Ist
Ist

Mungkin terdengar terlalu naif jika mimpiku adalah kamu. Tapi iya, itu yang sesungguhnya. Kamu yang sedemikian jauh di negeri antah berantah  yang tentu akan teramat sulit bagiku untuk meraihmu. Meski dalam planet yang sama, tapi jarak ribuan mil membentang diantara aku dan kamu. Hanya bisa bermimpi, sekedar bermimpi dengan sedikit harapan untuk bisa meraihmu. Jangankan meraihmu untuk benar-benar kumiliki, menemuimu saja itu tampaknya mustahil. Tak sedikit biaya yang dibutuhkan dari Indonesia menuju benua eropa. Mungkin sekalangan orang berada mengatakan itu mudah, tinggal beli tiket pesawat, meluncurlah sudah. Tapi bagiku? Aku hanya bisa bermimpi dulu, dan berdoa tentunya, berharap kekuatan dan keajaiban Tuhan datang menghampiri.

***

Saya seorang perempuan pekerja swasta dengan pendapatan yang tidak besar, itu pun termasuk juga saya sebagai tulang punggung keluarga setelah beberapa tahun yang lalu Ayah saya meninggal dunia. Ada Ibu dan adik-adik yang masih membutuhkan biaya hidup dan sekolah. Saya sudah lama mengabaikan kehidupan sosial yang konsumtif, sekedar nongkrong dan secangkir kopi pun saya tidak tertarik, bukan karena apa, di usia produktif seperti saya yang masih 25, kegiatan nongkrong minum kopi adalah trend. Saya hanya khawatir ini menjadi kebiasaan yang menyebabkan adanya pengeluaran berlebihan. Jadi saya lebih baik minum kopi di rumah saja, sambil bermain dengan gawai saya. Bukan game, tapi utak atik media sosial.

Baca Juga : KITAB INGATAN 50

 

Usia 25 tahun biasanya di Indonesia dianggap usia matang untuk menikah. Keluarga saya juga keluarga biasa seperti kebanyakan, yang sering menanyakan dan mendesak kapan kawin. Sementara saya masih asik menghabiskan waktu saya dengan bekerja, bukan tidak terpikirkan untuk kawin seperti kebanyakan teman-teman perempuan saya, namun saya hanya terlalu tengelam dalam pekerjaan. Pekerjaan-pekerjaan tambahan juga saya ambil untuk mencukupi biaya hidup keluarga. Kalau saya kawin cepat, saya tidak berani menjamin pasangan saya bisa atau mau menopang seluruh hidup keluarga saya juga. Saya lebih memikirkan Ibu dan adik-adik saya ketimbang memuaskan Hasrat para handai taulan yang sering menanyakan kapan kawin.

Namun saya juga tidak bisa mengabaikan untuk tidak punya pasangan tempat saling mengisi hati, kenyataannya di usia matang ini, saya belum punya pasangan. Bagaimana punya pasangan jika hari-hari hanya saya lalui di tempat kerja dan di rumah saja, tapi zaman bicara lain. Zaman teknologi internet melalui gawai bisa membawa kita kemana saja hingga berkeliling dunia pun. Ke negara mana kau mau, tinggal pencet tombol saja, bisa membawamu tahu seluk beluk tentang negara itu. Termasuk bisa menemui orang-orang dari penjuru dunia, melalui media sosial. Di gawai saya hanya menginstal beberapa media sosial saja; facebook, twitter, whatsapp, skype, dan Instagram. Saya biasa hanya bermain-main di media sosial itu-itu saja, meski internet juga menyediakan fasilitas pencarian jodoh online, tapi saya tidak percaya diri untuk mengikuti biro jodoh semacam itu.

Namun suatu ketika ada yang menemukan saya di skype, seseorang mengirim saya pesan untuk perkenalan. Menggunakan Bahasa inggris, waaah takjubnya saya! Kemampuan bahasa inggris saya biasa saja, hanya waktu di sekolah itu saja, namun saya senang dengan beberapa artikel berbahasa inggris. Saya sering membaca artikel berbahasa inggris sembari dibantu google translate tentunya, tapi tidak apa, paling tidak menjaga saya untuk tidak terlalu asing dengan bahasa inggris, yang katanya bahasa internansional, dan akan sangat dibutuhkan di era revolusi industri 4.0 ini. Jadi, saya tidak kesulitan membaca pesan perkenalan seseorang di akun skype saya. Saya takjubnya karena, bagaimana dia menemukan saya dan apa yang membuat dia tertarik untuk berkenalan, dan tujuannya apa. Pertanyaan-pertanyaan itu yang telintas di pikiran saya saat itu. Tapi tidak apa nanti juga akan terjawab seiring perkenalan kami. Saya membalas pesannya dengan sopan dan baik, kemudian dia berbalas lagi dengan sopan dan baik juga, sehingga saya merasa nyaman berkomunikasi dengan dia. Seorang pria kulit putih dari benua eropa, Irlandia tepatnya, Dublin kotanya. Kebutulan juga keimanan religi kami adalah sama. Di Indonesia hal ini menjadi sebuah pertimbangan di setujui tidaknya oleh keluarga, masyarakat, juga hukum yang berlaku yang menikahkan pasangan hanya dalam satu agama yang sama.

Baca Juga : Tips Menulis Cerita Mini Ala Ayu Utami

 

Pelan namun pasti, kami jatuh cinta. Kerinduan untuk bertemu itu sangat luar biasa. Namun saya masih belum bisa bergerak kesana karena kondisi keuangan dan keluarga, pun sama kondisinya dia di sana. Saat ini kami hanya bisa menjalin cinta kasih secara online saja. Termasuk berkenalan dengan keluarga masing-masing. Komunikasi setiap hari, intensitas hubungan yang terjaga meski  berjarak dimudahkan dengan adanya fitur video call. Semakin hari, cinta itu semakin kuat, keyakinan dan kepercayaan bisa muncul meskipun adanya beda budaya. Pola-pola komunikasi cinta kasih itu sama di benua mana saja. Jarak yang jauh ini menjadi kuatnya jalinan rindu diantara kami. Meski setiap hari bertemu dan berkomunikasi, namun beda rasanya saat belum benar-benar meraihnya dalam genggaman yang nyata, yang teraba. Kami merajut mimpi yang sama. Saya adalah mimpi baginya. Dan dia adalah mimpi bagi saya. Dalam alunan doa, kami saling mendoakan tentang kami, untuk pertemuan kami yang nyata, Di samping membuat tabungan tersendiri untuk hubungan ini dan mewujudkan meraih mimpi, doa-doa kami adalah juga usaha terkuat,  karena kami yakin, Tuhan tidak tidur untuk menjaga cinta kasih hambanya. Yang entah kapan, saat waktunya tepat,  Dia pasti akan mempertemukan.

__________________________________________________________________

Profil penulis

Seorang ibu dengan 3 anak. Ibu rumah tangga yang mencari kesibukan sebagai seniman, pegiat literasi, sesekali juga menulis meski belum bisa dibilang penulis. Hidupnya nomaden, asal dari malang, namun sementara saat ini berdomisili di tarakan kalimantan utara, entah besok atau lusa akan pindah kemana.