Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Wali Kota Malang Sutiaji. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Dalam satu bulan belakangan ini, kasus positif covid-19 di Kota Malang melonjak drastis. Hingga kemarin (Minggu, 5/7/2020), total kasus mencapai angka 257.

Dari jumlah tersebut, pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 70 orang, yang meninggal dunia ada 21, dan yang menjalani perawatan sebanyak 166.

Upaya menekan angka kasus covid-19 saat ini menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. Sebab, penambahan kasus beberapa hari terakhir tak hanya didominasi  klaster keluarga, tetapi juga dari hasil swab mandiri perorangan hingga kenaikan status dari PDP (pasien dalam pengawasan).

Hal tersebut dibahas dalam pertemuan rakor penanganan covid-19 bersama Satgas Khusus Bidang Medis di Ruang Sidang Balai Kota Malang, Senin (6/7/2020).

"Saya kan janji bahwa stelah dua minggu maka akan kita lakukan pemantauan (terkait kasus covid-19). Saya jelaskan, saya ingin per hari ini yang swab berapa, yang rapid reaktif berapa, non-reaktif berapa. Ini Update dan realtime," ujar Wali Kota Malang Sutiaji.

Dari pertemuan yang dihadiri seluruh kepala puskesmas se-Kota Malang, direktur rumah sakit rujukan di Kota Malang, hingga tim satgas khusus covid-19 perguruan ginggi tersebut, nantinya diharapkan ada antisipasi yang bisa dilakukan bersama untuk penanganan penekanan angka kasus.

"Sehingga ketika reaktif, antisipasi apa yang harus dilakukan, treatment apa yang harus dilakukan ini satu data. Dari puskesmas, direktur rumah sakit plus laboratorium yang melaksanakan swab. Ini kami perlukan," imbuhnya.

Kemudian, yang tak kalah pentingnya, menurut Sutiaji, berkaitan dengan proses tracing pasien. Dalam hal ini, semua pihak terkait harus saling menyatukan kesepahaman untuk menentukan treatment bagi pasien dengan tepat.

"Mulai skrining, tracing sampai harapannya ke treatment apa yang harus dilakukan bersama-sama nanti. Ada kesepehaman, ada satu arah di antara kami semuanya," ucap Sutiaji.

Lebih lanjut, berkaitan dengan status PDP yang akhir-akhir ini banyak berpindah menjadi pasien terkonfirmasi positif, Sutiaji menyebut  seakan luput dari pemantauan. Artinya, saat ini hanya pasien terkonfirmasi positif saja yang dipantau ketat. Nantinya, semua pihak terkait diharuskan memberikan data secara terbuka dan realtime. Mulai dari pasien yang dilakukan swab, data prolanis, hingga pasien dengan riwayat komorbid atau penyakit penyerta.

"Ini ada rencana kalau PDP langsung masuk kategori positif, karena banyak PDP itu ternyata pada akhirnya itu positif covid-19. Sehingga harapannya nanti pemantauan swab, pemantauan PDP, kemudian prolanis, komorbid itu bisa dilakukan ketika ada kerja sama tadi dan ada keterbukaan dari semuanya," tandasnya.