Dendi Santoso (Instagram Arema FC)
Dendi Santoso (Instagram Arema FC)

MALANGTIMES - Tahukah kalian bahwa Dendi Santoso pernah mendapat julukan 'Dewa Mabuk' oleh manager Arema era tahun 2008, Ekoyono Hartono?

Julukan itu diberikan gara-gara badannya yang masih kurus kering tidak seperti pemain sepak bola lainnya.

Baca Juga : Malang Raya Akan PSBB, Pemain Arema Ajak Aremania Begini

Namun, meski badannya kecil tak lantas membuat permainan Dendi lemah.

Justru fisiknya membuat Dendi lebih gesit dalam menghindari tackling lawan.

Siapa yang menyangka, Dendi Santoso adalah satu dari beberapa pemain yang sangat loyal terhadap sebuah tim bernama Arema.

Sejak masuk menjadi bagian dari Akademi Arema tahun 2004, kemudian berlanjut masuk ke skuat Arema Junior U-18 yang berlaga di Piala Soeratin Liga Remaja Nasional dan berhasil membawa juara. 

Karena penampilan yang apik itu akhirnya Dendi masuk ke skuat B senior alias Arema U-21 dan tak lama kemudian promosi ke tim senior.

Perjalanan panjang Dendi Santoso yang kini menjadi pemain senior Arema FC pun tidak semudah yang dibayangkan orang awam.

Sebelum masuk ke Akademi Arema iapun sempat menjalani proses panjang, mulai harus naik angkot ke tempat latihan hingga pamer jersey ke mal.

Hal itu diungkapkan Dendi Santoso didalam YouTube El Kepet yang menceritakan kisah perjalanan mulai dari Akademi Arema hingga dijuluki Dewa Mabuk.

"Saya ini dikasih tahu orang-orang bahwa julukannya Dendi Santoso dulu adalah Dewa Mabuk," tanya El Kepet.

"Mereka lihat Dendi Santoso sekarang mainnya enak. Pemain bayaran banyak, tapi mereka ini kan tidak tahu awal karirnya, kamu di akademi itu gimana," sambungnya.

Baca Juga : Lini Depan Arema FC Masih Belum Siap Hadapi Liga 1 2020

"Perjalanan dari akademi itu tidak dibayar, dulu kita cukup beli koran terus ada formulir diisi terus dikumpulkan, dan aku dulu beli kaos kostum latihan itu Rp 60 ribu. Nah, itu langsung saya pakai ke Matos (salah satu mal di Kota Malang)," kenang Dendi.

Bahkan untuk sampai di tempat seleksi, Dendi pun harus berupaya keras karena naik angkot atau jalan kaki adalah usaha yang harus ditempuhnya. 

"Nah dari berapa ratus ribu orang seleksi, langsung saya pakai. Seleksinya di Sengkaling waktu itu. Kebanyakan dulu kan saya pulang dari sekolah SMPN 13 itu otomatis naik angkot (GML), oper di Landungsari terus ke Sengkaling. Kalau tidak gitu ya jalan bareng dengan Al Farizi, Sunarto dari Landungsari itu sekitar jam 2an jalan bareng meskipun jaraknya lumayan," ungkap Dendi.

"Pulangnya kadang ya naik angkot lagi, seneng kadang juga ada orang yang orang tuanya punya dibarengin," tambahnya.

Kala itu, Dendi dilatih oleh Alm Setyo Budiarto, Joko 'Gethuk' Susilo dan Yanuar 'Begal' Hermansyah dan masuk ke Akademi Arema angkatan kedua setelah Alfarizi, Fariz Bagus, Aji Saka.

"Kalau dulu sih obsesinya saya ingin jadi pemain Arema, apalagi di akademi. Tapi kalau menyangka saya itu masih jauh waktu itu usianya masih akademi belum Arema Junior," kata Dendi.

Lanjut Dendi, panggilan Dewa Mabuk yang disematkan Ekoyono Hartono memang karena pemain Arema FC yang dulunya sekolah di SMK Muhammadiyah (atau lebih dikenal Kamdol di Jalan Galunggung) itu memiliki tubuh yang kurus tapi memiliki gocekan maut.

"Yang memberikan julukan itu dulu sebenarnya manajer Arema Senior Pak Ekoyono dulu. Mungkin dulu saya itu kecil jadi oleng, terus jarang fitnes jarang nge-gym jadi ga begitu kokoh beda sama lainnya," terang Dendi.