Sumber: Pinterest
Sumber: Pinterest

Hai, namaku Ryo. Aku anak rantau yang tinggal di sebuah kamar kos di Surabaya. Kuliah adalah kegiatan wajibku, dan pulang ke kos adalah passion-ku setelah main. Karena jarak antara kos dan kampus tidak terlalu jauh, maka kebahagiaanku terasa dekat sekali. Kosku ini cukup bagus dan bersih, karena meskipun berstatus kos laki-laki, setiap hari ada 2 orang tukang bersih-bersih yang membersihkan seluruh bangunan kos (kecuali kamar). Bangunan dua lantai berbentuk letter U ini berisi 20 kamar, 2 kamar mandi luar, 1 ruang tamu bersama, dan 1 dapur umum. Jangan khawatir, di setiap kamar juga ada kamar mandi dalamnya. Letak kamar mandi luar dan dapur bersisian, yaitu di bawah tangga lantai 1. Sedangkan letak ruang tamu tepat di depan pintu gerbang masuk kos. Nah, sudah terbayang, kan, bentuk kosku seperti apa?

Lalu, ini kisahku. Beberapa hari ini aku mengalami kejadian aneh yang tidak pernah kualami sebelumnya. Setiap jam 2 dini hari, aku selalu terbangun dengan kondisi berkeringat dingin. Kucoba menerka-nerka, ada apa denganku? Iseng, kuceritakan yang kualami ini ke teman-temanku di group chat kampus. Sambil tertawa mereka bilang kalau aku diganggu setan.

Setan!

Baca Juga : Misteri Hilangnya Sepotong Ayam Goreng di Meja Makan - Sebuah Tips

 

Jelas saja aku tidak percaya. Tapi, setelah lebih dari seminggu berturut-turut kejadian ini kualami, aku mulai resah dan gelisah. Jangan-jangan...

Asem! Aku ke dokter saja.

Yang nebak aku bakal ke dukun, harap bersabar. Karena sepulang kampus hari ini, dengan jantung berdebar kudatangi rumah sakit terdekat dengan mengendarai motorku. Semakin lama jantungku semakin berdebar. Kampret! Aku ingat, aku belum makan rupanya. Kulirik jam tangan, sudah jam 3 sore. Ya pantes... Kubelokkan sepeda motorku ke arah penjual nasi pecel. Sepiring nasi pecel lauk telur bali dan segelas es teh manis terburu-buru masuk ke perutku. Selesai makan, kukebut motorku menuju rumah sakit. Ndang mari, ndang uwes (agar segera selesai, red-), begitu pikirku.

Masuk ke poli dokter umum, aku merasa awkward, hahaha... Sudah lama tidak ke dokter, dan rasanya seperti kembali menjadi anak kecil. Dokter memeriksa ini itu, dan kami berbincang ini itu. Akhirnya dokter mendiagnosisku sedang mengalami gangguan pencernaan. Kenapa sampai terbangun dini hari dan berkeringat dingin? Itu karena aku sering makan berat sebelum tidur malam. Gusti... Kadang aku merasa dokter seperti dukun. Memang, sudah seminggu ini, tiap jam 10-11 malam aku makan berat terus. Suka lupa makan sampai telatnya berjam-jam. Iya, iya, jangan marahi aku.

Anyway, sekarang masih jam 6 sore dan aku pun berniat untuk makan malam. Pulang ke kos dengan sebungkus nasi goreng telur ceplok di tangan, hatiku riang karena merasa semua akan baik-baik saja. Makan, minum air putih yang banyak, minum obat, lalu kulangkahkan kakiku keluar kamar dan memandang langit malam. Ciee...

Kuambil smart phone-ku dari kantong celana, dan dengan nada mengejek kusampaikan pada teman-temanku kalau ternyata aku ini sakit dan bukan diganggu setan. Lalu, tak lupa kukirimkan beberapa tips, untuk menghindari penyakit gangguan pencernaan ini:

1.      Makan yang benar. Makan telat dan makan sampah tidak diperbolehkan, karena kamu bukan manusia super atau kambing.

2.      Beri jeda pada waktu makan dan waktu tidurmu. Makan sambil tidur atau tidur sambil makan juga dilarang. Pokoknya jeda. Spasi. Sama seperti kata Dee Lestari, “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?”. Oke, ini mulai melantur.

3.      Minum air putih yang banyak. Dikira-kira saja, jangan terlalu banyak juga, karena kamu manusia dan bukan sapi glonggongan.

4.      Jangan stress, ya. Pokoknya jangan.

5.      Olahraga dan tidur yang cukup. Klise, dan seringkali cuma jadi semboyan karet. Ugh!

Beberapa hari kemudian, setelah lepas dari teror terbangun di tengah-tengah tidur malam, dini hari ini aku terbangun lagi. Kuraba keningku, tidak ada keringat dingin di sana. Tapi perutku malah mengirimkan sinyal darurat. Mules, euy. Aku segera berlari ke kamar mandi kamarku, yaaah... Bak mandiku kosong. Kutepuk jidatku karena tadi lupa mengisinya, dan setiap jam 12 malam pompa air di kos selalu dimatikan. Berpikir cepat, aku pun berlari menuruni tangga menuju kamar mandi di lantai 1. Kubuka pintu kamar mandi, dan terlihat air di bak mandinya masih penuh. Aman, pikirku. Gini, nih, gara-gara tadi makan malam pakai nasi pedas gila.

Selesai menunaikan kewajiban, aku keluar dari kamar mandi dengan perasaan lega. Lega karena misi pembuangan selesai, dan juga lega karena terbangun tanpa berkeringat dingin seperti beberapa waktu yang lalu. Sebelum beranjak naik tangga, sekilas kulihat ada seseorang di dapur umum. Eh, ada yang lagi masak kali, ya? Kuintip ke ruang dapur, dan kulihat ada seorang perempuan sedang berdiri membelakangiku. Oh, ternyata benar ada yang lagi masak, pikirku. Kulanjutkan langkah kakiku menuju kamar. Kukunci pintu dan menghempaskan diri ke atas kasur. Ah, nikmatnya.

Baru beberapa detik memejamkan mata, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Aku bangun sampai loncat dan terduduk di tempat tidur. Kosku ini, kan, kos laki-laki. Lalu, perempuan di dapur itu siapa?

Oh, sial!

—————————————————————

Tentang penulis

Nama:

Desyi E. Setyaningrum

Akun medsos:

1. @desyi_setya (Instagram)

https://instagram.com/desyi_setya?igshid=emnokkwuzozp

2. Desyi E. Setyaningrum (Facebook)

https://www.facebook.com/desyikasetya

Profil: