El Kepet saat vlog menceritakan tradisi Blanggur di depan Masjid Jami' (screenshot YouTube)
El Kepet saat vlog menceritakan tradisi Blanggur di depan Masjid Jami' (screenshot YouTube)

MALANGTIMES - Eks dirigen Aremania Joseph 'El Kepet' mengenang bagaimana kebiasaan warga Kota Malang dalam menghabiskan waktu puasa menjelang berbuka, tradisi tersebut dinamakan 'Blanggur'.

Setiap daerah pasti memiliki kebiasaan atau tradisi baik dalam melaksanakan suatu kegiatan atau apapun. Karena hal itu akan diikuti oleh masyarakat atau penduduk setempat meski hanya sebatas menunggu waktu berbuka puasa.

Baca Juga : Ada Kenangan Pahit Mario Gomez saat di Stadion Kanjuruhan

Di era tahun 1980 an, masyarakat Kota Malang akan senantiasa menunggu waktu berbuka puasa di daerah sekitar Alun-alun Jalan Merdeka. Kenapa seperti itu?

Eks dirigen Aremania, Yoseph 'El Kepet' yang pada era tersebut masih menjadi remaja mengatakan bahwa saat-saat menjelang berbuka puasa adalah hal yang paling ditunggu oleh masyarakat Kota Malang karena saking asyiknya berbaur dengan yang lain.

Akan tetapi sangat disayangkan, El Kepet yang ingin mengenang tradisi Banggur saat bulan puasa ini terpaksa harus tiada akibat penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah Malang Raya.

"Ini tadi saya di alun-alun sepi ternyata, soalnya ada physical distancing, jaga jarak tidak boleh bergerombol. Nah, ini tadi rencananya saya mau lihat Blanggur," ucap El Kepet dalam akun YouTube nya.

"Dulu itu kalau mau buka puasa meski nunggu Blanggur, tapi berhubung sekarang ada corona sekarang ini malah sepi alun-alunnya," imbuhnya.

Dikatakan El Kepet, Blanggur juga diisi petasan yang mempunyai letusan yang cukup besar sehingga masyarakat Kota Malang bisa menyaksikan dengan gembira.

"Kalau sekarang sudah tidak ada, soalnya mengagetkan kayak kembang api yang besar. Tapi itu ditanam di tanah sekitar 1 meteran terus dinyalain dan terbang ke atas dan mbledos," ungkapnya.

Baca Juga : Membuka Kenangan NIAC Mitra, Penakluk Klub Dunia dari Jawa Timur

Sekarang lanjut El Kepet, tradisi Blanggur itu sudah mulai tidak ada sejak era tahun 90an. "Dulu itu yang nyalain namanya Bapak Soleh tapi tidak tahu lagi. Kalau sekarang itu mungkin jadi artis ngetop daerah, soalnya bagian nyalain Blanggur," katanya seraya tertawa.

Tahun 90an memang sudah dikuasai oleh teknologi sehingga keseruan untuk berbondong-bondong tidak bisa dilakukan karena sudah bisa melalui chatting atau telepon.

"Dulu sebelum ada TV, radio belum ramai, bahwa penanda buka puasa itu Blanggur dari alun-alun ini tadi, tradisi ini sudah ada di Jawa Timur. Mulai tahun 80-90an sudah terkalahkan oleh teknologi, kata orang-orang biaya nya besar," imbuhnya.

Ternyata, bukan hanya untuk menunggu buka puasa, untuk merayakan hari kemenangan atau hari raya Idul Fitri, Blanggur juga menjadi alat untuk penanda. "Blanggur semua itu ada 40, 3 kali dinyalain awal puasa dan 3 kali akhir puasa, malam takbir, sisanya setelah salat Ied," kenang El Kepet.