Kekerasan Fisik hingga Tak Terima Gaji, ABK Indonesia Ungkapkan Duka Kerja di Kapal Asing

May 10, 2020 13:01
Jenazah ABK WNI dibuang ke laut (Foto: BBC)
Jenazah ABK WNI dibuang ke laut (Foto: BBC)

MALANGTIMES - Pekerjaan sebagai Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia di kapal asing mendadak menjadi sorotan setelah salah satu jenazah dilarung ke laut.  

Berbagai fakta tak terduga pun akhirnya terungkap.  

Mulai dari sistem kerja, hingga makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh ABK Indonesia saat bekerja di kapal asing.  

Kini, fakta baru kembali terungkap mengenai kekerasan yang diterima oleh ABK WNI saat bekerja di kapal asing.  

Kekerasan terhadap ABK WNI rupanya akan terus terjadi jika mereka tak diberi pembekalan sesuai standar kompetensi dalam melaut.  

Hal itu diusulkan oleh M. Abdi Suhufan dari National Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia.  

Sementara, dikatakan oleh Kementerian Tenaga Kerja melalui Plt Dirjen Binapenta dan PKK, Aris Wahyudi akan melarang ABK WNI yang tidak memenuhi standar untuk bekerja di luar negeri.  

Seperti yang dialami oleh ABK WNI yang disebut menerima kekerasan hingga penahanan gaji saat bekerja di kapal ikan berbendera China, Long Xing 629.  

Terkait hal itu, hingga kini Pemerintah China masih belum memberikan respons.  

Dilansir melalui data Migrant Care, mereka menerima 205 aduan kekerasan terhadap ABK Indonesia di kapal asing.  

Tak hanya itu, aduan juga meliputi penahanan gaji dalam kurun waktu delapan tahun belakangan ini.  

Dikatakan oleh Koordinator National Destructive Fishing Watch (DFW)-Indonesia, M. Abdi Suhufan konflik ini terjadi karena ABK WNI tidak dibekali kemampuan bekerja di atas kapal asing. 

"Ada ABK asal Indonesia yang aslinya tinggal di daerah pegunungan dan tidak mengerti cara melaut, nggak ngerti alat pancing, jaring. Kemampuan bahasa juga tidak dibekali," ujar Abdi. 

Abdi menilai, jika kondisi ini tidak diperbaiki maka para ABK WNI akan rentan dan kejadian seperti itu akan terus terulang.  

Seperti yang dialami salah satu ABK WNI bernama Andrisen.  

Andrisen menceritakan pengalamannya saat bekerja di kapal asing.  

Ia mengatakan jika sejumlah ABK juga sering tidak mengerti apa yang disampaikan oleh pimpinan kapal dengan menggunakan bahasa asing.  

"Kami nggak ngerti. Dimarahin, dibentak-bentak sama dia," ujarnya.  

Selain itu, Andrisen juga menceritakan jika ia bersama teman-teman lainnya sempat ditendang hingga dimaki saat kelelahan.  

"Kami ditendang dan dimaki-maki ketika kelelahan, itu sudah biasa," katanya. 

Tak kuat dengan kekerasan yang dialaminya, ia bersama teman-temannya memutuskan berhenti kerja dan pulang ke Indonesia.  

Hingga kini, Andrisen bahkan mengaku belum menerima gaji selama ia bekerja di sana.

Topik
MalangBerita Malangberita malang hari iniABK Indonesia di kapal asingNational Destructive Fishing WatchM. Abdi SuhufanKementerian Tenaga KerjaPlt Dirjen Binapenta dan PKKAris WahyudiABK WNI

Berita Lainnya

Berita

Terbaru