Diskusi tematik bertema Al-Qur'an dan Ukhuwwah dalam Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. (Foto: istimewa)
Diskusi tematik bertema Al-Qur'an dan Ukhuwwah dalam Syiar Ramadhan 1441 H UIN Malang. (Foto: istimewa)

MALANGTIMES - Banyak ayat dalam Alquran yang menyerukan manusia mempererat dan mengukuhkan ukhuwwah. Bahkan, dengan segala variasi kalimatnya, Alquran menyebut ukhuwwah hingga 80 kali.

Baca Juga : Rektor UMM Kukuhkan Wakil Rektor, Kursi WR IV Resmi Ditambahkan

 

Akademisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) kemudian mengupas tuntas apa yang dimaksud dari ukhuwwah tersebut dalam diskusi tematik di Syiar Ramadhan 1441 UIN Malang belum lama ini.

Diskusi bertema Al-Qur'an dan Ukhuwwah itu digelar di hall rektorat UIN Malang dengan tetap memperhatikan physical distancing (jaga jarak fisik).

"Syiar Ramadhan 1441 H UIN Maulana Malik Ibrahim terus akan mengadakan diskusi Alquran dan membahas berbagai tema. Kali ini kita membahas masalah ukhuwwah Islamiyah," ujar Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg yang bertindak sebagai host membuka acara.

Dr Uril Bahruddin MA membenarkan, 
di dalam Alquran memang banyak sekali ayat yang memerintahkan kepada kita untuk ber-ukhuwwah. Bahkan, katanya, ukhuwwah berhubungan dengan keimanan.

"Artinya bahwa ini (ukhuwwah) merupakan tanda dari keimanan seseorang. Barang siapa yang beriman kalau dia tidak ber-ukhuwwah maka sejatinya dia belum beriman," ucapnya.

Karena itulah Allah berfirman di dalam surat Al Hujurat ayat 10.

"Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Jadi, ukhuwwah wajib hukumnya dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Kata Uril, tanda orang mukmin adalah orang yang selalu ber-ukhuwwah.

Maka dari itu, kata Uril, definisi dari ukhuwwah adalah jalinan atau hubungan yang harus dilakukan oleh seseorang dengan orang lain.

"Barang siapa yang beriman kepada Allah SWT maka wajib hukumnya untuk menjalin persaudaraan. Barangsiapa yang tidak menjalin persaudaraan maka keimanannya itu diragukan, bahkan keimanannya kurang," tandasnya.

Mempertegas penjelasan Uril, Dr H Roibin MHI menyatakan bahwa orang yang mampu membangun al ukhuwwah adalah orang-orang yang beriman.

Namun jika ada dua kelompok orang yang beriman berkonflik keras, kata Roibin, maka damaikanlah dua kelompok itu. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat ayat 10.

"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."

Kenyataan memang, bahkan beberapa muslim pun banyak yang mementingkan ormasnya ketimbang agamanya. Jadi, ukhuwwah tidak terjalin dengan maksimal.

Baca Juga : Atasi Kecemasan Covid-19, Fakultas Psikologi UIN Malang Buka Konseling Online Gratis

 

Maka dari itu Mujahidin Ahmad SPt MSc menyampaikan, inti dari ukhuwah itu adalah melepas egoisme dalam diri seseorang dengan tidak bertindak fanatisme buta terhadap ormas, kelompok, aliran, dan lain sebagainya.

"Karena di dalam Alquran sudah sangat jelas sekali bahwasanya pengikat kita itu adalah tali Allah, bukan tali yang lain. Jadi bukan talinya ormas, bukan talinya kelompok, bukan talinya golongan, bukan talinya partai," tegasnya.

Kata Mujahidin, Allah menyuruh kita untuk bersatu. Dan kita harus sadar bahwa yang bisa menyatukan bukan manusia, bukan metodologi, bukan harta, tetapi yang bisa menyatukan itu hanya Allah.

Sementara itu, Dr H Achmad Khudori Soleh MAg menyampaikan betapa pentingnya ukhuwwah hingga di dalam Alquran istilah ukhuwwah disebut hingga 80 kali, dengan segala variasi kalimatnya.

Nah, masing-masing penyebutan hingga 80 kali itu ternyata memiliki makna yang beragam. Bahkan, ukhuwwah juga bisa terjalin di antara orang yang tidak mukmin.

"Alquran juga mengajari kita bahwa ukhuwwah itu bisa terjadi walaupun bukan saudara. Selain itu, yang disebut ukhuwah itu tidak hanya terkait dengan orang mukmin, tetapi juga komunitas-komunitas yang tidak mukmin. Karena itulah di dalam Alquran ada kelompok-kelompok Firaun, komunitas-komunitas yang tidak beriman pun bisa," bebernya.

Prof Haris menyimpulkan, ada dua solusi untuk membangun ukhuwwah. "Yakni harus berpegang teguh dengan tali Allah dan yang kedua hilangkan rasa dendam," pungkas pria yang hobi menulis puisi tersebut.