalam masyarakat yang terkadang digunakan sebagai pembenaran untuk memuaskan nafsu pribadi mereka.

"Pandangan dalam masyarakat, srawung itu adalah hal yang positif. Maka orang akan cenderung melakukan hal itu tanpa melihat sisi negatifnya. Padahal aku percaya bahwa sesuatu yang berlebihan itu sebenarnya nggak baik. Sedangkan kebanyakan orang enggak peduli hal itu, ketika sesuatu hal yang dicap baik maka akan baik seluruhnya," paparnya.

Terlebih, lanjut Rendra, apabila kegiatan tersebut dipandang bisa meningkatkan strata sosial mereka, maka banyak orang ramai-ramai mengikutinya tanpa memandang hal negatifnya.

Pembuatan film ini tak butuh waktu lama. Hanya dua minggu, mulai dari penulisan naskah hingga selesai produksi. Dikejar deadline ini tentu merupakan satu kesulitan tersendiri dalam pembuatan film ini.

"Harusnya kalau misalkan kita punya spare waktu yang lebih lama, saya berharap bisa lebih maksimal. Tapi ya alhamdulillah bisa jadi seperti ini," imbuh Rendra.

Kesulitan lain adalah pemilihan aktor. Seperti yang dapat dilihat di teaser, aktor-aktor di film ini kebanyakan adalah ibu-ibu. Rendra mengaku kesulitan mencari aktor berpengalaman seusia itu yang cocok dengan karakter dalam cerita Jamu Gendong.

"Jadi, harus mencari orang-orang dengan potensi yang memungkinkan yang akhirnya bisa disulap untuk memerankan tokoh-tokoh tersebut," katanya.

Baca Juga : Wow! Kasus Sang Predator Reynhard Sinaga Bakal Dibuat Film Dokumenter

Kepada media ini, Rendra mengungkapkan bahwa pada awalnya, film yang berhasil menyisihkan ratusan film di dua festival ini dibuat bukan untuk festival, melainkan untuk lomba.

"Film ini awalnya diciptakan untuk mengikuti lomba sebenarnya. Jadi, memang ekspektasinya tidak untuk di festival. Jadi, dengan segala keterbatasan yang kami lakukan untuk membuat film ini dan hanya untuk di lomba itu tadi, entah kenapa hasilnya malah tidak komersil. Mungkin karena sudah lama saya ingin mengikuti festival film jadi hasilnya ini tidak ke arah komersil malah lebih ke arah festival," bebernya.

Meski demikian, dirinya pun sempat bertanya-tanya apakah film ini pantas masuk festival atau tidak. Sebab memang, ekspektasinya tidak terlalu tinggi. Ia sudah cukup senang dapat masuk ke dalam official selection, dapat diputar dan berkompetisi di dua festival film tersebut.

"Perkara nanti dapat atau nggak, itu saya tidak berharap juga sebenarnya. Saya sudah cukup bersyukur sekarang bisa sampai di tahap ini," tuturnya.

Rendra sudah cukup senang film ini dapat diputar di festival film. Dia berharap film ini ke depan dapat terpilih ke festival-festival film yang lain sehingga dapat bertemu dengan penonton yang lebih luas lagi.

"Tapi memenangkan festival adalah cita-cita saya dan itu akan berusaha kami kejar di karya selanjutnya karena saya yakin karya selanjutnya akan bisa lebih baik lagi," pungkas pria berkacamata tersebut.