Salah satu pasien covid-19 di Kabupaten Malang yang meninggal dunia saat prosesi pemakaman (Foto : Istimewa)
Salah satu pasien covid-19 di Kabupaten Malang yang meninggal dunia saat prosesi pemakaman (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Menjelang masa transisi new normal life, angka kematian akibat terjangkit covid-19 di Kabupaten Malang  terus meningkat. Tercatat, hingga tadi sore (Sabtu 30/5/2020) sekitar pukul 16.14 WIB, sudah ada 12 jiwa yang dinyatakan meninggal dunia karena positif corona.

”Kalau saya sendiri merasakan kami kebobolan, sampai ada yang meninggal dunia (karena covid-19). Itu terjadi karena physical distancing terhadap orang-orang yang sudah punya penyakit berat atau komorbid tidak dilakukan oleh mereka. Jadi, yang meninggal dunia tersebut adalah orang-orang yang memiliki riwayat penyakit komorbid,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo.

Baca Juga : 17 Orang Meninggal Sehari, Persentase Kematian Covid-19 di Surabaya Lampaui Nasional

 

Terbukti, lanjut Arbani, pasien yang tidak memiliki riwayat penyakit lain bisa sembuh meski dinyatakan positif mengidap covid-19. ”Rentang usia yang terpapar covid-19 di Kabupaten Malang itu antara 3 bulan hingga usia 80 tahun. Yang paling muda adalah bayi 3 bulan dan sekarang sudah dinyatakan negatif covid-19,” ujar Arbani.

Sebagai informasi, merujuk pada data yang dihimpun Satgas Covid-19 Kabupaten Malang, hingga berita ini ditulis, total ada 77 pasien yang dinyatakan positif covid-19. Dari jumlah tersebut, 28 di antaranya dipastikan sudah sembuh. Sedangkan 12 lainnya dinyatakan meninggal dunia. 

Jumlah pasien yang dinyatakan meninggal tersebut selalu mengalami peningkatan sejak Kamis (28/5/2020) lalu. Saat itu tercatat hanya ada 10 kasus pasien yang dinyatakan meninggal karena covid-19.

Bergeser sehari kemudian, tepatnya Jumat (29/5/2020), jumlah pasien yang meninggal bertambah 1 jiwa sehingga menjadi 11 kasus. Hingga hari ini (Sabtu 30/5/2020) sore, jumlah kematian karena covid-19 kembali bertambah menjadi 12 kasus.

”Sebenarnya kalau dibandingkan penyakit lain, angka kesembuhan (covid-19) cukup tinggi. Hanya, mereka (yang memiliki penyakit komorbid) tidak paham bahwa mereka itu rentan terpapar covid-19. Akibatnya fatal. Jadi, kami agak kebobolan di situ (angka kematian),” ucap Arbani.

Baca Juga : Pemasok Mesiu Petasan yang Tewaskan Seorang Kakek Berstatus Buron

 

Untuk pasien positif sisanya, masih menurut Arbani, 8 di antaranya masih menjalani perawatan di rumah sakit, 18 orang menjalani isolasi mandiri, dan 11 pasien di gedung observasi.

”Dari jumlah tersebut (pasien positif covid-19), rata-rata yang paling banyak terpapar covid-19 yang berusia di atas 50 tahun,” ujar pria berkacamata ini.