Ilustrasi puisi (foto: ig sundaylyfe)
Ilustrasi puisi (foto: ig sundaylyfe)

Aku berlindung kepada Tuhan

yang dengan-Nya semoga hati diberi kemampuan

agar tabah merindui terhadap suatu jiwa

yang tidak lagi aku pahami perasaannya

yang tidak lagi aku kuasai cintanya.

 

Apakah kau masih akan berkata

paru-parumu terasa sesak

sebab mengemban seluruh rindu?

 

Maka, demi jarak yang terus merobek waktu

izinkan aku tetap berdiri tegak di jantungmu.

Meski pada akhirnya nanti

kau jadikan aku abadi dalam sepi.

 

Kaf, Ha, Ya, 'Ain, Shad...

Adakah ungkapan yang lebih nirmala

selain air mata, untuk mewakili kata?

Awalnya, aku mengira

mungkin Tuhan salah

dalam mengalamatkan rasa luka.

Ternyata tidak,

mata air yang kian mengalir

mengamanatkan getir tiada akhir.

 

Aku masih ingat,

ketika kota ini menjadi saksi

tempat pertama kali cinta kita bersemi

hingga pada akhirnya aku menyadari

kamu lebih berpotensi membunuhku

dibanding kepulan-kepulan asap

dari rokok yang setiap hari aku hisap

 

Sebelum kesedihanmu semakin lama

tak kuasa lagi aku tampung

Menjadikan batinku kian berkabung

Barangkali, masa lalu kita

adalah sebuah kampung

Sebagai permukiman kenanganku

merenung dan meraung.

 

Mungkin waktu

akan melapukkan tubuh dan tulangku

Namun tidak

dengan kenanganku bersamamu.

 

Aku jadi ingat,

Akan orasi para pendemo itu,

yang dengan suara lantangnya

menuntut kembali kemerdekaan hatinya.

 

"Apabila perasaan ditolak tanpa ditimbang

Rindu dibungkam

Menyatakan perasaan dilarang

Dituduh mengusik dan mengganggu ketenteraman

Hanya ada satu kata: DOA!"