Mat Mochtar bersama Wali Kota Surabaya Risma
Mat Mochtar bersama Wali Kota Surabaya Risma

MALANGTIMES - Belum berhasilnya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam membendung laju Covid-19 di kota yang dia pimpin menuai kecaman.

Kali ini kritik datang dari internal kader PDI Perjuangan Surabaya sendiri. Yakni, tokoh senior asal Madura, Mat Mochtar.

Baca Juga : Sandiaga Uno Gabung Relawan Jokowi Saat Bagi Sembako, #GoodbyeSandiagaUno Trending!

Sosok yang dulu mendukung Risma mati-matian itu kini berbalik arah. Dia tidak lagi memberikan dukungan kepada Risma.

"Bu Risma itu Walikota terbaik dunia tapi tidak terbaik akhirat. Ini hasil rekayasa politik. Hanya pencitraan semata," ujarnya kepada SurabayaTIMES.

Menurut dia rekayasa ini kemudian memunculkan sebuah kemunafikan. "Sehingga Allah murka dengan diturunkan wabah corona. Dan wabah ini tidak bisa direkayasa," tegas dia.

Mat Mochtar melanjutkan, Wali Kota Risma menerima akibatnya karena apa yang dilakukan selama ini hanya pencitraan semata. "Ini hasil dari pemimpin yang munafik. Di akhir masa jabatannya Bu Risma dihinakan dengan kelakuannya sendiri," lanjutnya.

"Semoga kita tidak seperti bu Risma yang penuh dengan kepalsuan. Jadilah kita ini manusia yang bertakwa dan beriman," lanjutnya.

Mat Mochtar juga sempat menyentil adanya kasus Jalan Gubeng yang ambles. "Risma pernah meradang gara-gara sejumlah warga menginjak-injak bunga di Taman Bungkul. Tapi cukup tenang sewaktu Jalan Gubeng ambles. Risma sama sekali tidak marah," imbuhnya.

Terpisah, melihat adanya kritik tajam dari kader internal partai ini, Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Adi Sutarwijono coba mendinginkan suasana. 

Baca Juga : Mengaku Mendapat Tugas Kawal Sanusi ke Kandang Banteng, Ketua PCNU Kabupaten Malang: Itu Kurang Elok

"Yang saya tahu, Wali Kota Bu Risma telah bekerja keras untuk kemajuan Surabaya. Kreatif dan inovatif," ujarnya membantah pernyataan Mat Mochtar.

Adi sapaan akrabnya juga menilai di masa pendemi Covid-19, Wali Kota Risma tidak pernah henti bekerja. "Dengan menggerakkan seluruh sumber daya yang dipunyai dan bisa diakses. Demi Surabaya bisa segera melalui masa pendemi Covid-19," imbuh pria yang juga mantan wartawan ini.

Laju Covid-19 di Kota Pahlawan sementara ini memang belum berhasil dibendung. Sudah ada 2.495 orang dinyatakan positif. Kemudian 234 diantaranya meninggal dunia dan yang sembuh baru 200 orang.