Dua tersangka pembuat obat ilegal saat digelandang ke ruang penyidikan Satreskrim Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)
Dua tersangka pembuat obat ilegal saat digelandang ke ruang penyidikan Satreskrim Polres Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dua orang tersangka pembuat sekaligus pengedar obat kesehatan ilegal, hanya bisa pasrah saat digelandang petugas ke ruang penyidikan Satreskrim Polres Malang, Selasa (28/4/2020).

Baca Juga : Produksi Obat Kesehatan Tanpa Izin, Dua Warga Kabupaten Malang Diringkus Polisi

Di hadapan penyidik, para tersangka yang bernama Bambang Suliswanto dan Zainul Abidin ini, mengaku terpaksa berjualan obat yang mereka buat secara asal-asalan lantaran kepepet kebutuhan ekonomi.

”Berdasarkan hasil penyidikan sementara, kedua tersangka yang bukan dokter maupun apoteker ini membeli berbagai macam obat dari apotek, kemudian mencampur dan mengemas ulang ke kemasan baru untuk diedarkan secara ilegal,” terang Kapolres Malang, AKBP Hendri Umar, Selasa (28/4/2020).

Meski mengaku belajar secara otodidak dan tidak memiliki keahlian khusus meracik obat. Kedua tersangka mengaku jika obat yang dibuat dengan komposisi asal-asalan tersebut, dapat berkhasiat untuk mengobati segala penyakit. Terutama sakit asam urat, sakit gigi, hingga gusi bengkak.

”Obat yang dibuat oleh kedua tersangka ini tidak memiliki izin edar, karena tidak terdaftar di BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) serta tidak ada keterangan lulus hasil tes mutu dari Dinkes (Dinas Kesehatan),” terang Kapolres Malang.

Seperti yang sudah diberitakan, kedua tersangka diamankan anggota Satreskrim Polres Malang, saat keduanya sedang meracik obat ilegal di rumah produksi yang ada di Desa Bulupitu, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang.

Selain mengamankan kedua tersangka, polisi juga menyita seabrek obat-obatan ilegal, serta peralatan dan kemasan untuk pembuatan obat. Dari pengakuannya, kedua tersangka yang merupakan warga Kecamatan Gondanglegi ini, mendistribusikan obat ilegal yang mereka buat ke toko rumahan serta ke beberapa pasar yang ada di wilayah Malang Raya. Selain itu, polisi juga tidak menutup kemungkinan jika obat ilegal yang dibuat kedua tersangka, sudah diedarkan hingga ke wilayah perbatasan Kabupaten Malang seperti Pasuruan dan Probolinggo.

”Terhadap kedua tersangka kami jerat dengan pasal 197 juncto pasal 106 ayat 1, dan pasal 196 juncto pasal 98 ayat 2, dan ayat 3 undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan. Sedangkan ancaman pidananya, kurungan penjara paling lama 15 tahun,” tutup Kapolres Malang dengan pangkat dua melati dibahu ini.

Baca Juga : Beraksi Saat Covid-19, Pelaku Kejahatan Siap-Siap Ditembak Anggota Polres Malang

Ditemui media online ini saat menjalani pemeriksaan di Polres Malang, tersangka Bambang mengaku mulai belajar meracik obat kesehatan ilegal sejak 2018 lalu. ”Saya belajarnya ke dia (tersangka Zainul), dalam sebulan bisa produksi 100 hingga 120 renteng obat,” ucap tersangka Bambang sembari menunjuk ke arah tersangka Zainul.

Dalam setiap produksi, tersangka Bambang mengaku mendapatkan keuntungan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. ”Produksinya sesuai pesanan, tidak setiap hari buat obat. Saya produksinya di satu tempat dengan teman saya (Zainul),” ucap tersangka Bambang.

Ditemui di saat bersamaan, tersangka Zainul mengaku mulai mengeluti dunia peracikan obat ilegal sejak tahun 2011 silam. ”Awalnya mencontoh dari obat asli, caranya tanya ke apoteker apa kandungan dan komposisi obatnya,” terang Zainul.

Setelah mengetahui komposisi dan kandungan dalam obat legal tersebut, tersangka kemudian membeli bahan bakunya ke apotek lainnya. Kemudian tanpa memiliki takaran yang jelas, tersangka kemudian meracik obat ilegal yang dia buat hanya berdasarkan takaran perkiraan.

”Dalam satu bulan biasa produksi rata-rata 100 hingga 150 renteng obat, satu renteng berisi 20 bungkus. Sedangkan per renteng saya jual dengan harga antara Rp 12 ribu hingga Rp 13 ribu,” ungkap tersangka Zainul.

Sedangkan untuk kemasan obatnya, lanjut tersangka, dirinya mengaku memesan kepada tukang sablon yang ada di wilayah Kota Malang. ”Dalam sekali produksi, saya bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta,” pungkasnya.