Menteri Pendidikan Nadiem Makarim (Foto:   Wikipedia bahasa Indonesia)
Menteri Pendidikan Nadiem Makarim (Foto: Wikipedia bahasa Indonesia)

MALANGTIMES - Aktivis Perempuan dan HAM Gayatri Wedotami menuliskan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Surat terbuka tersebut dibuat lantaran ada sekolah yang memaksa siswi SD-nya untuk mengenakan gamis.  

Di surat itu, Gayatri juga menyertakan tangkapan layar siswi SD yang mengenakan gamis.  Gayatri meminta agar Nadiem meninjau ulang kebijakan sekolah yang mewajibkan siswinya untuk menggunakan gamis.  Ia menilai jika hal tersebut telah mencederai toleransi antar-umat beragama.  

Baca Juga : Pria yang Tergeletak di Depan Minimarket Jalan Basuki Rahmad Akhirnya Meninggal

Surat tersebut dituliskan Gayatri melalui akun Facebook-nya.  "Dear Bung Nadiem Makarim yang saya hormati. Saya memohon kearifan Anda untuk segera mengakhiri kegilaan tanpa batas ini dalam hal seragam sekolah. Apalagi, kita sekarang sedang menghadapi masa pandemi," tulis Gayatri.  

Surat Terbuka Hijrah Indonesia untuk Mendikbud Nadiem Makarim - (Facebook/Hijrah Indonesia)
Facebook 

Menurut dia, persoalan ini sudah sangat genting karena banyak orang yang menjadi korban. "Sejak tahun 2016, sebagai anggota divisi Keperempuanan di ICRP (Konferensi Indonesia untuk Agama-agama dan Perdamaian) saya telah menerima laporan mengenai pemaksaan tidak tertulis dan secara halus terselubung dalam memakai seragam sekolah bagi siswi-siswi dan pelajar-pelajar putri," ungkap Gayatri.

Lebih lanjut, Gayatri mengungkapkan cerita yang dia terima.  Diceritakan Gayatri, para siswi dipaksa untuk memakai busana muslim, terlepas dari agama dan kepercayaan yang mereka anut. Padahal diketahui, sekolah tersebut bukanlah sekolah Islam.  

"Laporan ini juga adalah para ayah muslim yang khawatir karena sejak SD para putri mereka sudah harus memakai baju berlengan panjang, berbaju kurung dan berjilbab, sehingga mereka kurang terpapar cukup matahari karena waktu sekolah yang panjang. Laporan-laporan ini datang dari Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Riau, Jawa Tengah, dan lain-lain dari mereka yang mengirim anak-anak mereka ke sekolah-sekolah negeri," jelas Gayatri.

Baca Juga : Warga Jalan Basuki Rahmat Sempat Heboh, Seorang Pria Tergeletak di Trotoar, Ternyata...

"Jika mengenakan seragam masih dianggap perlu, maka kami mengharapkan agar seragam tersebut memiliki model secara umum karena ini NKRI, bukan negara dengan asas Islam seperti Malaysia sehingga ada seragam berbeda-beda untuk setiap etnis dan agama," tegas Gayatri.