Tak Pakai Masker Dominasi Pelanggaran di Kabupaten Malang, Sanksi Sosial Jadi Opsi

Jun 17, 2020 19:01
Komandan Satgas New Normal Life Kabupaten Malang Letkol Inf Ferry Muzawwad saat memaparkan kesiapan menuju new normal. (Foto : Istimewa)
Komandan Satgas New Normal Life Kabupaten Malang Letkol Inf Ferry Muzawwad saat memaparkan kesiapan menuju new normal. (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Tim Satgas (Satuan Tugas) New Normal Life Kabupaten Malang sudah bersiap untuk “angkat kaki” jika Pemkab Malang resmi menerapkan new normal.

Hal itu disampaikan langsung oleh Komandan Satgas New Normal Life Kabupaten Malang Letkol Inf Ferry Muzawwad saat menanggapi langkah pemerintah yang sudah bersiap mengakhiri masa transisi tatanan normal baru pada 21 Juni 2020 mendatang.

Baca Juga : Wacana Penutupan Pasar Lawang Kemungkinan Besar Bakal Gagal Diterapkan

”Kalau nanti pelaksanaan new normal itu diterapkan, petugas (dari Satgas New Normal Life) sudah tidak ada lagi,” ungkap Ferry saat menjawab pertanyaan awak media terkait pengurangan jumlah personel saat new normal diberlakukan, Rabu (17/6/2020).

Menurut Ferry, tidak adanya personel -baik itu dari unsur TNI, Polri, maupun Pemkab Malang yang dikerahkan untuk menertibkan masyarakat tersebut- selain karena masyarakat sudah disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, jumlah kasus penularan covid-19 di Kabupaten Malang juga dinilai sudah tidak masif lagi.

”Karena new normal itu diharapkan masyarakat sudah disiplin untuk melaksanakan protokol kesehatan. Sekali lagi saya katakan protokol kesehatan harga mati. Itu yang harus dipegang,” tegas Ferry.

Apakah persyaratan new normal tersebut sudah terpenuhi? Ferry mengaku sampai saat ini Kabupaten Malang masih sedang berproses sebelum akhirnya resmi menerapkan tatanan normal baru. Sebab, sampai saat ini masih ada penambahan jumlah terkonfirmasi covid-19 di Kabupaten Malang. 

Menurut Ferry, masih adanya penambahan kasus terpapar covid-19 tersebut lantaran masih ada sebagian masyarakat yang tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

”Protokol kesehatan yang paling sering dilanggar, yang pasti tidak pakai masker. Kalau seandainya punya masker, hanya dikantongi tapi tidak dipakai kalau tidak ada petugas,” keluh Ferry.

Selain pemakaian masker, Ferry juga menyayangkan masih adanya masyarakat yang terlalu abai dengan physical distancing. Terbukti, dari pantauan tim satgas selama transisi new normal, masih banyak warga -terutama anak muda- yang berkumpul dan nongkrong dalam jumlah  banyak.

Baca Juga : Selama Pengetatan Sosial, Edukasi dan Imbauan Lebih Ditekankan Ketimbang Sanksi

”Tolong dong lakukan ini (protokol kesehatan). Kalau yang jiwa muda, ayo bantu jangan sampai orang tua, saudara, tetangga kita yang mereka tidak tahu apa-apa terkena dampaknya. Terbukti kemarin yang di (Kecamatan) Wagir, bayi 10 bulan pun terdampak (positif covid-19). Padahal bayi itu tidak punya dosa. Itulah dampak-dampak akibat adanya orang-orang yang tidak disiplin,” ucap Ferry.

Apakah sanksi denda bagi pelanggar protokol kesehatan bakal diterapkan? Ferry mengaku pernyataan yang disampaikan Bupati Malang HM Sanusi itu memang perlu diberlakukan. Hanya, pihaknya menyarankan agar penerapan sanksi denda itu dijadikan sebagai opsi terakhir.

”Kalau melihat  ketentuan undang-undang, sebenarnya memungkinkan (penerapan sanksi denda). Cuma ini kalau seandainya ada upaya yang lain yang lebih baik, ya itu yang kami lakukan. Jadi, kami mencari suatu proses yang lebih baik dari yang paling baik,” ujar Ferry.

Anggota TNI yang juga menjabat sebagai komandan Kodim 0818/Kabupaten Malang-Kota Batu ini menjelaskan bahwa opsi lain selain sanksi denda itu adalah saksi sosial. ”Misal ada yang melanggar, mungkin ada sanksi sosial yang bisa diterapkan. Contohnya, ditunjuk menjadi petugas pos ronda, nyapu jalan, kerja bakti atau yang lainnya. Silakan keputusan desa yang menentukan,” pungkasnya.

 

Topik
Pelanggaran di Kabupaten MalangTak Pakai MaskerNew Normal LifeLetkol Inf Ferry MuzawwadSanksi Sosialberita malang hari ini

Berita Lainnya

Berita

Terbaru