Ilustrasi wisuda Yayasan Hidayatul Mubtadi-in. (Sumber: Instagram PG-TA Hidayatul Mubtadi'in)
Ilustrasi wisuda Yayasan Hidayatul Mubtadi-in. (Sumber: Instagram PG-TA Hidayatul Mubtadi'in)

MALANGTIMES - Sejumlah wali murid di TA Hidayatul Mubtadi-in mengeluh. Pasalnya, sekolah bersikeras mengadakan prosesi wisuda di tengah pandemi Covid-19. 

Dalam sebuah grup WhatsApp (WA) milik sekolah, keluhan-keluhan itu diutarakan oleh wali murid. Mereka khawatir jika acara akhirussanah tersebut akan membahayakan putra-putrinya karena pandemi Covid-19 belum berakhir.

Baca Juga : Hari Pertama PPDB, SMKN 4 Layani 4 Ribu Masyarakat melalui WhatsApp Bot

 

Kepada media ini, salah satu wali murid yang tidak ingin disebut namanya menyampaikan keluhannya.

"Saya dengan wali murid lain itu keberatan masalah wisuda. Karena wisuda ini ngumpulkan anak-anak. Kita yang nggak mau di situ. Ini kok terkesan dipaksakan harus ada wisuda," ucap salah seorang wali murid saat dihubungi melalui telepon tersebut.

Dia mengungkapkan, selama berbulan-bulan lamanya keluarganya sudah berusaha keras membatasi anaknya agar di rumah saja untuk melindungi dari wabah.

"Sekarang ada kan kerumunan massa aja nggak boleh. Anak-anak sekolah aja kan juga masih belum pasti masuknya kapan. Ini kok memaksakan untuk harus ada wisuda," timpalnya.

Apabila memang wisuda hanya untuk foto-foto pun, katanya, kegiatan itu juga bisa dilakukan di rumah masing-masing.

"Kalau foto-foto kenapa kok harus mengumpulkan? Foto dari rumah kan bisa. Nggak harus foto-foto di sekolah. Kalau hanya foto-foto saya boleh bilang nggak masuk akal juga, kenapa harus foto-foto di sekolah?" keluhnya.

Namun demikian, dirinya tak keberatan kalau orang tua lah yang diundang untuk mengambil ijazah. Namun, apabila anak yang juga harus ke sekolah atas dasar foto-foto, dirinya sangat keberatan.

"Kalau anak yang datang meskipun 9 ataupun berapa, enggak tahu kalau dari 9 itu kalau misalkan ada yang tertular siapa yang tanggung jawab?" ucapnya.

Wali murid tersebut meminta agar sekolah tidak memaksakan meski hanya foto-foto. Sebab, tujuannya adalah kelulusan. Tidak harus keluar rumah dan foto-foto di sekolah.

"Kan hanya membutuhkan bahwa putra saya pernah belajar di sekolah atau TK ini. Kan sudah, tujuannya itu. Kalau dari atas dasar ini ya lucu juga. Kalau saya bilang dipaksakan," ungkapnya.

Soal dana wisuda, wali murid ini menyampaikan bahwa kesepakatan sebelumnya adalah wisuda bisa memakai dana tabungan yang setiap bulannya selalu dibayar wali murid.

"Kalau untuk wisuda ini bayar lagi. Kalau kemarin sih wali murid kalau memang ada wisuda ya pakai dana tabungan yang setiap bulannya selalu dibayar oleh wali murid. Cuman kan dana tabungannya nggak tahu, apakah ada atau tidak kita nggak tahu," paparnya.

Dalam grup WA tersebut, salah satu wali murid juga mengungkapkan dirinya keberatan menanggung biaya wisuda tersebut karena situasi pandemi ini. Dia berharap dana wisuda yang tidak jadi bisa dialokasikan untuk menutupi kewajiban wali murid yang kurang sebab SPP-nya juga belum terlunasi.

"Kalau ada acara wisuda melibatkan anak tolong jangan. Kita hanya keberatan masalah wisuda. Kalau masalah pembayaran SPP tidak, monggo, itu memang hak dari sekolah. Tapi kalau wisuda jangan," tegas wali murid yang dihubungi media ini melalui telepon tersebut.

Dikonfirmasi ke pihak sekolah melalui telepon WA, Kepala TA Hidayatul Mubtadi'in Desti Putri Ekasari menyampaikan, bahwa acaranya hanyalah foto-foto. Tidak ada kegiatan lain.

Baca Juga : PPDB Hari Pertama, SMKN 6 Layani Masyarakat yang Gaptek dengan Protokol Kesehatan Ketat

 

"Ini acaranya itu cuma foto itupun cuma 9 anak per harinya. Apa ada salah?" katanya.

Ia menjelaskan, tidak ada acara apapun selain foto-foto tersebut. Anak hanya datang untuk foto. Tidak ada acara menyanyi ataupun mengaji.

"Sebenarnya kan acaranya awal itu di UM di gedung Sasana Krida, tapi karena keadaan seperti ini yang tidak memungkinkan. Tapi kan kita juga butuh kenangan anak-anak untuk akhir tahun, jadi kami mengadakan 9 anak per harinya dengan protokol kesehatan," paparnya.

Nanti, lanjutnya, anak datang akan dicek suhu terlebih dahulu, kemudian cuci tangan, lalu memakai masker. Duduknya pun juga sudah diatur sedemikian rupa. Jadi terpisah antara satu orang dengan yang lain. Jaraknya cukup luas karena aulanya juga luas. Dikatakannya, pihaknya sudah menyiapkan APD lengkap.

"Satu hari itu dua shift. Kami mengadakan 3 hari. Satu shiftnya masing-masing 9 anak. Ada yang 6 anak," ujarnya.

Soal dana wisuda, dirinya menyatakan bahwa uang gedung di UM sudah di-DP. "Uang gedung itu kan memang kita sudah DP untuk gedung itu, harusnya kembali juga," katanya.

Lantaran tidak jadi menyewa gedung, media ini pun menanyakan apakah dana wisuda itu akan kembali ke wali murid. Namun Desti tidak menjawab.

"Ya mungkin itu aja yang bisa saya sampaikan. Karena saya juga nggak tahu ya, saya juga nggak mengundang Njenengan juga. Kami di sekolah tidak mengundang dari Njenengan juga untuk meliput kami," ucapnya.

Sementara tujuan media meliput ialah untuk membantu masyarakat, dalam hal ini wali murid, serta mengawal jalannya pendidikan di kota Malang. Perlunya konfirmasi ke pihak sekolah adalah agar berita yang disampaikan berimbang.

Tak lama setelah wawancara telepon, Kepala TA mengungkapkan bahwa pengumuman wisuda yang sebelumnya beredar sebelumnya masih wacana.

"Kemarin kami menshare pengumuman masih wancana. Jika memang banyak yang tidak setuju maka tidak apa-apa. Kami memahami kondisi saat ini," pungkasnya.