Film pendek "G-Rain". (Foto: istimewa)
Film pendek "G-Rain". (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Bagaimana jadinya bila dua orang yang tinggal di wilayah yang sama di kota Batu memiliki keinginan yang berbeda terkait hujan?

 Yang satu menginginkan hujan turun, lainnya ingin cuaca cerah. Adu rapalan mantra untuk mengendalikan hujan pun terjadi. Lantas, apa yang akan terjadi?

Baca Juga : Wajib Tahu! Berikut Panduan Lengkap Nonton Film di Bioskop di Era New Normal

 

Kisah yang sangat menarik ini diceritakan secara jenaka di film pendek Viu Original berjudul "G-Rain". Film ini buatan siswa-siswi SMKN 3 Batu Jurusan Film dan Komunitas Sinema Mbatu Adem serta beberapa dari komunitas Malang dengan bantuan mentor dari Viu.

Sebagai informasi, masyarakat di kota Batu kerap melakukan ritual untuk mendatangkan dan memindahkan hujan. Nah, "G-Rain" bercerita tentang perseteruan dua tetangga, mereka mempunyai kepentingan yang bertolak belakang, yakni yang satu ingin mendatangkan hujan, yang lain ingin memindahkan hujan.

"Kedua tetangga ini beradu mantra-mantra hujan yang dipercayai oleh masyarakat kota Batu untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri-sendiri," ujar Sutradara "G-Rain," ucap Magnis Putri Exela saat dihubungi media ini melalui WhatsApp.

Cerita "G-Rain" dilatarbelakangi oleh kepercayaan masyarakat di kota Batu yang melakukan ritual atau merapal mantra untuk memindahkan ataupun mendatangkan hujan untuk kepentingan masing-masing.

Diakui Magnis, memang kepercayaan untuk mendatangkan atau memindahkan hujan atau yang biasa disebut nyiwer udan ini sudah lama sekali kerap dilakukan oleh masyarakat kota Batu. Nah, tradisi ini sampai sekarang juga masih dilakukan. Selain karena memang curah hujan di kota Batu tinggi, banyak sekali kepentingan-kepentingan masyarakat kota Batu yang bertolak belakang.

"Di satu sisi bidang pariwisata di kota Batu sedang ramai-ramainya. Jadi banyak sekali masyarakat yang masih menggunakan mantra-mantra pemindah hujan ini agar tetap cerah atau tidak datang hujan. Sedangkan di satu sisi di bidang pertanian, masyarakat yang bekerja sebagai petani menginginkan agar hujan tidak turun," paparnya.

Naskah "G-Rain" ditulis oleh Riky Nur Wahyudi, Ilham Fahmi Dzauqy, dan Yusuf Nur Mahmudi. Produksinya melibatkan sekitar 30 orang, meliputi kru, talent, dan juga mentor.

"Selain peserta yang ikut workshop kita juga difasilitasi Viu 2 mentor dari kota lain. Kemudian ada juga local partner atau lokal konsultan yaitu Pak Lingga (sineas sekaligus pengajar di SMKN 3 Batu). Sementara talent kita ambil dari jalur casting. Lalu ada senior-senior dari komunitas Malang atau teman-teman para mentor yang akhirnya membantu proses syuting kita. Jadi dari 25 orang melebar sampai sekitar 30 orang karena memang banyak yang mendukung kita," bebernya.

Kisah Unik Sewaktu Syuting, Sempat Dibantu Warga Lokal Menghentikan Hujan

Proses syuting dilaksanakan di daerah pertanian apel di Junggo, Batu. Lantaran termasuk wilayah dataran tinggi dan jauh dari pusat kota, curah hujan di sana memang tidak menentu. Jadi, dalam pelaksanaan syuting, para kru benar-benar menyesuaikan cuaca di sana. Apabila cuaca hujan segera pindah ke set interior, apabila sudah cerah pindah lagi ke set luar ruangan. 

Diakui Magnis, hal itu memang membuat mereka cukup kerepotan. 

Baca Juga : Bosan di Rumah Aja? Berikut Kegiatan Fun yang Bisa Dilakukan di Tengah Covid-19

 

Di sisi lain, warga Junggo sangat mendukung kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak muda ini. Mereka senang mereka melaksanakan syuting di sana.

Suatu ketika, saat mereka syuting di luar ruangan hujan turun dan para kru kesusahan menutupi alat-alat produksi menggunakan plastik. Di sinilah keunikan sekaligus keajaiban terjadi.

"Ternyata Mbah yang tuan rumah kita buat syuting itu melakukan ritual hujan beneran. Jadi dia benar-benar keluar rumah membawa dupa merapalkan mantra. Kita tidak tahu. Dan ternyata itu benar-benar membuat hujan berhenti dan akhirnya kita bisa syuting lagi," kisah Magnis bersemangat.

Jadi, lanjutnya, kisah dalam film "G-Rain" ini bukan sekedar mitos yang mereka dramatisir untuk dijadikan film. Melainkan bagian dari kegiatan dalam kehidupan masyarakat Batu.

Cuaca di Junggo yang tak menentu memang membuat mereka mengalami banyak kerepotan. Misalnya saja pukul 4 sore sudah turun kabut sehingga membuat mereka sedikit kesulitan untuk mengambil gambar. Selain itu, suhu yang dingin juga sempat membuat salah satu talent utama pingsan.

"Salah satu talent kita tidak kuat dengan suhu yang dingin seperti itu. Dan akhirnya pingsan. Itu membuat kita harus putar otak. Akhirnya kita harus menyetop kegiatan syuting sampai di situ. Dan akhirnya kita mengambil shot-shot lain dengan talent yang lain karena talent utama kita, mbak Lidya yang jadi Paniah itu pingsan," katanya.

Meski demikian, secara keseluruhan proses syuting ini relatif lancar sebab tak lepas dari dukungan oleh Pemkot Batu dan warga Junggo. Film pendek “G-Rain” kini sudah bisa ditonton di Viu.com.