Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Wahyu Setianto. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Wahyu Setianto. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES).

MALANGTIMES - Seiring penerapan New Normal atau adaptasi tatanan kehidupan baru di tengah pandemi Covid-19, aktivitas di area yang memicu kerumunan massa lebih diperketat.

Seperti pasar rakyat, yang ramai dikunjungi sebagai sarana jual beli kebutuhan. Di Kota Malang bahkan ada yang telah dijadikan sebagai pasar tangguh.

Artinya setiap pasar yang tangguh ini harus menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan dilengkapi sarana dan prasarana khusus.

Tapi, nampaknya tak semua Pasar Rakyat di Kota Malang bisa dijadikan sebagai pasar tangguh. Dari 28, setidaknya masih ada 3 pasar yang tak bisa diubah.

Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang, Wahyu Setianto menyatakan ketiga pasar yang belum bisa diubah sebagai pasar tangguh yakni Pasar Blimbing, Pasar Induk Gadang dan Pasar Kebalen.

Ketiganya, dijelaskannya cukup sulit untuk menerapkan physical distancing karena terlalu padat dan belum representatif. Apalagi, masih perlu dilakukan revitalisasi di area pasar tersebut.

"Ketiga pasar ini masih terbilang kumuh dan terlalu padat. Baik itu pengunjung dan pedagangnya termasuk PKL yang jumlahnya cukup banyak. Di sana juga belum dilakukan revitalisasi," jelasnya.

Saat ini, dari semua pasar memang baru Oro-Oro Dowo yang sudah diresmikan sebagai Pasar Tangguh. Karenanya, hal ini yang akan menjadi percontohan bagi pasar lainnya.

"Sebagai contoh saja pasar yang sudah dijadikan Pasar Tangguh adalah Oro-Oro Dowo. Itu percontohannya di sana. Jika tidak seperti itu maka akan sulit," imbuhnya.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya memprioritaskan pada pasar-pasar yang sudah direvitalisasi untuk menjadi Pasar Tangguh. Pekan ini setidaknya menyusul ada dua pasar, yakni Bunulrejo dan Klojen.

"Yang kita siapkan dalam minggu ini ada dua pasar. Pasar Bunulrejo dan Klojen. Insyallah ini sudah disiapkan sarprasnya dan kemungkinan minggu-minggu ini sudah bisa tangguh," terangnya.

Lebih lanjut, dikatakannya ada beberapa indikator untuk menjadikan Pasar Rakyat menjadi tangguh. Hal itu berkaitan dengan sarana prasarana sesuai protokol kesehatan pencegahan Covid-19 yang memadai.

Di antaranya, penyediaan wastafel untuk cuci tangan diperbanyak di beberapa titik khususnya pintu-pintu masuk pasar. Kemudian, pemasangan sekat plastik pembatas antara pedagang dan pembeli di lapak-lapak hingga penyediaan tempat khusus uang untuk meminimalisir kontak tangan atau pedagang memakai sarung tangan.

Jarak antar lapak harus proposional, pedagang dan pembeli wajib mengenakan masker hingga memiliki tim satgas covid-19 pasar yang dikelola paguyuban pasar.

"Pedagang semuanya juga harus menggunakan masker dan sarung tangan. Pembeli juga wajib pakai masker dan aturan lainnya sesuai protokol kesehatan Covid-19 lainnya," ungkapnya.

Meski begitu, seiring berjalan nantinya ia berharap semua pasar rakyat di Kota Malang bisa diubah menjadi Pasar Tangguh. Walaupun, untuk itu dilakukannya secara bertahap.

"Kami berharap begitu (semua pasar bisa menjadi Pasar Tangguh) meskipun bertahap ya," tandasnya.