Kepala BPS Kota Malang Sunaryo (Hendra Saputra)
Kepala BPS Kota Malang Sunaryo (Hendra Saputra)

MALANGTIMES - Geliat ekonomi masyarakat Kota Malang mulai tumbuh di masa peralihan dari pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menuju new normal. Hal ini seiring inflasi pada bulan Juni 2020 yang mencapai 0,44 persen karena didorong kenaikan beberapa kelompok pengeluaran.

Pada Mei lalu, Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,27 persen. Dan berjalannya roda ekonomi masyarakat juga mendorong inflasi pada Juni kemarin  dengan menyentuh angka 0,44 persen.

Baca Juga : Tertinggi se-Jawa Timur, Inflasi Kota Malang di Bulan Juni 2020 Capai 0,44 Persen

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang Sunaryo mengatakan bahwa perkembangan ini didorong  adanya kenaikan pada kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau.

"Inflasi Juni 2020 memberikan sebuah isyarat bahwa geliat ekonomi masyarakat mulai naik. Dan diharapkan di Kota Malang perekonomian bisa meningkat secara dinamis ke depannya," kata Sunaryo.

Inflasi yang didapat Kota Malang ini adalah yang tertinggi di Jawa Timur (Jatim). Rata-rata Jatim hanya menyentuh angka 0,28 persen secara keseluruhan. "Dengan adanya inflasi yang meningkat ini, (kita bisa tahu) ada perputaran ekonomi," ucapnya.

Yang tertinggi, inflasi didorong oleh kelompok pengeluaran makanan minuman (mamin) dan tembakau. Riinciannya, antara lain,  daging ayam sebesar 12,81 persen, tiket angkutan udara 6,55 persen, telur ayam ras 7,99 persen, rokok kretek filter 2,38 persen, dan mobil 0,91 persen.

Baca Juga : Ini Hari Terakhir Promo Cicilan DP 1,2 Juta Apartemen The Kalindra Malang

Sementara, penurunan terjadi pada cabai rawit 16,34 persen, bawang putih 15,77 persen, tarif angkutan daring roda empat 8,86 persen, gula pasir 5,18 persen, dan emas perhiasan 2,22 persen.

 Di sisi lain, kelompok penyumbang deflasi masih seputar rekreasi, olahraga, dan budaya. Yakni sebesar 0,04 persen.