Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg (kiri) bersama dengan para Ahli Kesehatan UIN Malang dalam acara Syiar Ramadhan. (Foto: istimewa)
Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg (kiri) bersama dengan para Ahli Kesehatan UIN Malang dalam acara Syiar Ramadhan. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Peradaban Islam telah mengenal ilmu kedokteran. Banyak buku dan penemuan yang terkait dengan bidang ilmu kesehatan dan kedokteran yang menjadi bukti bahwa tokoh Islam memberikan kontribusi besar bagi bidang ilmu kesehatan dan kedokteran yang digunakan hingga saat ini.

Baca Juga : Akademisi UIN Malang Kupas Tuntas dan Serukan Ukhuwwah

Salah satunya adalah Kitab Penyembuhan dan Qanun Kedokteran Al-Qanun fi At Tibb yang ditulis oleh Avicenna atau Ibnu Sina. Hingga kini karya dan temuan Bapak Pengobatan Modern tersebut masih menjadi rujukan dalam bidang kesehatan di dunia.

Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) Prof Dr Abdul Haris MAg menyampaikan, buku ini menjadi rujukan di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Malang.

"Teman-teman mahasiswa Fakultas Kedokteran UIN Maulana Malik Ibrahim menjadikan ini (Al-Qanun fi At Tibb) sebagai referensi. Karena ini adalah warisan nenek moyang kita di masa lampau," ucapnya belum lama ini

Prof Haris menjadi host Diskusi Tematik "Al-Qur'an, Puasa, dan Kesehatan" dalam Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. Diskusi digelar di hall Rektorat UIN Malang dengan memperhatikan physical distancing. Para narasumber adalah para akademisi, ahli-ahli kesehatan UIN Malang.

Dalam diskusi tersebut, Dr dr Achdiat Agoes SpS menyampaikan bahwa puasa itu sangat menyehatkan. Karena itulah Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk berpuasa.

Agoes lantas membeberkan bagaimana puasa bisa menjadikan tubuh sehat dari perspektif ilmu kesehatan. "Dalam tubuh kita itu terjadi suatu pertukaran zat yang kita namakan metabolisme. Di dalam keadaan tidak berpuasa, metabolisme akan berlangsung sedemikian rupa sehingga glukosa di dalam tubuh kita bisa mendapatkan konsentrasi yang tinggi pada orang-orang yang diabetes," paparnya.

Jadi, lanjutnya, justru dengan berpuasa ini orang-orang yang mempunyai penyakit-penyakit metabolisme akan mendapatkan banyak pertolongan.

"Sebab, metabolisme yang tidak teratur akan menjadi teratur kembali," tandasnya.

Membenarkan dr Agoes, Abdul Hakim MPI MFarm Apt menjelaskan, berpuasa akan membatasi jumlah asupan makanan yang kita masukkan di dalam tubuh. Sehingga, terjadi keteraturan dalam tubuh.

"Maka dengan adanya puasa, kerja organ pencernaan akan menjadi lebih baik," kata dia.

Ditambahkan dr I'wal, dari hasil penelitiannya, yang dianggap sebagai obat di dalam Alquran itu tidak hanya obat untuk jasmani saja, tetapi juga untuk rohani. Dan secara eksplisit, Alquran menyebut ada dua obat.

Baca Juga : Rektor UMM Kukuhkan Wakil Rektor, Kursi WR IV Resmi Ditambahkan

"Ada dua hal yang disebut Alquran secara eksplisit sebagai obat, yaitu Alquran itu sendiri kemudian yang kedua adalah madu," pungkasnya.

dr Christyaji Indradmojo SpEm lalu membeberkan konsep sehat. Dikatakannya, syarat utama sehat adalah keseimbangan. "Dan yang perlu diseimbangkan itu adalah input dan output," ucapnya.

Apabila input (yang masuk ke dalam tubuh) itu terlalu banyak kemudian outputnya kurang, artinya kita banyak menerima tetapi pemberian atau pengeluaran itu kurang.

Maka yang terjadi adalah walaupun sebagus apapun sesuatu itu, ketika disimpan dalam suatu tempat yang tertutup maka dia akan berpotensi menjadi sampah, lalu menjadi busuk.

"Sehingga di dalam hal ini sebenarnya secara umum pengobatan di kedokteran itu yang utama adalah kalau tubuh sedang bermasalah atau yang kita sebut sakit, untuk kita kembali sehat, itu bukan obat yang utama, tetapi bagaimana menghentikan penyebabnya," paparnya.

"Hampir keseluruhan penyakit itu sebabnya adalah dari input yang berlebihan," imbuhnya.

Senada dengan narasumber lain, Dr Roihatul Muti'ah SFApt MKes membenarkan bahwa pencernaan, terutama perut itu merupakan sumber sampah.

"Jadi kalau misalnya pencernaan kita dipakai terus menerus itu akan berakibat terganggunya metabolisme dalam tubuh. Sehingga sebenarnya pencernaan ini juga perlu diistirahatkan," tuturnya.

Penelitian menunjukkan bahwa metabolisme dalam tubuh itu terjadi selama 8 jam. Setelah 8 jam, akan ada pembakaran lemak sehingga ada penurunan kolesterol.

Dikatakan Roiha, apabila metabolisme dalam tubuh kita normal dengan adanya istirahat puasa selama 30 hari, terjadi peningkatan fungsi dari organ-organ dalam tubuh kita. "Penelitian menunjukkan bahwa puasa itu bisa menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung, risikonya menurun 58%," pungkasnya.