Bupati Malang Sanusi keluarkan berbagai jurus lawan virus covid-19 di wilayahnya (dok MalangTimes)
Bupati Malang Sanusi keluarkan berbagai jurus lawan virus covid-19 di wilayahnya (dok MalangTimes)

MALANGTIMES - Virus Covid-19 terus berulah. Tak hanya korban jiwa tapi juga melumpuhkan sendi perekonomian masyarakat. Serta diikuti dengan adanya kepanikan dalam beli borong bahan sembako di pasar.

Hal itu pula yang membuat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang pun mulai mengeluarkan jurus-jurusnya melawan dampak Corona. Khususnya terkait persediaan bahan sembako di pasaran, baik secara jumlah maupun harga.

Baca Juga : Tangkal Covid, Pemkab Malang Sediakan Safe House di Seluruh Desa

Pasalnya, ulah Corona juga telah ikut serta menghilangkan sembako dan membuat harganya di atas normal di pasaran biasanya. Misalnya yang kini dihadapi Pemkab Malang terkait harga gula yang terbilang tinggi. Yakni, sekitar Rp 18 ribu per kilogramnya dari harga normal biasanya Rp 12 ribu perkilogramnya.

Operasi pasar pun digelar oleh Pemkab Malang. Tentunya, dengan pola penerapan yang tak menciptakan kerumunan. "Skema kita koordinasikan dengan Disperindag. Skema door to door bisa dilakukan. Dimana pembeli dikasih kupon dan ambilnya di kantor desa masing-masing. Jadi barang kita distribusikan lewat kepala desa," urai Bupati Malang Sanusi.

Terkait kelangkaan dan harga yang naik, bakal calon bupati Malang dari PDI Perjuangan ini mengatakan, estimasi kebutuhan gula di 33 kecamatan sekitar 66 ton untuk operasi pasar. Dengan kesiapan pabrik gula Kebonagung siap memenuhi sebanyak 40 ton, sisanya dimungkinkan dari Krebet. Dengan harga gula per kilogramnya Rp 12 ribu.

"Untuk operasi pasar gula kita treatment harga bisa kembali ke normal. Sedangkan dengan estimasi kebutuhan, per kecamatan bisa didistribusikan sekitar 2 ton," ujar Sanusi.

Langkah operasi pasar gula yang terus merangkak naik dan mulai sudah dicari, diikuti dengan kebijakan lainnya yang diambil Pemkab Malang. Yakni, menekan panic buying di masyarakat dengan kondisi saat ini.

Panic buying bahan-bahan pokok juga sempat terjadi di beberapa kota, dan tak berharap terjadi di Kabupaten Malang. Sehingga Pemkab Malang pun mengeluarkan kebijakan pembatasan jumlah pembelian beberapa bahan pokok, melalui surat edaran Bupati Malang nomor 440/2630/35.07.106/2020 tertanggal 29 Maret 2020. Dari surat itu, warga dibatasi saat melakukan pembelian beras tak melebihi 25 kilogram. 

Telur dibatasi 2 kilogram, gula maksimal 2 kilogram dan tepung terigu maksimal 2 kilogram. Lalu, minyak goreng maksimal 2 liter, mie instan maksimal 2 dus, serta susu bayi paling banyak 2 kemasan ukuran 400 gram.

Baca Juga : Sumbang Angka Positif Covid-19 Tertinggi, Gubernur Jatim Belum Ajukan PSBB

Kebijakan itu pun dalam upaya pencegahan terjadinya penimbunan bahan-bahan pokok pangan oleh oknum tak bertanggungjawab.
“Kita batasi itu sebagai upaya pencegahan penimbunan juga," ujar Sanusi.

Disinggung terkait opsi penutupan sementara bagi wilayah-wilayah yang diidentifikasi jadi zona merah atau rawan Corona. Sanusi berpandangan bahwa opsi itu  belum mendesak untuk diterapkan di wilayahnya. 

Walaupun, beberapa wilayah telah melakukan opsi yang mirip dengan lockdown kewilayahan. Tapi, lebih pada penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Seperti yang dilakukan di Villa Puncak Tidar di Kecamatan Dau, belum lama ini.

"Posko dan portal telah dibuat di beberapa perbatasan wilayah, tapi bukan lockdown penuh ya seperti di berbagai negara lain," tandasnya.