Ist
Ist

MALANGTIMES - “Aku mencintaimu."

"Sejak kapan?"

"Sejak awal."

"Kenapa? Bukankah kita sahabat?"

"Sejak awal, kamu memang perempuan yang aku cintai."

"Tapi, kita sahabat...."

"Aku mencintaimu."

Percakapan itu adalah hal terakhir yang dilakukan Pandora dengan Abi. Pengakuan yang mengejutkan, di atas bangku beton yang seringkali mereka pakai untuk bercerita ataupun mengerjakan tugas kampus. Saat itu Abi menggenggam tangan Pandora, namun Pandora berulang kali mencoba melepaskannya. Berkali-kali Abi mencoba menggenggamnya, tapi berulang kali pula Pandora mencoba menepisnya. Mata Pandora tak lepas dari mata Abi. Mata yang biasanya menyipit karena selalu tersenyum saat bicara padanya itu, berubah menjadi mata sayu penuh harap. Pandora seperti tak mengenali Abi lagi, seseorang yang telah lama ia anggap sebagai sahabat. Sahabat yang ia ceritakan segalanya. Tentang kencannya, keluarganya, dan banyak hal.

Ini mimpi atau apa?

Baca Juga : Misteri Seringnya Terbangun di Malam Hari - Sebuah Tips

Batinnya tak berhenti bertanya. Butuh waktu yang tak sebentar untuk meresapi apa yang ia terima dari Abi. Pandora tak menyangka, benar-benar tak menyangka. Ia selalu bercerita tanpa sensor. Semuanya ia ceritakan, semuaaaaaanyaaaa. Lalu ia mengernyitkan kening. Pantas saja Abi tak pernah bercerita tentang kencannya dengan gadis manapun. Ah iya benar, tak satu pun perempuan yang pernah ia kencani. Lalu, aku? Aku, mmm...

Pandora berusaha mengingat sudah berapa laki-laki yang ia ceritakan pada Abi. Ia mulai menghitung, sudah berkencan dengan siapa saja. Robby, Beno, Rasya mmmm... Nata, Tito mmm...

Pandora menggaruk-garuk kepalanya, lalu menghentak-hentakkan kakinya. Itu baru sebagian laki-laki di kampus yang sempat berkencan dengannya. Belum terhitung lagi laki-laki di tempat kursus bahasa Inggris-nya bersama Abi. Lalu bartender tempatnya biasa nongkrong dengan Abi, dan beberapa DJ yang sempat dekat dengannya.

Aaaakkhhh!!!

Pandora merebahkan dirinya dengan kasar di atas kasur. Menutup wajahnya dengan bantal.

Gila! Gila! Gila! Kamu benar-benar gila, Abi! Gilaaaaaaa!!!

***

Tak terasa hampir dua bulan Pandora tak berbicara dengan Abi. Beberapa kali ia menangkap gelagat Abi akan mendekatinya tapi ia menghindarinya. Ia juga menghindari bertemu ataupun berpapasan dengan Abi, meski mereka satu kampus dan seringkali di kelas yang sama. Dulu mereka selalu duduk berdampingan saat kuliah maupun ujian. Mata Pandora tidak bisa melihat dengan jelas tulisan slide show milik dosen. Makanya, seringkali ia melihat catatan Abi. Tulisan tangan Abi rapi, sedangkan milik Pandora tak lebih rapi dari tulisan pada resep dokter.

***

"Pan...,” panggil Abi setengah berteriak

"Kita ngomong sebentar, bisa?"

Pandora sebenarnya ingin menghidar, tapi tangan Abi terlanjur mencengkeram pergelangan tangannya.

"Sekali ini saja, Pan, setelahnya terserah kamu. Kamu mau menghindari aku, mau tidak menemui aku lagi, mau hubungan kita sampai di sini. Terserah. Tapi ada yang harus aku selesaikan denganmu."

Pandora tak menjawab, tapi ia mengikuti ke mana Abi membawanya. Ya, Pandora tahu, Abi akan membawanya ke bangku beton yang sering mereka duduki itu.

"Pan, maaf. Maaf kalau aku berbohong."

Iya! Kamu sudah berbohong, Bi!

"Tapi aku mencintaimu, itu tidak bohong. Sejak awal, Pan, sejak pertama kali kita dekat. Berulang kali aku mencari waktu untuk mengungkapkannya. Tapi pada saat bersamaan, kamu menceritakan kedekatanmu dengan seorang lelaki. Aku mundur sejenak, memberikan kamu waktu untuk menjalani hubungan. Sampai saat kamu putus dan menangis, aku berusaha membantu mengobati dan menunggu kamu sembuh dan mengungkapkan perasaanku. Tapi aku selalu keduluan dengan ceritamu yang sudah dekat kembali dengan lelaki lain. Dua puluh tiga lelaki, Pan, aku menghitungnya. Tapi kali ini aku tidak mau keduluan, jadi ini yang aku lakukan. Mengungkapkan perasaanku. Aku mencintaimu, aku mencintaimu."

Pandora tak menjawab tapi menatap lurus pada Abi. Meresapi kata-kata yang keluar dari mulut Abi dan mengulang kenangan apa saja yang sudah mereka lakukan bersama. Beberapa pertanyaan mulai muncul di benaknya, ia berusaha menyusunnya untuk ditanyakan satu persatu.

"Dari kapan, Bi?"

"Dari semester awal."

Pandora menggali ingatannya ke semester awal ketika ia mulai berkenalan dengan Abi. Seorang lelaki dengan rambut ikal agak panjang, dan diikat seadanya. Matanya sipit dengan alis tebal. Bibirnya selalu tersenyum. Dan, ya, Pandora mengingatnya. Abi selalu duduk di sampingnya. Selalu terlambat bersamaan. Selalu menyodorkan pulpen yang seringkali tak dibawanya. Ya, Pandora mulai mengingatnya, bagaimana Abi selalu membukakan pintu kelas, lalu berjalan bersamaan dengannya menuju kantin, memesan makan bersama. Dan, ya, Pandora mulai menyadari sudah lama ia tak lagi memesan makanan kampus karena Abi selalu datang lebih dulu membawa pesanannya.

"Bi....”

"Mmm?”

"Apa dari awal kamu tidak menganggap aku sebagai sahabat?"

Kali ini Abi yang terdiam. Dia tertunduk, seperti sedang memikirkan apa jawabannya. Lalu ia melemparkan pandangannya pada bus-bus kampus yang terparkir di sebelah bangku beton tempat mereka duduk. Lamaaaaaa, lama ia diam. Lalu tatapannya berpaling pada Pandora.

"Kalau begitu pertanyaanmu, aku bingung harus menjawab apa. Tapi dari awal, aku sudah mencintaimu. Sebagai seorang perempuan. Aku nyaman berada di sampingmu dan mendampingimu. Kalau itu kenyamanan seorang sahabat buatmu, berarti jawabannya adalah aku juga menganggapmu sahabat."

Pandora diam sambil menjentik-jentikkan kukunya.

"Pan, apakah kamu masih butuh waktu? Atau kita akhiri sampai di sini saja?"

Mata Pandora membulat. Ia sangat kaget dengan pertanyaan Abi barusan. Entahlah, desir yang entah apa itu, terasa di dadanya. Pandora tak menjawab, ia diam. Dan terus menatap Abi dengan mata membulat.

"Hmmm...?" gumam Abi dengan nada bertanya.

Pandora masih diam. Matanya perih dan masih menatap Abi.

"Baiklah. Aku tak mau hubungan kita mengambang seperti ini, Pan. Biarlah aku saja yang memutuskan...."

Detak jantung Pandora mengencang. Di ujung lidahnya hendak mengeluarkan kata-kata tapi tak bisa terucapkan.

".... Kita cukupkan sampai disini saja, ya. Supaya kita tidak sama-sama terluka atau saling melukai. Biar saja perasaan ini aku simpan sendiri. Yang penting aku sudah mengungkapkannya dan aku sudah lega. Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi sebaiknya aku harus mencukupkan. Kalau kamu tidak bisa lagi bersahabat denganku karena perasaanku ini, baiklah... Sebaiknya aku mundur dari hubungan ini. Memang salahku yang terus mengulur waktu untuk mengungkapkannya. Salahku juga terlalu baik menyimpan apa yang aku rasakan. Jadi, kita jalani hidup kita masing-masing. Maaf, karena telah membuatmu bingung. Tapi, mungkin akan lebih melegakan kamu kalau seperti ini. Bye, Pandora, jaga dirimu baik-baik, ya."

Abi melepaskan genggaman tangannya pada Pandora. Menatapnya sesaat lalu berjalan meninggalkan Pandora dan tidak menoleh ke belakang. Meninggalkan Pandora yang masih dengan mata bulatnya yang semakin perih. Lalu mata itu mulai berkaca-kaca dan beberapa saat kemudian pecah menjadi tangisan. Isak tangisnya keras sekali. Ia ingin berhenti tapi tak bisa. Pandora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia berusaha membungkam tangisnya yang kian meledak-ledak.

***

Tiga bulan kemudian, setelah liburan semester berakhir. Pandora kembali ke kampus. Ia melihat banyak wajah baru di sana. Ah iya, ia lupa, mereka adalah mahasiswa baru. Pandora melewati ruangan sekretariat OSPEK. Biasanya ia selalu ikut aktif dalam kepanitiaan, tapi entahlah tahun ini, Pandora hanya ingin berlibur di rumah. Menghabiskan waktu menonton serial drama Korea kegemarannya.

Wajah yang tak asing dilihatnya di kantin kampus. Duduk bersebelahan dengan wajah asing.

Abi...

Batinnya.

Dan siapa perempuan itu?

Setelah beberapa hari Pandora kuliah, akhirnya ia bisa merangkai cerita tentang apa yang ia lihat di kantin kampusnya waktu itu. Perempuan yang bersama Abi itu bernama Loli, seorang mahasiswa baru. Tampaknya Abi dan Loli akrab semenjak OSPEK. Ya, Pandora tahu, Abi adalah tipe kakak kelas yang baik hati dan selalu tersenyum pada adik-adik kelas. Abi tidak pernah memberi hukuman pada mahasiswa baru, kadang-kadang ia mengajak mahasiswa baru laki-laki untuk duduk ngopi bersamanya. Ya, mungkin karena itu Loli jadi tertarik pada Abi. Loli perempuan bertubuh mungil yang suka memakai rok. Rambutnya selalu digerai dan selalu menebar wangi rose. Loli selalu saja tertawa di samping Abi.

***

"Abi...,” Pandora menyapa Abi ketika menyadari Abi melewatinya saat duduk di bangku beton.

Abi menoleh sesaat padanya.

"Kamu sibuk, Bi?"

"Aku ditunggu Loli. Kenapa, Pan?"

Pertanyaan itu seakan menyiratkan bahwa Pandora bukanlah siapa-siapa lagi untuk Abi. Bukan lagi sahabatnya. Bukan lagi perempuan yang dicintainya.

"Ah enggak, ya sudah, lain kali saja."

Pandora tersenyum. Abi tersenyum. Tapi Abi segera berlalu.

Ada desir seperti rasa sakit di dada Pandora. Sempat ia mengelus dadanya.

Desir apa ini?

***

Tanpa sadar Pandora menatap cukup lama ke arah Abi dan Loli. Ia memesan steak ayam dengan saus black pepper, seperti biasanya. Tapi kali ini sama sekali tidak disentuhnya. Lalu pandangan Abi bertemu dengannya. Pandora berkedip dan baru sadar kalau dari tadi ia memperhatikan apa yang Abi dan Loli lakukan. Buru-buru ia menyambar pisau dan garpunya, memotong-motong steak ayamnya dan mencocolnya pada saus black pepper.

Bego! Bego! Begoooo! batinnya.

***

Kira-kira sudah tiga bulan. Ia menghitung umur hubungan Abi dan Loli.

Oh Tuhan, apa yang aku lakukan?!

Pandora menyaksikan hubungan Abi dan Loli semakin menghangat. Ia tahu Abi adalah tipe lelaki penyayang. Siapa pun, laki-laki atau perempuan, pasti sangat nyaman berhubungan dengannya. Abi tidak pernah berhenti membuat orang-orang di sampingnya tersenyum dan tertawa.

Bi...

Pandora terdiam. Menyadari sesuatu dalam batinnya.

Bi... Aku rindu kamu...

***

Pandora menekan tombol speed dial lima di handphone-nya. Nomor panggilan cepat untuk nomor Abi.

"Hallo, Pan...."

Pandora terdiam. Suara Abi membawa desir dalam dadanya.

"Hai, Bi....”

"Ada apa, Pan?"

"Kamu di mana?"

"Di kantin."

"Sibuk?"

"Enggak, sih, lagi ngobrol aja sama Loli."

Loli! Loli! Loli!

Pandora benci sekali mendengar nama itu. Meski ia tahu, Loli tak mempunyai kesalahan apapun padanya.

"Mengganggu, gak?"

"Ah enggak, santai aja. Ada apa, Pan?"

"Boleh kita bicara, Bi? Di tempat biasa...."

"Oke."

"Bye, Bi...."

"Bye."

Pandora merasa suara Abi begitu dingin. Entahlah, biasanya dia merasa suara Abi begitu hangat.

Sekitar satu jam Pandora duduk di bangku beton. Menoleh sesaat, melihat-lihat apakah Abi sudah datang. Belum ternyata..

Baca Juga : Misteri Hilangnya Sepotong Ayam Goreng di Meja Makan - Sebuah Tips

Setengah jam kemudian. Pandora memeriksa handphone-nya. Tidak ada pesan maupun telepon dari Abi. Ia bangkit, mengitari sekitar, melihat-lihat apakah ada Abi. Tidak ada ternyata.

Akhirnya, Pandora memutuskan untuk melihat-lihat timeline di media sosialnya. Tanpa ia sadari ada seseorang yang sudah duduk di sampingnya.

"Pan...."

Pandora terlonjak kaget lalu menoleh dan melihat sosok di sampingnya.

"Bi...."

Desir itu kembali dirasakan oleh Pandora. Ia meraba dadanya.

"Sudah lama? Maaf tadi aku anter Loli pulang dulu, ternyata di tengah perjalanan temannya telepon minta dijemput karena motornya rusak. Jadi balik dulu jemput temannya baru anter mereka pulang."

Pandora samar mendengar penjelasan Abi. Tapi yang paling disadarinya adalah dengan cepat ia menyambar Abi, memeluknya erat dan menangis. Tangisnya sama kerasnya ketika Abi meninggalkannya terakhir kali. Namun Abi tak balas merangkulnya, tidak seperti biasa yang ia lakukan. Abi malah memegang tangan Pandora dan berusaha melepaskan pelukan Pandora. Sejenak Pandora terkesiap.

"Maaf, Pan, tak seharusnya kita begini.”

Mata basah Pandora menatap Abi, dalaaaam sekali.

"Abi, aku kangen kamu...."

Abi menunduk, lalu membuang pandangannya pada bus-bus yang terparkir di sebelah bangku beton.

"Bi...." Pandora mengguncang paha Abi.

"Bi... Lihat ke sini, dong!"

Abi menoleh ke arah Pandora. Mata Pandora merah dan basah.

"Bi... Peluuuukk...."

Abi tak menyadari matanya berkaca-kaca. Kalimat yang seringkali Pandora ucapkan saat ia sangat membutuhkan Abi. Membutuhkan sandaran bahu Abi. Membutuhkan kehangatan peluk Abi. Dadanya berdesir hebat. Detak jantungnya sangat kuat. Ia merasakan sakit dan sedih secara bersamaan.

"Apa maksudmu, Pan?"

"Aku kangen kamu, Bi. Aku kangen dipeluk sama kamu. Aku kangen ngobrol sama kamu. Aku kangen kamu, Biiiii...."

Pandora kembali memeluk Abi. Dan Abi kembali menepisnya.

"Apa maksudmu, Pan?"

Pandora berusaha merangkai kata-katanya di tengah isaknya. Ia berusaha menyusun kalimat untuk mewakili perasaannya.

"Bi, entahlah... Aku tidak bisa menjelaskan maksudku. Tapi yang jelas yang aku rasakan adalah aku rindu segalanya tentang kamu. Suaramu, senyumanmu, leluconmu, pelukanmu...."

Pandora berhenti karena menangis. Ia berusaha menghapus air matanya.

"Bi, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku. Apa ini? Berulang kali aku bertanya pada diriku sendiri, apa ini? Sampai sekarang pun aku tidak tahu jawabannya. Tapi sungguh, aku benar-benar rindu kamu. Aku berusaha untuk menahannya, tapi aku merasa dadaku begitu sakit. Bi, apa ini?"

Pandora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tangisnya benar-benar pecah.

"Kamu mencintaiku, Pan... Yang kamu rasakan itu adalah perasaan cemburu karena aku berpacaran dengan Loli."

Iyakah? Benarkah aku mencintai Abi? Benarkah aku cemburu pada Abi dan Loli?

"Tapi keadaannya sudah jauh berbeda, Pan....” Abi menelan ludahnya. Ia terdiam sejenak. Matanya menerawang dan kosong.

"Aku dan Loli... Hubungan kami langgeng dan baik-baik saja. Loli perempuan yang ceria. Kami hampir tidak pernah bertengkar. Kami sangat nyaman dengan hubungan kami. Aku senang berada di sampingnya, Pan. Dan aku bahagia."

Abi kembali terdiam, lalu ia menatap mata Pandora yang begitu sayu menatapnya. Abi merasakan desir yang sama ketika ia menatap mata Pandora untuk pertama kali. Abi berusaha kuat menepisnya, menepis perasaan yang dulu pernah ia rasakan pada Pandora.

"Jadi sebaiknya kita tetap seperti ini, tidak berhubungan lagi, Pan.”

"Kenapa?!" Pandora sedikit meninggikan suaranya.

"Karena kamu masih mencintaiku, ya, kan, Bi? Perasaanmu masih sama, kamu belum berhenti mencintaiku. Kamu juga merasakan apa yang aku rasa. Kamu rindu denganku. Jawab aku, apa pernah sekali saja saat bersama Loli kamu memikirkan aku?"

Abi terdiam. Ia masih menatap mata basah Pandora.

"Jawab, Bi, jawaaaabb... Iya kah?!"

"Enggak pernah. Dan aku tidak merasakan seperti yang kamu rasa. Yang ada di hati dan pikiranku hanya Loli, hanya Loli."

Deg!

Pandora terdiam.

Bodoh! Bodoh!

Ia mengumpat dirinya sendiri. Pandora menyesali yang baru saja ia lakukan. Tapi ia tetap tidak terima.

"Kamu bohong, Bi, bohong... Aku tahu kamu. Aku tahu tatapan itu, gelagat itu. Aku tahu kamu masih mencintaiku."

Abi bangkit dari duduknya.

"Jangan ganggu aku lagi, Pan. Terima kasih."

Abi meninggalkan Pandora begitu saja. Tanpa menoleh. Tanpa melihat ke belakang. Meninggalkan Pandora dengan mata dan hatinya yang basah. Pandora menangis sesenggukan.

Aku bodoh, Bi. Aku sangat bodoh. Seharusnya aku mengetahui perasaanku sendiri. Ya, ternyata aku juga mencintaimu. Desir itu ternyata pertanda bahwa aku juga mencintaimu. Perasaan sakit itu ternyata adalah kecemburuanku melihatmu bersama Loli. Aku bodoh, bodoh sekali harus menyadari ini setelah semuanya terlambat. Setelah kamu memiliki kenyamanan dengan perempuan lain. Perempuan yang katamu ceria, perempuan yang katamu bisa membuatmu nyaman dan bahagia. Baiklah, baiklah... Mungkin ini akhirnya. Aku yang harus menyembuhkan luka yang kubuat sendiri. Luka dari kebodohanku sendiri. Biarlah waktu yang membawa prosesnya. Tapi suatu saat nanti, suatu saat ketika kamu kembali mengungkapkan perasaanmu, aku tidak akan berpikir begitu lama. Karena aku sudah menyiapkan jawabannya.

Aku juga mencintaimu, Abi.

***

Di sudut lain kampus, seseorang duduk terhenyak di belakang setir mobil. Matanya memerah dan basah. Ia memegang dadanya yang berdenyut kencang. Desir-desir kesakitan dirasakan oleh dadanya. Sampai-sampai ia mencengkeram kuat kemejanya.

Semoga saatnya nanti perasaanmu tidak berubah. Masih menungguku, masih mencintaiku. Semoga kamu memaafkanku untuk saat ini. Semoga kamu masih di sana sampai pada saat aku memiliki waktu untuk kembali mengungkapkan perasaanku.

Aku mencintaimu, Pandora, masih dan selalu.

Tunggu masanya, nanti kita akan saling mencintai dalam suatu hubungan. Tunggu aku, tunggu aku, Pan...

 

Profil penulis

Devi @drh_devi

Perempuan kelahiran Bali, 13 april 1986. Berzodiak aries. Penikmat senja dan angin subuh.  Seorang dokter hewan, wirausaha, dan istri yang doyan ngomel. Prinsip hidup fight until you die karena hidup adalah perjuangan. Semangat!

Tulisan-tulisan Devi dapat ditengok di www.labirinperempuan.com