Tahanan dari kesatuan Polres Malang yang ditahan di Lapas Lowokwaru dan berhak mendapatkan asimilasi (Foto : Istimewa)
Tahanan dari kesatuan Polres Malang yang ditahan di Lapas Lowokwaru dan berhak mendapatkan asimilasi (Foto : Istimewa)

MALANGTIMES - Ratusan narapidana yang berasal dari kesatuan wilayah hukum Polres Malang dibebaskan. Pembebasan para narapidana tersebut sesuai dengan instruksi pemerintah, sebagai upaya meminimalisir penyebaran rantai penularan virus Covid-19.

”Dari tanggal 1 sampai tanggal 9 April (2020), baru 420 orang (tahanan yang dibebaskan),” kata Kepala Lapas Kelas I Malang, Agung Krisna.

Baca Juga : Edarkan Sabu di Tengah Pandemi Covid-19, Pengedar Asal Malang Dicokok Polisi Blitar

Seperti yang sudah diberitakan, pembebasan para tahanan tersebut berdasar pada Keputusan Menteri Hukum dan HAM nomor M.HH-19.PK/01.04.04, tentang Pengeluaran dan Pembebasan Narapidana dan Anak Melalui Asimilasi dan Integrasi, dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Penyebaran Covid-19.

”Jadi napi non Peraturan Pemerintah (PP) 99 diberikan hak untuk mengikuti asimilasi, namun dengan syarat  telah menjalani minimal tiga bulan hukuman untuk anak sebelum tanggal 31 Desember 2020 dan untuk narapidana telah melaksanakan 1/2 dari masa pidana  hukumannya," jelas Agung.

Berdasarkan data yang diperoleh media online ini, ada 181 narapidana dari kesatuan wilayah hukum Polres Malang, yang dibebaskan karena memenuhi syarat asimilasi tersebut.

Rinciannya, dari 181 narapidana, 6 diantaranya berasal dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) perempuan kelas II A Malang. Sedangkan sisanya yakni sebanyak 175 narapidana, berasal dari Lapas Kelas I A Lowokwaru, Kota Malang.

Sebanyak 181 narapidana yang dibebaskan tersebut, berasal dari 18 kasus. Dimana 15 kasus diantaranya berasal dari tindak kejahatan yang ada dibawah naungan Reskrim Polres Malang.

Yakni kasus penipuan, perlindungan anak, pencabulan, pembunuhan, pencurian, kasus kehutanan, penganiayaan, penggelapan, penadah barang hasil curian, penculikan, perjudian, pemerasan atau pengancaman, keasusilaan, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), dan yang terakhir adalah kepemilikan sajam (senjata tajam), senpi (senjata api), dan handak (bahan peledak) secara ilegal.

Sedangkan dua kasus lainnya, berasal dari Reskoba Polres Malang dan Satlantas Polres Malang. Untuk yang ada dibawah naungan Reskoba adalah kasus narkotika dan obat-obatan yang tidak sesuai anjuran kesehatan, seperti misalnya kasus pil double L.

Terakhir, satu kasus yang ada dibawah naungan Satlantas Polres Malang adalah narapidana yang kedapatan melanggar undang-undang lalu lintas.

Ketika dikonfirmasi ke sumber resmi, Kepala Lapas Kelas I Malang, membenarkan data yang diperoleh media online ini. ”Iya,” ucap Agung singkat saat menjawab pertanyaan wartawan, terkait mayoritas tahanan yang dibebaskan dari wilayah hukum Polres Malang itu, mayoritas berasal dari Lapas dibawah naungannya.

Baca Juga : Di Tengah Pandemi Covid 19, Pelaku Curnamor Makin Liar, Sehari Dua Motor Digasak

Menurutnya, ratusan narapidana yang mendapatkan asimilasi tersebut sudah lolos dari persyaratan yang ditentukan. Diantaranya meliputi fotokopi kutipan putusan hakim dan berita acara pelaksanaan putusan pengadilan, bukti telah membayar lunas denda dan uang pengganti sesuai dengan putusan pengadilan atau melaksanakan subsider pengganti denda dijalankan di rumah dalam pengawasan oleh Kejaksaan dan Balai Pemasyarakatan, laporan perkembangan pembinaan yang ditandatangani oleh Kepala Lapas, salinan register F dari Kepala Lapas, hingga salinan daftar perubahan dari Kepala Lapas dan surat pernyataan dari Narapidana tidak akan melarikan diri dan tidak melakukan perbuatan melanggar hukum.

”Mengenai mekanisme dalam pengawasan asimilasi ini, berada di bawah naungan lingkungan Balai Pemasyarakatan (Bapas) dan dari Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat,” ujar Agung.

Sebagai informasi, dari 181 narapidana yang “dibebaskan” tersebut didominasi kasus pencurian. Yakni dengan 49 narapidana. Sedangkan diposisi kedua merupakan kasus perlindungan anak dengan 30 narapidana. Sedangkan diposisi ketiga, didominasi kasus narkotika dengan 23 narapidana. (lebih lengkapnya lihat grafis).

Dimana, untuk proses asimiliasi ke-181 tahanan dari kesatuan Polres Malang ini, mendapatkan kloter yang berbeda-beda. Yakni terhitung pada tanggal 1, 2, 3, 4, dan 6 April 2020.

Rinciannya, asimilasi pada 1 April ada 35 narapidana, 2 April terdapat 44 narapidana, 3 April 64 narapidana, kemudian 34 narapidana mendapatkan asimilasi pada tanggal 4 April, dan terakhir pada tanggal 6 April ada 4 narapidana.