Petugas BNN saat melakukan test urin kepada para pecandu narkoba yang ada di Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Petugas BNN saat melakukan test urin kepada para pecandu narkoba yang ada di Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada sosial dan ekonomi saja. Namun jumlah peserta rehabilitasi yang ditangani BNN (Badan Narkotika Nasional) Kabupaten Malang, juga terpengaruh.

Terbukti, hingga pertengahan bulan Mei 2020, tepatnya pada hari Senin (18/5/2020), jumlah pasien rehabilitasi yang ditangani BNN Kabupaten Malang menurun drastis. Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum adanya Covid-19.

Baca Juga : Salurkan 6.052 Zakat Maal dan Bansos, Bupati Blitar Apresiasi Pengusaha Beky Hendriansyah

”Sejak Januari hingga pertengahan bulan Mei 2020, jumlah peserta rehabilitasi yang kami tangani sejumlah 14 orang,” kata Kasi Rehabilitasi BNN Kabupaten Malang, Mohammad Choirul.

Belasan peserta rehabilitasi itu, lanjut Choirul, semuanya menjalani masa pemulihan dari ketergantungan obat-obatan terlarang di klinik Ariel Medika, yang ada dibawah naungan BNN Kabupaten Malang.

”Sebanyak 14 peserta rehabilitasi yang kami tangani tersebut, semuanya menjalani proses rehabilitasi dengan metode rawat jalan,” ungkap Choirul.

Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, masih menurut Choirul, jumlah peserta rehabilitasi di tahun 2020 ini memang mengalami penurunan dari segi kuantitas.

Dari data yang dihimpun BNN Kabupaten Malang, pada tahun 2019 lalu tercatat ada ratusan peserta yang menjalani rehabilitasi akibat ketergantungan narkotika.

”Tahun lalu (2019) tercatat ada 101 peserta yang menjalani rehabilitasi dibawah pengawasan BNN Kabupaten Malang,” terang Choirul.

Menurut pria berkaca mata ini, menurunnya jumlah peserta rehabilitasi bukan disebabkan karena jumlah pecandu menurun. Namun faktor utamanya adalah karena adanya faktor force majeur.

”Semenjak adanya pandemi Covid-19, kami (BNN Kabupaten Malang) kesulitan untuk menjangkau para pecandu narkoba,” keluh Choirul.

Baca Juga : Viral Video Kepala Desa Protes Kebijakan Gubernur Hingga Presiden Terkait Bantuan

Wajar saja, banyak regulasi yang harus ditempuh BNN sebelum menyatakan seseorang kecanduan narkoba. Bahkan untuk mengklasifikasikan tingkat kecanduannya, yakni ringan hingga berat, BNN dituntut untuk melakukan pemeriksaan baik dari segi psikis maupun medis.

”Tidak bisa langsung menjalani rehabilitasi. Kita harus menyesuaikan tingkat ketergantungannya terhadap obat-obatan seperti apa. Sedangkan untuk melakukan test tersebut, kita terkadang diharuskan untuk bertatap muka secara langsung. Apalagi saat melakukan konseling saat pemulihan dari kecanduan tersebut,” dalih Choirul.

Karena kendala itulah, jumlah pasien rehabilitasi di Kabupaten Malang sejauh ini terdata hanya ada 14 peserta.

”Sejak ada Covid-19 kami hanya fokus merehabilitasi pasien yang dulu-dulu (sebelum covid-19). Berarti sekitar bulan Maret (2020) kami relatif tidak menambah jumlah peserta rehabilitasi, dikarenakan adanya pandemi tersebut,” pungkasnya.