Suasana pengunjung saat menikmati sajian di Jagongan Jail. (Ahmad Nur Amin/MalangTIMES).
Suasana pengunjung saat menikmati sajian di Jagongan Jail. (Ahmad Nur Amin/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Predikat napi (narapidana) biasanya dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Kesan garang dan badan bertato memang seakan tak jauh dari mereka yang disebut napi.

Namun, lain halnya dengan para napi binaan di Lapas Kelas I A Malang atau yang juga disebut Lapas Lowokwaru. Napi di sana menjadi barista dan hair stylish andal yang bahkan bisa menjadi sahabat masyarakat khususnya di Kota Malang.

Di Jagongan Jail Cafe dan Barbershop itulah, para napi menunjukkan aksinya dalam melayani pengunjung. Tak kalah dengan barista di kafe-kafe umum lainnya, napi di sini juga andal menyajikan minuman bagi konsumen.

Ya, kafe binaan Lapas Kelas I A Malang ini memang baru awal  Juli 2020 dibuka. Keberadaannya salah satunya sebagai program dalam memberikan bekal khusus bagi para napi dalam bekerja dan membangun usaha.

Kepala Lapas Kelas I Malang Agung Krisna menyatakan konsep di Jagongan Jail dan Barbershop dibentuk sbegai pelatihan kegiatan kerja yang dilaksanakan tahun 2020 bagi para napi. Dalam hal ini, dia ingin menunjukkan bahwa napi tak hanya beraktivitas biasa saja, tapi juga produktif.

"Memperkenalkan bahwa lapas itu produktif. Bukan warga binaan yang komsumtif, makan tidur makan tidur saja. Ini bentuk produktiivitasnya bahwa mereka selama di lapas dilaksanakan pembinaan. Dan hasilnya bisa dilihat di lokasi ini (di Jagongan Jail)," ujar Krisna.

Dalam pelaksanaannya, para napi tidak serta merta dengan mudah bisa menjadi barista di kafe tersebut. Mereka harus memenuhi persyaratan lolos dalam pembinaan sebelum diizinkan untuk bekerja di kafe yang berada di Jl Asahan No 6 Kota Malang itu.

"Pertama, mereka telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh lapas. Tidak semua warga binaan bisa bekerja di sini. Melalui tahap assesment, tahap pemeriksaan berkas dan lain sebagainya serta harus mengikuti pelatihan. Yang nggak bisa, cut," ucap Krisna. 

Meski begitu, pihak lapas tetap melakukan pengawasan dan pengamanan bagi warga binaan yang berpraktik melayani pengunjung di Jagongan Jail itu. "Ini kan market-nya. Pasti pengawasan, pengamanan tetap kami lakukan terhadap teman-teman yang sedang berpraktik, baik barbershop maupun yang berwirausaha," ungkapnya.

Dengan begitu, Krisna berharap, para napi yang bekerja ini bisa menjadi motivasi bagi lainnya yang berada di dalam lapas untuk menjadi pribadi yang tertib dan baik. Sehingga, masyarakat luas bisa menilai bahwa warga binaan lapas juga memiliki keterampilan yang bermanfaat.



"Ini menjadi motivasi untuk teman-teman yang ada di lapas. Kalau persyaratannya cukup, pasti akan bisa bekerja disini. Jadi, semua orang akan berusaha tertib di dalam lapas dengan program-program seperti ini. Dan masyarakat tahu bahwa mereka pekerja," terang Krisna.

Di sisi lain, kolaborasi dalam mengoptimalkan pengelolaan kafe juga melibatkan masyarakat umum. Salah satunya berkaitan dengan juru parkir yang melibatkan warga di area sekitar Jagongan Jail.

"Selain teman-teman dari warga binaan, kami juga berkolaborasi dengan masyarakat. Contoh yang paling kecil, tukang parkir kami ngambil dari lingkungan sekitar. Jadi, semua pemberdayaannya tidak hanya dari kami,  tapi masyarakat juga," tandasnya.

Sementara itu, salah satu pekerja di Jagongan Jail, Ferdian Rahmadani, mengungkapkan rasa senangnya karena bisa turut andil ambil bagian di kafe tersebut.

Tetapi,  dia mengakui prosesnya tidak mudah karena salah satu syaratnya harus berkelakuan baik minimal selama dua tahun saat di Lapas. Di sisi lain, skill yang dimiliki juga terus diasah untuk akhirnya bisa menjadi salah satu pekerja di kafe.

"Untuk  perizinannya itu, selama dua tahun nggak boleh ada pelanggaran dan catatannya harus berkelakuan baik. Sangat senang bisa menyalurkan hobi memasak," ungkap Ferdian.

Bahkan, rasa bahagianya sangat dalam ketika di masa bekerja, dia bisa menyempatkan diri bertemu dengan keluarganya. Sebab, selama pandemi covid-19, akses kunjungan kepada napi memang dibatasi.

"Sangat senang, apalagi kalau keluarga ke sini berkunjung bisa langsung tatap muka. Semenjak covid kan nggak bisa. Kalau sekarang bertatap muka sama sekalian ditungguin bekerja," katanya.

Ferdian pun berharap, jika sudah masanya dibebaskan nanti, apa yang didapatkannya dari program tersebut bisa menjadi bekal untuk kesehariannya ke depan.  "Saya bebas kira-kira masih dua sampai tiga  tahun lagi. Jadi, ini sangat bisa untuk jadi bekal nanti pas keluar dari lapas," katanya.

Sebagai informasi, Jagongan Jail Cafe dan Barbershop tersebut buka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 21.00. Selain bisa menikmati sajian makanan dan minuman, pengunjung juga disuguhi pameran karya lukis dari para napi.