Petugas kesehatan dari Puskesmas Janti saat melakukan rapid test terhadap warga RSBN Malang, Rabu (15/7). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Petugas kesehatan dari Puskesmas Janti saat melakukan rapid test terhadap warga RSBN Malang, Rabu (15/7). (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Langkah skrining awal deteksi adanya penyebaran covid-19 di Kota Malang terus dilakukan. Kali ini, giliran warga UPT Rehabilitasi Sosial Bina Netra (RSBN) Malang yang harus menjalani rapid test.

Satu per satu warga binaan dari RSBN dari pukul 11.00 masuk di satu ruangan dengan pendamping secara bergantian untuk mengantre ikut pelaksanaan tes cepat yang dilakukan petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang melalui Puskesmas Janti ini.

Kepala Puskesmas Janti Endang Listyowati mengatakan pelaksanaan rapid test bagi warga RSBN tersebut dilakukan secara bertahap. Dari total 105, setidaknya untuk kali ini ada 25 warga yang menjalani tes.



"Kegiatan rapid test ini pelaksanaannya RSBN, yang difasilitasi dari Provinsi Jawa Timur. Sebenarnya dijadwalkan hari ini 85 orang. Tetapi karena dari RSBN selektif jadi hari ini, ditargetkan untuk 24 klien dulu," ujarnya, saat ditemui di sela-sela kegiatan rapid test, Rabu (15/7/2020).

Endang menjelaskan, warga RSBN ini merupakan salah satu yang rentan terpapar virus. Mengingat, domisili mereka dari berbagai wilayah di Jawa Timur.

Semenjak awal covid-19 masuk ke Kota Malang pada Maret lalu, semua warga binaan juga telah dipulangkan. Kali ini secara bertahap akan mulai aktif kembali sehingga harus dilakukan skrining sebagai upaya pencegahan adanya penyebaean virus.



"Iya, berisiko. Karena teman-teman itu sebenarnya banyak jumlahnya, 105. Di sini belum tentu mereka yang datang di berbagai wilayah ini negatif atau positif, kami tidak tahu. Dan teman-teman yang belajar di sini, gelombang pertama yang dilakukan rapid test. Setelah itu, ada mendatangkan untuk teman-teman dari berbagai wilayah," imbuh Endang.

Bahkan, petugas dan karyawan RSBN Malang juga telah menjalani rapid test lebih dulu. Totalnya ada 54, yang hasilnya diketahui non-reaktif.

"Kemarin dari petugasnya juga kami  rapid test dulu. Alatnya dari provinsi. Sejumlah 54 karyawan sudah melaksanakan rapid semua. Alhamdulillah hasilnya non-reaktif," tandasnya.