Webinar UIN Malang, Ketua Umum PP Muhammadiyah Ajak NU Terus Rajut Ukhuwah

Jun 11, 2020 16:28
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir MSi dalam webinar nasional UIN Malang. (Foto: Ima/MalangTIMES)
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir MSi dalam webinar nasional UIN Malang. (Foto: Ima/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Ukhuwah atau yang secara bahasa berarti persaudaraan memang mudah diucapkan, namun tidak mudah  dipraktikkan. Terlebih saat kita diuji oleh wabah covid-19 seperti sekarang ini.

Hal ini disampaikan  Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr KH Haedar Nashir MSi dalam webinar nasional "Merawat Ukhuwah di Tengah Wabah" yang diadakan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang.  Dalam webinar yang digelar melalui aplikasi Zoom tersebut, juga hadir Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal mewakili ketua umum PBNU.

Baca Juga : UIN Malang Upayakan Pengurangan Uang Kuliah ke Kementerian Agama

"Perlu kami  belajar terus bagaimana menunjukkan ukhuwah yang otentik, yang lahir dari kedalaman hati kita, ketulusan di saat kita berbeda, dan kesediaan berkorban ketika kita harus saling berkorban," tutur Haedar.

Selama ini, kata Haedar, kita begitu mudah beretorika soal ukhuwah. Namun, nyatanya kita masih bisa saja terpecah belah. Beberapa perpecahan dikarenakan harta dan kekuasaan. Padahal, di situlah sebenarnya ukhuwah kita diuji.

Selain ujian soal harta dan kekuasaan, hal yang sering membuat kita, khususnya Muhammadiyah dan NU, retak dalam konteks ukhuwah adalah perbedaan-perbedaan paham keagamaan yang kemudian bertemali dengan politik keagamaaan.

Untuk menghindari keretakan tersebut, kata Haedar, diperlukan keikhlasan dan sikap otentik. "Dasar kita ber-ukhuwah itu iman. Maka jelas perlu kemurnian, perlu kebersihan hati. Dasarnya adalah iman dan itu yang disebut dengan sesuatu yang otentik," terangnya.

Jika kita meletakkan Islam di atas yang lain, maka ukhuwah itu akan bisa mengatasi segala hal yang dapat memecah belah kita. Dan dengan dengan ikhlas, maka kita tidak pernah merasa kehilangan apa pun.

"Apa sih makna kekuasaan, kejayaan golongan, dan lain sebagainya jika misalkan itu dibangun di atas retaknya hati umat. Itu kan sesuatu yang menurut saya kita bisa sukses di situ tetapi berkah Allah hilang," papar Haedar.

Dirinya yakin, dengan semangat ikhlas ini, kita juga akan berani berkorban untuk kepentingan orang lain. Persaudaraan antara Muhammadiyah dan NU harus meletakkan kecintaan terhadap sesama melebihi kecintaan kepada diri sendiri.

Baca Juga : Tagar UIN Malang Sadar Trending, Kampus Telah Siapkan 4 Skema untuk Mahasiswa Ma'had

"Terus kita rajut ukhuwah. Kalau terjadi perbedaan-perbedaan yang alamiah, juga jangan terlalu gampang goyah, tabayun, dan lain sebagainya," kata Haedar.

Menurut Haedar, PP Muhammadiyah dengan PBNU sering bertemu dalam dewan dakwah dan lain sebagainya. Tatkala ada persoalan-persoalan, keduanya selalu saling tabayun. Dan itu merupakan tradisi yang sangat bagus.

"Modal ini harus kita bangun. Termasuk bahwa di tengah covid-19 ini, bolehlah sebelum ini kita saling berbeda satu sama lain. Tetapi kemudian kita terus rajut sebagai satu bentuk bahwa Islam itu rahmatan lil alamin dengan cara memberi solusi. Jangan sampai Islam menjadi beban," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Berita MalangWebinar UIN MalangUIN MalangTerus Rajut UkhuwahKetua Umum PP MuhammadiyahDr Haedar Nashir

Berita Lainnya

Berita

Terbaru