Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto. (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pengajuan penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) oleh Pemerintah Daerah (Pemda) di Malang Raya telah disetijui Kementerian Kesehatan (Kemenkes). 

Dengan demikian, baik Kota Malang, Kota Batu dan Kabupaten Malang sudah bisa menerapkan PSBB sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. 

Baca Juga : Pemerintah Kabupaten Malang Siap PSBB Sesuai Arahan Gubernur Jatim

Salah satu yang menjadi perhatian kala PSBB diterapkan, yakni persoalan aktivitas di pasar rakyat. 

Selama ini, pasar tidak masuk dalam kebijakan pembatasan jam operasional lantaran menjadi akses masyarakat untuk memenuhi setiap kebutuhan. 

Hal ini juga disadari oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. 

Karenanya, ketika penerapan PSBB di Malang Raya dimulai, Pemprov Jatim memberikan sejumlah rambu-rambu khusus untuk diterapkan di pasar-pasar tradisional. 

Seluruh pasar rakyat, dianjurkan berdesain social distancing. 

Ada dua metode untuk penerapan pasar rakyat social distancing tersebut. 

Yaitu, dikonsep dengan memindahkan pasar ke jalan dan berjarak 4 meter antar bedak. 

Ataupun, dengan menerapkan sistem ganjil genap dalam aktivitas di pasar rakyat untuk jam buka setiap harinya. 

Menanggapi hal itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang masih akan mengambil langkah yang dirasa sesuai kebutuhan. 

Hal itu diungkapkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto. 

Di Kota Malang sendiri, menurut dia Pasar Oro-Oro Dowo telah dinilai memenuhi kualifikasi yang menerapkan konsep pembatasan jarak tersebut. 

"Saran dadi provinsi (pasar rakyat berkonsep social distancing). Di sini itu Pasar Oro-Oro Dowo sudah dinilai tertib dalam menerapkan protokol kesehatan. Bisa saja nanti solusinya ganjil genap," ujarnya. 

Baca Juga : Langgar Aturan PSBB, Pemkot Malang Siapkan Teknis dan Sanksi Melalui Perwal

Artinya, pemberlakuan aktivitas di pasar rakyat nanti akan dijadwalkan agar memenuhi kriteria pembatasan jarak yang sesuai. 

Nantinya, setiap bedak yang berjualan akan diberlakukan sesuai nomor ganjil dan genap. 

"Jadi itu nanti misalnya hari ini yang buka genap, besok yang buka ganjil misalnya dari stan-stan atau bedak itu. Sehingga jaraknya terjaga," imbuhnya. 

Namun, untuk pemberlakuan tersebut ia menyebut Pemkot Malang masih akan melakukan rapat koordinasi. 

Pemkot juga masih mempertimbangkan opsi pemindahan pasar di area jalan dengan ketentuan berjarak antar bedak 4 meter. 

"Pilihan untuk pasar mungkin masih akan kita bahas. Semacam apa pilihannya apakah ganjil genap, atau meluber ke jalan kan semuanya ada konsekuensinya. Nanti (Selasa, 12/5) InsyaAllah akan dirapatkan," tandasnya. 

Diberitakan sebelumnya, Sekda Pemprov Jawa Timur, Heru Tjahjono mengatakan penerapan Pasar Rakyat berkonsep social distancing menjadi pilihan merupakan salah satu upaya untuk tidak menutup perekonomian di masyarakat juga sebagai pencegahan penyebaran penularan Covid-19. 

Sebab, selama ini proses seseorang tertular penyakit ini melalui interaksi antar sesama manusia.