Ist
Ist

MALANGTIMES - Hai, namaku Cantik, anak semata wayang dari ayah Bagus dan ibu Indah. Umurku masih 26 tahun. Semalam, aku makan lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyiapkan materi presentasi untuk klienku besok pagi. Setelah selesai makan dan mencuci piring, kusadari masih ada sepotong ayam goreng bagian dada yang tersisa di meja makan. Ayah dan ibuku pasti sudah makan di luar, karena mereka sedang menghadiri undangan reuni teman-teman SMA ayah.

Baca Juga : Kamu adalah Mimpiku

Piring ayam goreng kugeser ke tengah meja, dan kututup tudung saji dengan khidmat. Sebelumnya, aku berpamitan padanya, “Bye, ayam goreng. Tunggu, ya. Aku selesaikan dulu kerjaanku, setelah itu kita bertemu lagi”. Kulirik jam dinding, ah, masih jam setengah 7. Lalu aku masuk ke kamar dan berkutat dengan pekerjaanku.

Jam 10, aku berjalan keluar dari kamarku sambil merenggangkan tangan ke atas kepala. Capek juga. Perutku mulai lapar lagi. Lampu ruang tamu dan ruang makan sudah mati, hanya tersisa bias sinar lampu dari teras samping. Dengan langkah riang kudekati meja makan, sambil membayangkan akan menikmati sepotong ayam goreng dengan nasi hangat dicocol sambal botolan. Tapi, eng ing eng...setelah tudung saji dibuka yang ada hanya kehampaan. Monanges tapi segan, huhuhu...

Kuingat-ingat lagi, apa aku lupa diri sudah makan tapi berharap lebih? Seperti aku dan hubungan kita? Aduh, sedih hati ini. Aku melangkah gontai menuju kamar sambil bertanya-tanya dalam hati, siapa, sih yang tega nian menghancurkan surga duniaku? Sampai aku berangkat pagi-pagi, misteri itu belum terpecahkan juga.

Jam pulang kantor sudah dekat, dan sekotak ayam goreng sudah di pelukan. Kupesan melalui ojek online karena aku tak mau kehilangan detik-detik berhargaku. Ya, pulang kantor tepat waktu tanpa lembur itu anugerah terindah, Beb. Jadi begitu jarum menit jam dinding tepat di angka 6, aku melesat secepat kilat menuju lift. Horeeee pulaaaang!

Di dalam KRL aku sempat menuliskan tips (terutama untuk diriku sendiri) agar ayam goreng tak hilang di meja makan. Berikut tipsnya kalau kalian ingin tahu:

1.      Goreng/beli ayam goreng dalam jumlah yang agak banyak. Hitung jumlahnya, resapi bagian-bagian tubuhnya, agar tak lupa diri, bilangnya hilang ternyata hilangnya ke perut sendiri.

2.      Jangan omeli ayam gorengmu, pokoknya jangan. Biar bumbunya terlalu pedas/asin/hambar/dll, biar ayamnya kurang gizi, terimalah. Mungkin jodohmu (bersama ayam) memang hanya sebatas itu.

3.      Orang lain mungkin menganggap kulit ayam sebagai treasure, tapi bagiku tidak. Treasure bagiku adalah tulang muda kriuk-kriuk. Sisihkan bagian ini di pinggir piring, boleh di sebelah kanan atau kiri, boleh di sudut kemiringan 90 derajat atau lebih, makanlah di akhir sesi makan-makanmu. Yum!

4.      Hitung jarak kamarmu ke meja makan, lalu jarak kamar orang tuamu, jarak ruang tamu, dan kamar mandi. Perkirakan waktu yang ditempuh oleh si pencuri ayam goreng (kalau ada), untuk menghabiskan sepotong dada ayam gendut dengan tulang lunak yang besar. Iya, seperti itu ayamku yang hilang, yang bahkan menghantuiku sampai sekarang. (Aku sabar, aku semangat)

5.      Ikhlaskan. Memang sulit, tapi tak ada sesuatu yang abadi, seperti hubungan kita...

Aku sudah mandi, sudah siap untuk menyantap ayam goreng. Ayah dan ibu kuajak pula, tapi mereka bilang sudah makan nasi goreng sebungkus berdua. Yaaaa... MONMAAP, ROMANTIS-ROMANTISAN-NYA BISA JAUHAN DIKIT, GAK?? Ya udah, aku makan ayam sendirian sambil kusayang-sayang. Ayamku, ayamku sayang. Sisa sepotong ayam bagian dada, lagi-lagi kusisakan untuk nanti, malam-malam setelah aku mengerjakan ini itu lebih dulu.

Tak ingin melewatkan si pencuri (lagi-lagi kalau ada), aku keluar kamar dengan mengendap-endap. Di kegelapan ruang makan, kulihat siluet seseorang sedang berdiri membelakangiku. Alamakjaaang... Dag dig dug hati ini. Kudekati pelan-pelan, dan siluet orang tadi bergerak sedikit. Lalu saat jarakku dengannya hanya tinggal dua meter saja, tiba-tiba orang tadi berbalik, dan... ”SETAAAANNNN,” aku berteriak kencang.

Lampu ruang makan seketika menyala, ayahku datang sambil membawa sapu lidi yang lidinya sudah jarang-jarang tak mau berdekatan, pertanda sudah seringkali dipakai menggebuk kasur. Aku dan si “pencuri” bertatap-tatapan. Pencuri itu memakai baju putih, tingginya tak lebih tinggi dariku, mukanya putih semua, perempuan, dan ternyata ia ibuku. What?

“Kok ibu dikatain setan, sih?” protes ibuku.

Apaan, sih, Bu? Pake masker di muka gitu trus makan ayam gelap-gelapan?” tanyaku kesal karena kaget.

Ibuku nyengir, “Maaf, ya, Sayang. Ibu cuma lapar.”

“Haaa? Lapar? Bukannya kita tadi sudah makan?” ayahku mengambil alih sesi pertanyaan.

“Hehehe... Iya, hehehe... Anu, itu...,” jawab ibuku berbelit-belit.

APAAAA??” tanyaku dan ayah berbarengan

Ayahmu, sih, sok romantis. Tiap makan minta sepiring berdua. Ibu gengsi mau bilang kalo ibu masih lapar. Jadi setelah ayah tidur, ibu makan diem-diem, deh. Hehehe....” ibuku menjelaskan sambil menggoyang-goyangkan tangan ayahku.

Baca Juga : KITAB INGATAN 92

Aku menepuk jidat. Bahkan kisah asmara kedua orang tuaku lebih membara dibanding kisah PDKT-anku yang selalu gagal. Aku berjalan ke arah kamar sambil menahan rasa cemburu di dada. Kenapa aku belum punya pacaaar?

Cantik,” ibu memanggilku.

Aku berbalik, “Ya, Bu?”

“Makasih, ya, ayam gorengnya. Enak banget. Ah, yang kemarin juga enak. Kamu beli di tempat yang sama?” ibuku bertanya dengan polosnya.

Ibu, ayamku, bu. Ayamkuuuu....

—————————————————————

Tentang penulis:

Nama: Desyi E. Setyaningrum

 

Akun medsos:

1. @desyi_setya (Instagram)

2. Desyi E. Setyaningrum (Facebook)

 

Profil: Seorang ibu rumah tangga yang disibukkan dengan kegiatan bergosip bersama suami, lari-larian bersama anak, kadang-kadang dikejar deadline nulis, dan bersama pikiran menjelajah ke mana-mana. Lahir di tahun 1986, sedang tinggal di Kupang, dan menjadi bucin selamanya.