Balai Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Balai Kota Malang. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Sudah kurang lebih satu bulan paska pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Kota Malang mulai menerapkan masa transisi menuju New Normal atau adaptasi tatanan kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19.

Namun, hingga kini nampaknya masih belum ada tanda-tanda bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bakal menerapkan New Normal Life.

Baca Juga : Terdampak Covid, 4 Bulan Capaian Imunisasi Bayi di Kota Batu Masih 32,95 Persen

Apalagi jumlah kasus positif Covid-19 selama satu bulan terakhir ini memang mengalami lonjakan yang tinggi. Hingga kemarin (Kamis, 2/7/2020) sudah tercatat sebanyak 217 kasus.

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko menyatakan, kewenangan penentuan masa transisi atau akan berganti pada New Normal sepenuhnya menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim).

Dalam hal ini, Pemkot Malang masih menunggu hasil evaluasi yang akan diputuskan oleh Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

"Kita ini mengikuti daripada evaluasi Gubernur, dan Kota Malang ini tidak berdiri sendiri. Harus melihat kondisi di Kota Batu ataupun Kabupaten Malang," ujarnya saat ditemui, Jumat (3/7/2020).

Lebih lanjut, Kabag Humas Pemkot Malang Nur Widianto menjelaskan, jika melihat dari kondisi peningkatan kasus yang ada, maka masa transisi New Normal akan tetap berlaku. Sembari menunggu keputusan dari Pemprov Jatim terkait adanya penentuan zona bagi wilayah Kota Malang itu sendiri.

Baca Juga : Maksimalkan Protokol Kesehatan, Pasar-Pasar Ini Terapkan Layanan Belanja Online

"Jadi kita nunggu, kalau hitungannya saat ini masuk putaran keempat (masa transisi New Normal). Kalau memperhatikan apa yang digarisbawahi, ditekankan oleh bu Gubernur seperti itu. Jadi dilihat dari angka kasus, angka sembuh, dan angka kematian yang juga di tekan," terangnya.

Terkait penentuan sebuah wilayah sudah masuk zona merah, zona oranye, zona kuning atau hijau yang akan diputuskan Pemprov Jatim itu dijelaskannya berdasarkan pada angka kesembuhan dan kematian kasus Covid-19 di masing-masing wilayah.

"Ya kita menyesuaikan. Yang pasti nanti itu tetap memperhatikan angka kesembuhan, angka kematian seperti apa. Itu yang bisa menentukan sebuah wilayah masuk zona merah, oranye, kuning, ataupun hijau," pungkasnya.