Ilustrasi ketupat. (Foto: http://amp.oppo.baca.co.id/)
Ilustrasi ketupat. (Foto: http://amp.oppo.baca.co.id/)

MALANGTIMES - Lebaran akan semakin terasa lengkap jika kita menyantap ketupat. Bertahun-tahun lamanya, ketupat menjadi salah satu hidangan utama pada saat hari raya Idul Fitri di Indonesia dengan berbagai macam masakan. 

Tentu, sebuah kenikmatan tersendiri ketika menyantap ketupat lengkap dengan opor ayam di pagi hari sebelum salat Idul Fitri. Yummy!

Baca Juga : Yummy! Ini Dia 10 Sajian Kue Legendaris yang Selalu Ditemui Tiap Lebaran

 

Ketupat merupakan salah satu penyajian lain dari nasi yang dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-sehari masyarakat Indonesia. Bentuk ketupat sangat khas karena dibungkus dengan selongsong atau wadah terbuat dari janur atau daun kelapa muda berbentuk kantong yang kemudian ditanak.

Meskipun demikian, selongsong ketupat tidak selalu dibuat dari janur, misalnya di Sulawesi selongsong ketupat dibuat dari daun pandan. Ketupat dapat disimpan selama beberapa hari karena cara pengolahannya yang cukup lama.

Untuk membuat ketupat, terutama anyamannya, diperlukan daya kreatif tersendiri agar dapat menghasilkan kantong anyaman janur yang cantik. Memang tidak semua orang dapat membuat ketupat dan untuk dapat membuat ketupat perlu mempelajari cara menganyamnya. 

Ketupat sangat populer di Indonesia, bahkan hampir setiap daerah memiliki hidangan khas berbahan ketupat ini. Penyebutan nama ketupat pada setiap daerah di Indonesia berbeda-beda. 

Di Pulau Sumatera misalnya, ketupat biasa disebut dengan “katupek”, di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur biasa disebut “kupat”, di Jakarta dan sekitarnya biasa menyebutnya “ketupat”, di Kalimantan ada yang menyebutnya “pesor”, orang Makassar menyebutnya “burasa”, serta di Bali disebut “tipat” atau “kipat”. 

Ketupat juga menjadi salah satu hidangan utama pada saat hari raya Idul Fitri di Indonesia dengan berbagai macam masakan. Hal ini tentu menimbulkan sensasi tersendiri karena ketupat sangat cocok apabila disajikan bersama kuah atau dengan kuah yang terbatas (Dapur Aliza, 2010).

Dilihat dari segi bentuknya, ketupat mempunyai nilai seni dan apabila dilihat dari maknanya, ketupat merupakan ungkapan budaya yang mengandung falsafah hidup yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, yaitu sebagai dasar dalam bersikap dan bertindak.

Nah, berikut ini beberapa falsafah hidup dari ketupat dilansir dari buku "Makanan Tradisional Indonesia" karya Murdijati Gardjito, Eni Harmayani, dan Umar Santoso.

1. Ketupat terdiri atas beras/nasi yang dibungkus daun kelapa muda/janur (bahasa Jawa). Beras/nasi adalah simbol nafsu dunia dan janur yang dalam budaya Jawa jarwa dhosok adalah “jatining nur” (sejatinya nur), yaitu hati nurani. Jadi ketupat dimaksudkan sebagai lambang nafsu dan hati nurani, artinya agar nafsu dunia dapat ditutupi oleh hati nurani.

Baca Juga : Nongkrong Suasana Asri, Sejuk, dan Tenang Tak Jauh dari Pusat Kota Malang

 

2. Ketupat yang dalam bahasa Sunda juga disebut “kupat”, dimaksudkan agar seseorang jangan suka ngupat, yaitu membicarakan hal hal buruk pada orang lain karena akan membangkitkan amarah.

3. Ketupat dalam budaya Jawa sebagai jarwa dhosok juga berarti “ngaku lepat”. Dalam hal ini, terkandung pesan agar seseorang segera mengakui kesalahannya apabila berbuat salah.

Tindakan “ngaku lepat” ini telah menjadi kebiasaan atau tradisi pada tanggal satu Syawal, yaitu setelah melaksanakan ibadah puasa dengan menyediakan hidangan ketupat berikut lauk pauknya di rumah sehingga disebut dengan ketupat Lebaran. Semua ini sebagai simbol pengakuan dosa, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa maupun terhadap sesama manusia.

4. Ketupat pada saat tertentu digunakan sebagai pelengkap sesaji dalam upacara daur hidup, yaitu untuk pelengkap sesaji selamatan usia kehamilan empat bulan dengan jenis ketupat yang digunakan adalah ketupat jago, ketupat sinta, ketupat sido lungguh, dan ketupat luwar.

Selain memiliki makna mendalam, ketupat juga memiliki nilai sosial pada suku tertentu. Misalnya di beberapa kalangan di Jawa, ketupat sering digantung di atas pintu masuk rumah sebagai jimat. Sedangkan di Bali, ketupat juga sering dipersembahkan sebagai sajian dalam upacara adat.