Ilustrasi Bupati Malang HM Sanusi saat melantik pejabat di Pemkab Malang belum lama ini (Foto : dokumen MalangTIMES)
Ilustrasi Bupati Malang HM Sanusi saat melantik pejabat di Pemkab Malang belum lama ini (Foto : dokumen MalangTIMES)

MALANGTIMES - Proses pengangkatan sosok Harry Setia Budi yang dalam waktu lima bulan berkarir di Pemkab Malang menjadi kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) memunculkan tanda tanya banyak pihak. Khususnya, di kalangan para pejabat dan Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Malang.

Banyak yang kemudian mempertanyakan apakah sistem pengangkatan Harry Setia Budi lewat prosedur yang benar dan transparan?.

Baca Juga : Bupati Sanusi Diduga Bagi-Bagi Kursi Jabatan di Tanah Suci Makkah

 

Apakah benar proses pengangkatan Harry Setia Budi lewat lelang jabatan sesuai ketentuan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi tanda tanya besar banyak pihak khususnya para ASN dan pejabat di internal Pemerintahan Kabupaten Malang.

Sebab, ada ASN (Aparatur Sipil Negara) yang baru saja mutasi selama 5 bulan, karirnya meroket dan kini menduduki jabatan kepala dinas.

Dialah Harry Setia Budi, pria yang saat ini dipercaya menjabat Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Malang.

Berawal dari tanda tanya itulah, media online ini langsung menemuinya di Kantor DP3A untuk mencari kejelasan akan dugaan kejanggalan tersebut. ”(Sistem lelang) secara terbuka setiap tahapan ada sistem gugur, jadi jika tahap ini tidak lulus akan gugur. Terus saya ikut lelang itu,” kata Harry saat ditemui di ruangannya pada pertengahan bulan Juni 2020 lalu.

Harry mengakui jika syarat yang ditentukan saat ingin mengikuti lelang jabatan sebagai Kepala Dinas tersebut tidaklah mudah.

Sebab, banyak persyaratan seperti pangkat dan seabrek tuntutan lainnya yang harus dipenuhi sebelum memutuskan untuk mengikuti lelang jabatan.

”Sekarang kan sistemnya yang penting (memenuhi) syarat, pangkat, terus ikut lelang,” jelas Harry.

Dari proses lelang itu, lanjut Harry, ada sedikitnya 7 hingga 8 orang yang mengikuti lelang untuk mengisi kursi Kepala DP3A, yang semula dikabarkan hanya sempat diisi oleh Plt (Pelaksana tugas) tersebut.

Grafis

”Lulus (lelang) diambil 3 besar, ya sudah salah satu dari 3 besar ini yang bisa terpilih (sebagai Kepala DP3A kala itu),” jelas Harry.

Saat menceritakan dirinya masuk 3 besar itulah, raut wajah Harry saat dikonfirmasi wartawan terlihat begitu ceria.

Raut wajah itu seolah memutar memorinya saat dirinya mengikuti proses lelang, dan lolos ke 3 besar. ”Setelah itu (lolos 3 besar) tergantung bupatinya,” celetuk Harry.

Menurutnya, ada beberapa pertimbangan yang bisa dijadikan acuan bagi Bupati Malang, HM Sanusi untuk menunjuk salah satu dari 3 besar kandidat tersebut sebagai Kepala DP3A.

”Bisa nilai tertinggi, bisa juga yang terdekat,” kata Harry sambil tertawa kecil saat menjawab pertanyaan kami terkait dasar acuan Bupati Malang memilih 1 dari 3 kandidat tersebut.

”Bisa juga yang faktor x, atau apa. Tergantung beliaunya (Bupati Malang) yang jelas harus ikut pelelangan sampai terpilih 3 besar,” sambungnya.

Baca Juga : Cara-Cara 'Aneh' Bupati Malang Lakukan Mutasi

 

Mendapat penjelasan itu, kami kemudian menanyakan kira-kira dasar apa yang dipakai Bupati Sanusi saat menunjuknya sebagai Kepala DP3A. Apakah karena hasil lelang nilainya tertingi, apa karena “terdekat” , atau justru karena faktor x?.

Mendengar pertanyaan sepontanitas kami  itu, seketika Harry yang sempat tersenyum kecil terlihat langsung mengerutkan dahi.

Pipinya terlihat kembali datar setelah sempat mengembang karena tersenyum lebar ketika menjelaskan proses lelang jabatan.

Suasana yang sempat hening selama beberapa detik itu, akhirnya mulai mencair saat Harry menjawab; ”Kalau pak bupati bilang dari nilai semua yang tertinggi (3 besar) milihnya saya. Pak bupati pilih (saya) walau masih muda, tapi kata beliau yang tertinggi dan akhirnya saya yang terpilih (menjadi Kepala DP3A),” jawab Harry dengan nada terbata-bata seolah sangat berhati-hati saat menjawab pertanyaan wartawan.

Sepertinya wajar jika Harry menjawab pertanyaan kami dengan sangat hati-hati. Sebab, seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Harry sempat bercerita secara gamblang jika awal mula dirinya pindah dari Pemkab (Pemerintah Kabupaten) Raja Ampat ke Pemkab Malang, bermula saat dirinya bersama mertuanya bertemu dengan Bupati Malang di tanah suci Makkah.

Saat menjalankan ibadah umroh pada awal tahun 2019 itulah, mertua Harry sempat meminta kepada Sanusi, Bupati Malang HM Sanusi, untuk menempatkan menantunya yakni Harry Setia Budi ke Pemkab Malang.

Atas pernyataan yang terlontar dari mulut Harry itulah, yang dirasa juga membuat sebagian pegawai di Pemkab Malang menduga jika sosok pria berkulit putih bersih tersebut adalah saudara Sanusi.

Dugaan itu semakin menguat setelah 5 bulan di Pemerintahan Kabupaten Malang, Harry langsung dipercaya menduduki kursi jabatan Kepala DP3A.

Ketika ditemui media online ini, Harry juga sempat mengaku jika tidak menutup kemungkinan apabila di beberapa daerah ada rupiah yang harus dibayarkan jika ingin pindah.

”Sesak saya kalau dengar kaya gitu, bahkan orang mutasi aja katanya dimintai uang. Saya mau pindah ke sana kesini itu harus bayar, makanya saya pikir kok sebegitunya. Tapi untungnya saya tidak ada 1 rupiah pun yang harus saya setor (saat pindah ke Pemkab Malang). Berarti Bupati baru ini (Sanusi) betul apa yang seperti dia bilang, pengen bersihkan citra birokrasi,” puji Harry kepada sosok Sanusi.

Terlepas dari pujian manis tersebut, pantas disimak apakah betul sosok Harry dipilih sebagai Kepala DP3A karena paling unggul saat ikut lelang jabatan. Atau malah karena faktor kedekatan dan faktor x seperti yang dia ucapkan. Ikuti ulasan berikutnya hanya di MalangTIMES.com.