Ilustrasi, net
Ilustrasi, net

MALANGTIMES - Tiga orang yang dirawat di RSUD dr Iskak Tulungagung dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP), meninggal dunia. Hal itu dibenarkan oleh Humas Rumah Sakit Dr Iskak, Muhammad Rifai, Rabu (01/04) saat dikonfirmasi melalui jaringan WhatsApp.

Tiga orang yang dimaksud menurut Rifai belum dinyatakan positif tepapar Covid-19, namun karena saat ini musim corona status ketiganya merupakan pasien dalam pengawasan (PDP).

Baca Juga : Sudah Diwajibkan, Pemerintah Kabupaten Malang Bakal Bagikan 120 Ribu Masker ke Masyarakat

"Jadi tiga orang yang meninggal itu datang dengan masalah respiratory (masalah pernapasan), kemudian kita waspada untuk penanganannya, karena saat ini sedang pandemi korona sehingga status mereka kita anggab Pasien Dalam Pengawasan atau PDP," kata Rifai.

Mereka yang telah meninggal itu teridiri dari dua warga Tulungagung dan 1 warga kediri.

"(Pasien) dari Kediri yang meninggal 3 hari lalu," terangnya.

Adanya isu jika ada dokter paru yang berstatus PDP, Rifai memberikan bantahan. Dirinya menegaskan, jika yang dimaksud adalah pasien dari Kediri yang meninggal dunia itu merupakan dokter umum dan tidak berdinas di rumah sakit milik Pemkab Tulungagung itu.

"Tidak ada, itu dokter umum bukan (dokter disini), usia 84 tahun," ungkapnya dengan tetap merahasiakan identitas yang dimaksud.

Sementara itu, 11 orang petugas dari Tulungagung yang mengikuti pelatihan TKHI (Tenaga Kesehatan Haji Indonesia) di Surabaya pada 9-18 Maret 2020 lalu sudah dilakukan rapid tes. Hasilnya, 1 di antaranya dinyatakan positif dan mengalami flu like syndrome sehingga harus dirawat di RSUD dr. Iskak dengan status PDP (pasien dalam penagwasan), sedang sisanya berstatus ODP (orang dalam pemantauan).

“Positif satu berdasar hasil rapid test (tes cepat),” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Bambang Triono, Rabu (1/4/20).

Baca Juga : Pasien Covid-19 di Jombang Seorang Dokter, Ada 80 Orang Berpotensi Tertular

Hasil rapid test hanya untuk mengetahui jika pasien tertular virus, namun hasil pasti apakah yang bersangkutan positif covid-19 harus dilihat dari hasil laboratorium swap tenggorokan yang dikirim ke Balitbangkes, Jakarta.

“Hasilnya kira-kira sekitar 1 minggu, bisa diketahui pasti positif atau negatif,” ujarnya.

TKHI yang menjadi PDP saat ini menjalani perawatan di ruang isolasi RSUD dr. Iskak, hingga dinyatakan sembuh dan hasil swap tenggorokanya negatif.

Saat pertama kali dirawat, PDP ini mengalami gejala klinis mirip flu, seperti batuk dan demam.

“Itu dari Kemenag atau IAIN saya tidak tahu persis, tapi yang jelas bukan petugas dari Dinas Kesehatan,” tutur pria ramah itu.