Ilustrasi seorang mahasiswi rantau yang tidak bisa mudik bertemu keluarga saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi seorang mahasiswi rantau yang tidak bisa mudik bertemu keluarga saat perayaan Hari Raya Idul Fitri. (Foto: Istimewa)

MALANGTIMES - Momentum Hari Raya Idulfitri dinanti sebagian besar masyarakat di Indonesia, terlebih oleh para mahasiswa rantau yang berada di kota orang untuk menimba ilmu. 

Pada saat kondisi pandemi Covid-19 yang sedang melanda ini, terselip kisah haru yang dialami mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya angkatan 2019 bernama Frisca Octavia. 

Frisca mengungkapkan bahwa dengan kondisi pandemi Covid-19 saat ini, dirinya terkadang merasa sedih tidak dapat berkumpul dengan keluarga. Terlebih pada Hari Raya Idul Fitri momen yang telah ditunggu-tunggu, tetapi harapan itu sirna begitu saja akibat pandemi Covid-19 ini. 

"Perasaan saya ya sedih mas, karena nggak bisa pulang ketemu keluarga, apalagi sekarang momen ramadhan dan hari raya lebaran dan baru kali ini saya nggak ngerayain baremg keluarga," ungkapnya pada pewarta, Kamis (21/5/2020).

Frisca yang merupakan mahasiswa rantau berasal dari Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur mengatakan, bahwa untuk menutupi rasa sedih dan kangennya kepada keluarga, dirinya seringkali melakukan video call. 

"Kadang buat nutupin rasa kangen ke keluarga biasa nelpon atau vidio call sama keluarga dirumah. Kadang juga ketemu beberapa teman yang sama-sama gabisa mudik dan masih di Malang," kata Firsca.

Frisca juga menambahkan bahwa saat bersama teman-teman yang bernasib sama tidak dapat mudik dan bertemu keluarga pada saat Hari Raya Idul Fitri, mereka terkadang berkumpul melalui beberapa aplikasi dengan asik mengobrol hingga terasa bahagia kembali.

"Ketemu mereka terkadang bisa nutupin rasa kangen kalo lagi asik ngobrol sama mereka rasanya juga hangat seperti ngumpul sama keluarga. Terkadang tugas dan baca buku bisa menjadi pelarian dari kangen ke keluarga, kalau udah sibuk nugas biasanya lupa," imbuhnya.

Terkait kebutuhan dirinya selama berada di Malang, Frisca mengungkapkan bahwa dana yang diberikan oleh keluarga untuk dicukupkan sesuai kebutuhan sehari-hari.

"Untuk kebutuhan di Malang sebenarnya dari keluarga dicukup-cukupin aja untuk kehidupan sehari-hari, walaupun terkadang kurang karena pendemi Covid-19 pun cukup mempengaruhi bisnis dari orang tua," ungkapnya.

Selain pemberian dari orang tua, Frisca mengatakan bahwa dirinya juga mendapatkan bantuan dari pihak Universitas Brawijaya (UB) berupa sembako yang dapat membantunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta bantuan dari anggota dewan di Balikpapan.

"Cukup terbantu juga dengan bantuan dari UB berupa sembako berisikan beras, mie, sarden, dan lain-lain. Cukup untuk makan beberapa minggu. Untuk pemerintah sendiri saya dapat dari DPRD di Balikpapan kampung saya berupa dana untuk memenuhi kebutuhan pokok di malang yang cukup untuk beberapa minggu juga seperti bantuan dari kampus bedanya berupa dana," jelas Frisca. 

Sementara ini, bantuan yang diterima Frisca selama kondisi pandemi Covid-19 selain dari orang tua yakni juga dari pihak kampus UB dan anggota dewan di Balikpapan. Untuk bantuan kebutuhan dari Pemerintah Kota Malang, Frisca mengaku belum mendapatkan bantuan tersebut.

Pada saat pandemi Covid-19 sekarang ini, Frisca berharap agar pandemi Covid-19 cepat berakhir dan semua diberikan kesembuhan dan bersiap untuk hidup normal seperti awal lagi. Untuk pemerintah agar lebih peka dan menaruh perhatian kepada mahasiswa rantau yang memilih menetap di Malang karena mematuhi aturan dari Pemerintah Pusat.

"Teruntuk pemerintah harapannya bisa lebih peka terhadap situasi kondisi kami parah mahasiswa. Karena saat pandemi Covid-19 sudah menaati peraturan pemerintah termasuk larangan mudik. Diharapkan pemerintah juga bisa membantu dalam bukti nyata untuk setidaknya sedikit meringankan kebutuhan selama pandemi Covid-19 ini," pungkasnya.