Foto ilustrasi. (istimewa)
Foto ilustrasi. (istimewa)

MALANGTIMES - Sebanyak 420 alat rapid test dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah sampai di Kota Malang. Jumlah tersebut terbilang cukup terbatas. Karena itu, rapid test di Kota Malang diprioritaskan untuk golongan tertentu.

Masyarakat sendiri tidak perlu bingung mengikuti rapid test atau tidak. Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Malang dr Christyaji Indradmojo SpEM menjelaskan, tidak semua orang menjalani rapid test.

Baca Juga : Pasien Covid-19 di Jombang Seorang Dokter, Ada 80 Orang Berpotensi Tertular

 

"Tes itu (rapid test) yang merekomendasikan, yang tahu, adalah dari tim medis. Masyarakat tidak usah bingung pingin rapid test dan sebagainya. Nanti justru akan menimbulkan kekacauan," kata dia kepada media ini.

Dia menjelaskan, rapid test atau tes-tes lainnya itu bukan menentukan seseorang sehat atau tidak. Namun, menentukan orang sakit yang perlu dirawat di rumah sakit atau rawat jalan.

"Jadi ketika Anda tes ketika hasilnya negatif itu bukan berarti Anda sehat, berarti Anda saat itu belum membutuhkan perawatan di rumah sakit," tegasnya.

Meski tidak menjalani rapid test, masyarakat harus tetap berupaya terbaik untuk meningkatkan kekebalan guna mencegah agar tidak jatuh dalam kondisi sakit yang berat.

"Kalau memang terindikasi untuk tes anda akan direkomendasikan, tapi kalau tidak ya sudah, berarti Anda sejauh ini aman," ucap Ketua Satgas Covid-19 UIN Malang tersebut.

Baca Juga : Ranking 5 Se-Jatim, Petugas Medis dan Dosen di Kabupaten Malang Ada yang Positif Covid-19

 

Nah, perkara kemudian besok terkena penyakit atau tidak, siapapun juga tidak bisa memastikan. dr Christyaji menekankan, yang bisa kita lakukan adalah usaha optimal menjaga kesehatan.

Pemkot sendiri memprioritaskan tiga sasaran untuk dilakukan rapid test Covid-19, yakni tenaga kesehatan, petugas pelacak atau tracing, dan orang dengan risiko (ODR).