Pegawai Kemenag Kabupaten Malang Positif di Swab Pertama, Tunggu Hasil Swab Kedua

Apr 27, 2020 22:40
Ilustrasi swab test yang dilakukan pada pasien untuk memastikan terpapar Covid-19 atau tidak. (Foto: Antara Foto)
Ilustrasi swab test yang dilakukan pada pasien untuk memastikan terpapar Covid-19 atau tidak. (Foto: Antara Foto)

MALANGTIMES - Adanya penambahan pasien positif Covid-19 di Kabupaten Malang dari klaster Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, dengan jumlah 2 kasus pada (23/4/2020). Membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang semakin kencang untuk merumuskan penerapan PSBB (pembatasan sosial berskala besar).

Baca Juga : Hanya Sehari, ODR di Kota Batu Bertambah 73 Orang, Terbanyak di Wilayah Junrejo 

Tambahan 2 kasus positif covid-19 menimpa pasien berdomisili di Kecamatan Klojen, Kota Malang.



Berdasarkan informasi dari Husnul Muarif, pasien dengan inisial MST yang merupakan salah satu pegawai di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Malang berjenis kelamin laki-laki dan berusia 50 tahun. Sedangkan satunya berjenis kelamin perempuan yang berusia 42 tahun.

Husnul juga mengatakan bahwa pada hari ini, Mst melakukan swab test di Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) dan masih menunggu hasilnya sekitar tujuh hingga sepuluh hari kedepan.

Terpisah saat dihubungi oleh media online ini melalui sambungan telepon seluler MST menjelaskan kondisi terkini dirinya dan keluarga yang dalam keadaan baik-baik saja dan juga telah menjalankan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah seusai dari perjalanan ke Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.

“Saya sejak dulu kan isolasi dirumah. Terus dari awal itu saya sebenarnya sudah isolasi di rumah, itu inisiatif saya sendiri. Karena dengar ada itu (penularan di Asrama Haji Sukolilo) kan anak saya ada yang jadi dokter udah isolasi diri aja, hati-hati gitu,” tegasnya.

MST sebelumnya telah menjalani beberapa serangkaian tes untuk mengetahui persebaran Covid-19 di dalam tubuhnya. Sempat menjalani rapid test dan swab test.

“Rapid test 1 kali hasilnya negatif. Tapi menurut petugasnya, kok agak kabur pak ya, meragukan. Swab aja pak, yaudah nggak papa. Dan itu inisiatif saya sendiri, saya mengajukan surat ke Dinkes,” ungkap pria tiga anak ini.

Terkait hasil dari swab test yang pertama, MST menuturkan bahwa dilakukan pada tanggal 13 dan diumumkan hasilnya pada tanggal (24/4/2020) melalui saluran telepon oleh petugas kesehatan kepada MST.

“Lah itu katanya positif. Cuma sampai sekarang saya nggak tahu buktinya. Ya lewat telpon (diumumkannya). Hanya lewat telpon saja, bapak positif. Oh ya sudah nggak papa, saya berarti harus (isolasi) kan begitu,” tuturnya.

Sebelumnya, MST beralasan berinisiatif melakukan isolasi mandiri di rumahnya, karena dirinya termasuk OTG (Orang Tanpa Gejala) dan beralasan jika di rawat di Rumah Sakit akan lebih menghabiskan biaya Negara. 

“Karena saya OTG (Orang Tanpa Gejala) ya nggak usah ke Rumah Sakit. Mlah menghabiskan biaya Negara nanti. Jadi isolasi saja di rumah,” ujarnya.

“Karena saya isolasi mandiri, kalau begini terus kapan aku berakhir gitu loh maksud saya. Saya ingin kepastian. Kalau semisal positif saya terus harus lebih intensif lagi isolasi, kalau negatif berarti saya akan mengakhiri kan gitu,” imbuhnya.

Saat menjalani isolasi mandiri dirumahnya, MST juga tetap memerhatikan protokol kesehatan dengan berjaga jarak dengan istri dan anak-anaknya yang berada dalam satu rumah tersebut. MST mengatakan, bahwa dirinya berada di kamar tersendiri.

“Ya dikamar gitu aja. Cuma kan saya hati-hati jaga jarak sama anak-anak sama istri. Jadi salaman itu mas, mulai pulang dari Surabaya sampai sekarang itu belum pernah saya salaman, tak hindari. Itu kan kemauan saya sendiri. Dengan istri dengan anak saja salaman saja nggak. Apalagi dengan orang lain,” jelasnya kepada pewarta.

Terkait anggota keluarganya, MST juga mengatakan bahwa telah menjalani pemeriksaan rapid test dan hasilnya negatif. “Loh yang ibu sama anak-anak semua di rapid test dari sabtu, negatif semua. Iya istri saya dan anak-anak. Dua anak sama istri,” pungkasnya.

MST juga menambahkan terkait kabar dirinya yang sempat menjadi Imam Salat di Masjid An-Nuur itu tidak benar dan mempersilahkan untuk mengecek daftar imam di Masjid An-Nuur pada takmir masjid.

“Ya di jadwal dilihat ada nggak nama saya. Wong namanya aja nggak ada saya disitu. Ya begitulah, puasa-puasa mengurangi dosa saya (terkait kabar tidak benar yang tersebar di media sosial),” tutupnya.

Topik
Malang Berita Malang Berita Hari Ini covid19 update covid19 di malang Pegawai Kemenag Kabupaten Malang Hasil Positif di Swab Pertama Pemkab Malang RSUD Kanjuruhan

Berita Lainnya

Berita

Terbaru