(dari kiri) Pelaku Sejarah Berdirinya Ma'had Al Aly UIN Malang KH Drs Chamzawi MAg dan Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Puput for MalangTIMES)
(dari kiri) Pelaku Sejarah Berdirinya Ma'had Al Aly UIN Malang KH Drs Chamzawi MAg dan Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg. (Foto: Puput for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tepat hari ini (Senin, 20 April 2020), Ma'had Sunan Ampel AI Aly (MSAA) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) menginjak usianya yang ke-19 tahun.

Baca Juga : UIN Malang Kejar Target Bangun Rumah Sakit, Ini yang Telah Disiapkan

Banyak hal yang sudah ditorehkan oleh MSAA dalam pengembangan kampus. Termasuk, menjadi percontohan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia dalam banyak hal. Termasuk dalam pengembangan nilai budaya.

Hal ini dibeberkan oleh Pelaku Sejarah Berdirinya Ma'had Al Aly UIN Malang
KH Drs Chamzawi MAg.

"Harus ada budaya-budaya di pondok pesantren. Ketika awal sempat terjadi tarik ulur karena ini lembaga ilmiah, bukan lembaga untuk budaya. Tapi Prof Imam (pendiri sekaligus rektor pertama UIN Malang) tetap ngotot supaya ada budaya-budaya yang dikembangkan di pondok pesantren. Akhirnya banyak diikuti oleh orang-orang atau lembaga-lembaga tinggi yang lain terutama di lingkungan Kementerian Agama," paparnya.

Kiai Chamzawi menjadi salah satu pembicara dalam diskusi dan berjemur dengan tema "HUT Ma'had Sunan Ampel al Aly UIN Maliki ke 19: Peran dan Tantangan dalam Menghadapi COVID-19", Senin (20/4/2020).

Kegiatan diskusi untuk memperingati HUT MSAA ini dilaksanakan di depan Rektorat UIN Malang dengan narasumber lain yaitu KH Dr Isroqun Najah MAg, KH Dr Imam Muslimin MAg, dan KH Dr Muzakki MAg.

Tak hanya itu, bahasa Arab juga menjadi hal yang dipandang sangat penting. Maka dari itu, di dalam kelas perguruan tinggi mahasiswa belajar bahasa Arab sebagai pengayaan. Lalu semakin dimantabkan dengan praktik di ma'had.

Baca Juga : Alumni Benarkan Adanya Desas-desus Pergantian WR III UMM

"Tugas kami adalah bagaimana kita menata adik-adik ketika di pondok itu bisa baik. Penguasaan bahasa Arabnya bagus, kemudian budayanya bagus, kemudian aktivitas aplikasi amaliah itu juga bagus," timpalnya.

Kiai pertama pengasuh Ma'had Sunan Ampel Al Aly ini menegaskan, motif didirikannya ma'had ini adalah agar alumni dari UIN Malang menjadi kiai sekaligus ilmuwan.

"Misalnya, ekonom tapi kiai. Intinya minimal dia menguasai ilmu agama yang luar biasa," tandasnya.

Sementara Rektor UIN Malang Prof Dr Abdul Haris MAg yang pada saat itu menjadi moderator menyimpulkan, intinya adalah ada integrasi antara perguruan tinggi dengan pesantren.

"Jadi integrasi antara perguruan tinggi dengan pesantren. Makanya saya lihat sekarang ini di visi kita itu, terwujudnya pendidikan tinggi integratif. Maksudnya adalah mengintegrasikan sistem tradisi perguruan tinggi dengan pesantren," pungkasnya.